Perubahan lanskap Kalimantan kini cenderung didominasi perkebunan kelapa sawit yang dikenal luas sebagai bahan baku minyak goreng. Kerap dianggap pohon karena tajuk daunnya yang rimbun, sawit sejatinya merupakan tanaman dari famili palma (Arecaceae). Sementara itu, pedalaman Pulau Borneo sesungguhnya memiliki pohon hutan endemik sejati penghasil minyak bernilai tinggi, yakni tengkawang (Shorea spp.). Di tengah kepungan monokultur palma, vegetasi raksasa dari famili Dipterocarpaceae ini menyimpan potensi luar biasa, baik dari kekuatan kayunya hingga harga minyak buahnya yang jauh lebih bernilai di pasar global.
Mengenal pohon tengkawang membuka wawasan tentang kekayaan botani lokal yang memadukan fungsi ekologis dan nilai ekonomi tinggi:
Karakteristik Kayu Meranti yang Kokoh
Secara taksonomi kehutanan, pohon tengkawang tergolong dalam rumpun meranti merah. Batangnya mampu menjulang hingga 50 meter dengan lingkar diameter batang yang masif, menghasilkan kayu berkerapatan tinggi yang tahan cuaca dan serangan rayap. Dalam arsitektur tradisional masyarakat pedalaman, kayu tengkawang menjadi andalan tiang penyangga rumah panggung, lantai papan, kusen, perahu lesung, hingga bantalan jembatan.




