Temu Karya Taman Budaya Regional Kalimantan IV Tahun 2026 digelar di Samarinda, Kalimantan Timur, pada 12–15 Oktober 2026. Kegiatan bertema “Etam Rawat Tradisi untuk Jaga Nusantara” ini mempertemukan kontingen dari lima provinsi di Kalimantan untuk mempererat silaturahmi, memperluas jejaring kerja sama, dan mendorong pelestarian seni budaya antardaerah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur, Armin, menyebut kegiatan ini sebagai upaya mempertemukan potensi seni dan budaya dari berbagai daerah di Kalimantan.
Menurut dia, kegiatan ini juga menjadi ruang apresiasi dan pertukaran pengalaman bagi seniman, budayawan, komunitas seni, dan lembaga kebudayaan.
“Pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Lewat kegiatan ini, kami ingin seniman dan lembaga kebudayaan dari seluruh Kalimantan saling bertukar pengalaman dalam merawat tradisi daerah,” kata Armin.
Baca Juga Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Dinsos Kaltim Ajak Masyarakat Hapus Stigma terhadap Penyandang Disabilitas Mental
Armin menjelaskan, tema yang diusung menegaskan bahwa pelestarian budaya menjadi tanggung jawab bersama. Warisan tradisi perlu terus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda agar tetap hidup dan relevan.
“Tradisi yang diwariskan oleh para leluhur perlu terus dirawat, dikenalkan kepada generasi muda, serta dikembangkan agar dapat hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” demikian pesan yang tertulis dalam laporan pelaksanaan kegiatan.
Temu Karya diikuti kontingen dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur. Kegiatan ini juga melibatkan UPT Taman Budaya Sendawar di Kabupaten Kutai Barat.
Kehadiran para peserta diharapkan memperkuat komunikasi dan jejaring antartaman budaya, sekaligus membuka peluang kolaborasi pengembangan seni dan budaya di Kalimantan.
Baca Juga Pemprov Kaltim Koordinasikan Persiapan Penganugerahan Indeks Kualitas Kebijakan 2026
Rangkaian acara
Panitia menyiapkan sejumlah kegiatan:
- Parade budaya, menampilkan identitas dan kekayaan budaya tiap daerah lewat busana, kesenian, tradisi, dan ekspresi budaya lain.
- Pentas seni budaya kontingen se-Kalimantan, sebagai ruang bagi seniman memperkenalkan karya dan potensi daerahnya kepada masyarakat. Rangkaian ini dilengkapi pentas seni dari 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur.
- Permainan tradisional, untuk memperkenalkan kembali warisan permainan daerah, khususnya kepada generasi muda. Menurut panitia, permainan tradisional mengandung nilai kebersamaan, kreativitas, sportivitas, dan kearifan lokal.
- Bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang memberi kesempatan pelaku usaha memasarkan produk lokal, mulai dari kuliner dan kerajinan hingga produk kreatif.
“Kegiatan ini bukan hanya pertunjukan. Kami juga membuka ruang bagi pelaku UMKM agar produk lokalnya dikenal, sehingga sektor kebudayaan dan ekonomi kreatif bisa berjalan bersama,” ujar Armin.
Panitia berharap kegiatan ini meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya daerah, memperkuat silaturahmi antarseniman dan pelaku budaya, serta mendorong pertukaran pengetahuan dan kerja sama antartaman budaya.
Kegiatan ini juga diharapkan memperluas ruang bagi generasi muda untuk mengenal budaya daerah, menjaga keberlangsungan tradisi dan permainan tradisional, serta mempromosikan potensi seni budaya Kalimantan.
Dari sisi ekonomi, keterlibatan pelaku UMKM diharapkan membuka peluang pemasaran produk lokal dan kolaborasi berkelanjutan antara sektor kebudayaan dan ekonomi kreatif.
Panitia berharap pelestarian budaya tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi menjadi gerakan bersama menjaga warisan leluhur dan mempererat persaudaraan antarmasyarakat di Kalimantan.
(Dayank Ana)