Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa residu pengolahan bauksit atau red mud di Kalimantan Barat (Kalbar) menyimpan potensi besar skandium atau logam tanah jarang. Logam kritis yang masuk dalam kelompok Logam Tanah Jarang (LTJ) ini kini menjadi incaran pasar internasional seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku industri pertahanan, kedirgantaraan, dan kendaraan listrik.
Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa material yang selama bertahun-tahun dikategorikan sebagai limbah industri tersebut sebenarnya memiliki keterikatan erat dengan aktivitas pemurnian alumina di Kalbar.
Nilai Strategis dan Relevansi Geopolitik Global
Meskipun keberadaannya di kerak bumi tidak lebih langka dibandingkan emas, skandium hampir selalu ditemukan dalam kadar rendah. Hal ini membuat proses ekstraksi dan pemurniannya memerlukan teknologi khusus dengan biaya operasional yang tinggi. Akibatnya, pasokan skandium global hingga kini masih sangat terbatas di tengah lonjakan permintaan industri berteknologi tinggi.
Karakteristik skandium yang mampu menghasilkan material ringan, kuat, tahan korosi, dan stabil pada suhu ekstrem membuatnya sangat diminati. Departemen Pertahanan Amerika Serikat bahkan dilaporkan mendukung pengembangan paduan aluminium-skandium untuk kebutuhan militer strategis, termasuk manufaktur pesawat tempur modern.
Meteor Melintas di Jawa, Picu Dentuman di Cirebon-Kuningan
Sebagai salah satu produsen bauksit terbesar di Indonesia, Kalbar menghasilkan volume residu pengolahan yang melimpah. Pemanfaatan limbah ini menjadi bernilai ekonomi tinggi sebelumnya telah dibuktikan oleh korporasi tambang global Rio Tinto di Kanada, yang berhasil mengekstraksi skandium oksida dari limbah industri titanium tanpa membuka lahan tambang baru.
Tantangan Eksplorasi dan Keterbatasan Teknologi Dalam Negeri
Kendati memiliki potensi komersial yang menjanjikan, hilirisasi logam tanah jarang di Indonesia masih membentur kendala serius di sektor hulu dan teknologi. Data BRIN menunjukkan bahwa Indonesia mengantongi sumber daya bijih LTJ sekitar 136,3 juta ton. Namun, sekitar 95 persen dari total volume tersebut masih berstatus sumber daya tereka yang akurasinya belum pasti.
Selain keterbatasan data cadangan riil, Indonesia juga dinilai masih minim dalam penguasaan teknologi pemrosesan serta ketersediaan sumber daya manusia yang ahli di bidang mineral kritis.
“Penguasaan teknologi pemrosesan mineral itu penting, tetapi yang lebih mendasar adalah memastikan ketersediaan bahan baku. Perlu percepatan eksplorasi dan pengembangan teknologi yang berkesesuaian dengan karakteristik keterdapatan bahan baku di alam Indonesia,” ujar Iwan.
Di Balik Pembangunan IKN, Mangrove Langka Penopang Hidup Bekantan Terancam Punah
