Sab, 18/07/26 · 02.49.56
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Arsitek Inggris Neil Thomas Tantang Mahasiswa Untan Riset Integrasi Struktur Bambu

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Jumat, 8 Mei 2026 · 17:282 menit baca
Arsitek Inggris Neil Thomas Tantang Mahasiswa Untan Riset Integrasi Struktur Bambu
Neil Thomas berikan tantangan terbuka bagi mahasiswa UNTAN untuk pecahkan riset integrasi bambu dengan beton. Simak peluang kolaborasi riset global ini. (Dok. Ary Kusuma/Nusantara Post)

Sebuah tantangan riset terbuka muncul dari Neil Thomas, seorang arsitek terkemuka asal Inggris, saat mengisi kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan), Rabu (7/5/2026). Di hadapan mahasiswa Teknik Sipil, Arsitektur, dan Kehutanan, ia mengakui adanya batas pengetahuan dalam teknologi bambu yang justru harus dipecahkan oleh generasi muda.

Momen tersebut terjadi saat seorang mahasiswa Teknik Sipil, Febrianus Juan, melontarkan pertanyaan mengenai cara mengintegrasikan struktur bambu dengan beton atau baja. Neil Thomas, yang merupakan pendiri firma Atelier One dan pemegang anugerah Royal Designer for Industry, memberikan jawaban yang tidak terduga.

“Saya tidak tahu jawabannya. Tetapi jika Anda menemukannya, hubungi saya, dan kami akan mempekerjakan Anda. Ketika Anda memecahkannya, itulah masalah besar yang akan mengubah industri ini,” ujar Neil Thomas yang disambut tepuk tangan riuh para hadirin.

Neil Thomas, yang pernah menerima penghargaan MBE dari Kerajaan Inggris atas jasanya di bidang desain dan teknik, dikenal melalui rekayasa struktur pada tur musik band legendaris seperti U2 hingga upacara Olimpiade London 2012. Selama dua belas tahun terakhir, ia fokus mengembangkan bambu sebagai material konstruksi masa depan yang ramah lingkungan.

Revolusi Bambu: Neil Thomas Sebut Bambu Sebagai Tulang Punggung Konstruksi Masa Depan
Baca Juga

Revolusi Bambu: Neil Thomas Sebut Bambu Sebagai Tulang Punggung Konstruksi Masa Depan

Melalui perusahaannya, Node, ia telah mengembangkan sistem sambungan modular yang mampu meningkatkan kapasitas kekuatan struktur bambu hingga sepuluh kali lipat. Namun, ia tetap menekankan pentingnya kerendahan hati intelektual dalam mempelajari material alam ini.

“Saya dua belas tahun bekerja dengan bambu, dan saya masih pemula,” ungkapnya saat menjelaskan kerumitan menentukan masa panen bambu yang ideal di hutan.

Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Kehutanan, Farah Diba, menyambut baik ajakan kolaborasi tersebut. Ia menawarkan sinergi antara pakar lokal dan hasil riset yang dimiliki UNTAN untuk membangun pusat data daring mengenai bambu Indonesia.

PT Kencana Maju Bersama Jajaki Kerja Sama dengan FORMAJAKON Kalimantan Barat
Baca Juga

PT Kencana Maju Bersama Jajaki Kerja Sama dengan FORMAJAKON Kalimantan Barat

“Kami punya pakar identifikasi bambu, Ibu Elizabeth Wijaya, dan koleksi riset lokal. Akan sangat menarik jika kita bisa membangun repositori daring tentang bambu Indonesia,” ujarnya.

Neil Thomas sendiri menyatakan keinginannya agar data riset global mengenai bambu dapat diakses secara gratis oleh semua pihak.

“Kami ingin semua orang bisa mengakses pengetahuan ini secara gratis. Itu bukan milik saya, bukan milik siapa pun,” kata Neil Thomas merujuk pada data riset seumur hidup yang disimpan dalam stik USB dan siap dibagikan.

Selain urusan teknik, kuliah umum ini juga memaparkan peran strategis bambu dalam menghadapi krisis iklim. Di tengah industri bangunan yang menyumbang 40 persen emisi gas rumah kaca global, bambu hadir sebagai solusi karena mampu menyerap 37,5 ton karbon per hektar setiap tahunnya.

Acara yang dipandu oleh moderator Sari Delviana Marbun ini menegaskan bahwa revolusi bambu bukan hanya soal material bangunan, tetapi juga tentang ekonomi pedesaan dan keberlanjutan lingkungan.

“Revolusi bambu mendorong transformasi inovatif hasil hutan bukan kayu menjadi material struktural maju. Ini tentang ekonomi pedesaan, kredit karbon, dan SDGs,” ungkapnya.

(Dayank Ana)