Sab, 04/07/26 · 13.54.15
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Ekonomi

Pemadaman Listrik Bergilir di Kalimantan Imbas Utang PLN 70 Triliun ke Supplier Batu Bara?

Memei
Memei
Sabtu, 4 Juli 2026 · 18:583 menit baca
Pemadaman Listrik Bergilir di Kalimantan Imbas Utang PLN 70 Triliun ke Supplier Batu Bara?
Kapal tongkang pengangkut komoditas hulu bersandar di perairan Kalimantan pada malam hari. Distribusi energi primer kini dibayangi ancaman penundaan pengiriman akibat menumpuknya utang usaha PLN ke pihak ketiga. (Foto: Dok. Memei/Nusantara Post)

Gelombang pemadaman listrik bergilir yang melanda wilayah Kalimantan sepanjang pekan ini menyingkap kerapuhan sistemik pada infrastruktur kelistrikan regional dan nasional. Di saat manajemen lokal menyatakan gangguan bersifat teknis mekanis, para analis menilai krisis operasional ini tidak dapat dilepaskan dari persoalan tata kelola energi nasional.

Kondisi tersebut kian krusial mengingat induk usaha, PT PLN (Persero), tengah dibelit utang usaha kepada pemasok energi dan vendor yang menembus Rp70,94 triliun secara nasional.

Manajer Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Barat, Mukhlis Zarkasih, mengonfirmasi bahwa pemadaman dipicu oleh kebocoran komponen boiler pada salah satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas besar sejak Jumat (3/7/2026).

Kerusakan ini memangkas kemampuan pasok daya sistem kelistrikan regional dan memaksa pemberlakuan pemadaman hingga enam jam per sesi di Kota Pontianak serta Kabupaten Kubu Raya.

Otorita IKN Bongkar Jaringan Tambang Batu Bara Ilegal di Tahura Bukit Soeharto
Baca Juga

Otorita IKN Bongkar Jaringan Tambang Batu Bara Ilegal di Tahura Bukit Soeharto

“Proses perbaikan teknis diperkirakan memerlukan waktu sekitar satu minggu. Kami menegaskan gangguan ini murni masalah teknis infrastruktur dan tidak berkaitan dengan ketersediaan stok energi primer atau batu bara yang saat ini aman,” ujar Mukhlis melalui keterangan tertulis di Pontianak, Sabtu (4/7/2026).

Meski PLN daerah menyatakan pasokan aman, para ekonom melihat pemadaman berulang di Kalimantan mencerminkan ketimpangan investasi infrastruktur kelistrikan regional yang berjalan beriringan dengan krisis kas korporasi.

Ekonom Universitas Palangka Raya (UPR), Suherman, menyoroti fakta bahwa Kalimantan menghasilkan 687 juta ton batu bara atau setara 82% total produksi nasional, tetapi masyarakatnya justru paling sering mengalami pemadaman bergilir.

Suherman menilai alokasi anggaran ketahanan energi nasional 2026 sebesar Rp402,4 triliun belum terserap optimal untuk memperkuat keandalan sistem distribusi dan cadangan daya di daerah penghasil.

Perguruan Tinggi Se-Kalimantan Berkumpul di IKN, Otorita Tegaskan Kurikulum Biasa Tidak Cukup
Baca Juga

Perguruan Tinggi Se-Kalimantan Berkumpul di IKN, Otorita Tegaskan Kurikulum Biasa Tidak Cukup

“Ini adalah ironi besar. Kalimantan adalah tulang punggung energi nasional, tetapi masyarakatnya masih akrab dengan kegelapan akibat jaringan transmisi yang rapuh dan minimnya pembangkit cadangan,” kata Suherman.

Ketidakandalan sistem kelistrikan di daerah diduga kuat berkelindan erat dengan kontraksi likuiditas akut yang dihadapi PLN di tingkat pusat. Laporan keuangan konsolidasian menunjukkan arus kas operasi PLN anjlok dari Rp75,35 triliun menjadi tinggal Rp9,91 triliun akibat menumpuknya piutang kompensasi pemerintah senilai Rp110,74 triliun yang belum cair.

Head of Industrial and Transport Decarbonization INDEF Green Transition Institute, Andry Satrio Nugroho, menjelaskan bahwa jika negara membayar kompensasi penuh, kas operasi PLN akan berada di kisaran Rp57 triliun sampai Rp63 triliun.

“Ketika kas mengetat, PLN mulai memperpanjang tempo pembayaran ke pemasok melalui perantaraan bank. Jadi tekanan kas PLN tidak hanya muncul dalam bentuk utang bank, tetapi juga menjalar ke pola pembayaran kepada pemasok energinya sendiri,” jelas Andry.

Namun, minimnya kas tunai memaksa PLN menahan pembayaran ke mitra kerja dan beralih ke pinjaman bank jangka pendek senilai Rp58,29 triliun.

Kondisi utang usaha yang menggantung hingga Rp70,94 triliun ini diduga kuat menjadi pemicu utama aksi mogok terselubung oleh para vendor pertambangan yang memilih menahan suplai pengiriman batu bara ke berbagai unit PLTU nasional.

Pasokan Daya Menurun, Pemadaman Listrik Bergilir Hantam Wilayah Kalsel, Kalteng, hingga Kaltim
Baca Juga

Pasokan Daya Menurun, Pemadaman Listrik Bergilir Hantam Wilayah Kalsel, Kalteng, hingga Kaltim

Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky, menambahkan bahwa jurang harga yang lebar antara tarif Domestic Market Obligation (DMO) senilai $70 per ton dan Harga Batubara Acuan (HBA) internasional yang berkisar hingga $121,53 per ton memperparah keengganan produsen.

“Faktor pelemahan kurs rupiah memberikan hantaman keras pada arus kas PLN karena operasional pembayaran batu bara menggunakan standar dolar. Ketika komitmen pembayaran dari PLN melambat akibat tekanan kas ini, timbul keengganan masif dari produsen untuk mengirimkan pasokan,” tegas Awalil Rizky (17/6).

Ditambah pelemahan kurs rupiah yang menekan biaya operasional berbasis dolar, para vendor enggan terus merugi akibat skema harga murah yang pembayarannya justru digantung oleh manajemen PLN.

Ketersediaan daya yang kritis di hulu pada akhirnya memicu kerentanan sistemik pada jaringan distribusi. Ketika satu unit pembangkit mengalami gangguan teknis seperti di Kalimantan, sistem kelistrikan regional langsung kolaps akibat ketiadaan cadangan daya (reserve margin) yang memadai untuk menopang beban transmisi.

(Memei)