Sab, 18/07/26 · 03.58.10
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Revolusi Bambu: Neil Thomas Sebut Bambu Sebagai Tulang Punggung Konstruksi Masa Depan

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Jumat, 8 Mei 2026 · 16:342 menit baca
Revolusi Bambu: Neil Thomas Sebut Bambu Sebagai Tulang Punggung Konstruksi Masa Depan
Revolusi Bambu, Neil Thomas UNTAN, Konstruksi Bambu Modern, Arsitektur Berkelanjutan, Material Bangunan Ramah Lingkungan. (Dok. Ary Kusuma/Nusantara Post)

Selembar kertas biasa dilipat menjadi tabung, dan seketika berubah menjadi struktur yang kokoh. Peragaan sederhana dari Neil Thomas, seorang arsitek terkemuka asal Inggris, mengawali kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) baru-baru ini. Ia menekankan bahwa bambu bukan sekadar material masa lalu, melainkan masa depan konstruksi dunia.

“Dalam masa hidup saya, bambu akan menjadi bagian dari palet material normal yang akan digunakan dalam industri bangunan,” kata Neil Thomas dalam acara RAMIN Series 54 bertajuk Bamboo Revolution, Rabu (7/5/2026).

Pernyataan tersebut didukung oleh data dan proyek inovatif di berbagai negara, mulai dari gedung sekolah di Bali, stasiun bus di Uganda, hingga bangunan tujuh lantai sepenuhnya dari bambu rekayasa di Cina. Neil Thomas, yang juga direktur Atelier One, menyoroti fakta bahwa industri bangunan menyumbang 40 persen emisi gas rumah kaca global karena penggunaan baja dan beton yang masif.

Sebaliknya, bambu justru menyerap karbon dioksida. Menurutnya, dengan 400 rumpun per hektar, bambu dapat menyerap 37,5 ton karbon per tahun dan melepaskan 100 ton oksigen. Dari sisi efisiensi pertumbuhan, bambu hanya membutuhkan tiga hingga empat tahun untuk siap panen, jauh lebih cepat dibandingkan kayu yang membutuhkan 20 hingga 50 tahun.

Arsitek Inggris Neil Thomas Tantang Mahasiswa Untan Riset Integrasi Struktur Bambu
Baca Juga

Arsitek Inggris Neil Thomas Tantang Mahasiswa Untan Riset Integrasi Struktur Bambu

Dekan Fakultas Kehutanan, Farah Diba, sempat mempertanyakan ketahanan bambu terhadap serangga di iklim tropis. Neil Thomas menjelaskan bahwa metode preservasi seperti perendaman boraks tetap relevan, namun riset terus berkembang.

“Begitu dipanen, bambu harus segera dirawat. Jika tidak, ia akan dimakan serangga dengan cepat,” jelasnya.

Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah sistem konektor modular yang dikembangkan perusahaan Node, di mana Neil Thomas menjadi salah satu pemiliknya. Teknologi ini mampu meningkatkan kapasitas kekuatan bambu hingga sepuluh kali lipat dari 3 kN menjadi 30 kN hanya dengan menambahkan ring luar tanpa material tambahan yang rumit.

PT Kencana Maju Bersama Jajaki Kerja Sama dengan FORMAJAKON Kalimantan Barat
Baca Juga

PT Kencana Maju Bersama Jajaki Kerja Sama dengan FORMAJAKON Kalimantan Barat

Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa teknik sipil, Febrianus Juan, bertanya mengenai cara mengintegrasikan bambu dengan beton atau baja. Neil Thomas justru memberikan tantangan balik kepada para mahasiswa.

“Saya tidak tahu jawabannya. Tetapi jika Anda menemukannya, hubungi saya, dan kami akan mempekerjakan Anda. Itu masalah besar. Dan ketika Anda memecahkannya, Anda akan mengubah industri ini,” ujarnya yang disambut tepuk tangan peserta.

Selain konstruksi, Neil Thomas juga membahas peran bambu dalam pemulihan lahan terkontaminasi atau fitoremediasi. Ia mencontohkan proyek di Milan, Italia, yang menggunakan bambu untuk memulihkan tanah bekas pabrik baja yang telah tercemar selama 30 tahun.

“Bambu juga berperan dalam fitoremediasi atau pemulihan lahan terkontaminasi. Contohnya di bekas pabrik baja di Milan, Italia, bambu digunakan untuk memulihkan tanah yang telah tercemar selama 30 tahun,” ujar Neil Thomas.

Bagi generasi muda di Pontianak, pesan Neil Thomas menegaskan bahwa revolusi bambu bukan lagi utopia, melainkan transformasi nyata dari tanaman hutan menjadi tulang punggung kota masa depan.

“Revolusi bambu bukan lagi sekadar utopia bagi anak muda di Pontianak, melainkan sebuah transformasi nyata tanaman hutan menjadi tulang punggung kota masa depan,” pesannya.

(Dayank Ana)