Sab, 18/07/26 · 02.50.15
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Lingkungan

Di Balik Pembangunan IKN, Mangrove Langka Penopang Hidup Bekantan Terancam Punah

Editor
Editor
Senin, 1 Juni 2026 · 15:202 menit baca
Di Balik Pembangunan IKN, Mangrove Langka Penopang Hidup Bekantan Terancam Punah
Bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Kalimantan yang dilindungi, diduga memiliki hubungan ekologis dengan mangrove langka Camptostemon philippinensis yang ditemukan tim BRIN-UGM di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. (Dok. BRIN)

Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Universitas Gadjah Mada menemukan populasi mangrove langka Camptostemon philippinensis di kawasan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur.

Spesies yang masuk kategori terancam punah dalam daftar merah IUCN ini ditemukan di pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara wilayah yang berdekatan langsung dengan kawasan pembangunan Ibu Kota Nusantara.

Penemuan ini menjadi perhatian serius karena habitat spesies tersebut kini menghadapi ancaman dari berbagai tekanan, termasuk pembangunan IKN.

Tim peneliti menyusuri sekitar 200 kilometer kawasan mangrove Teluk Balikpapan menggunakan perahu, mulai dari Sepaku hingga pesisir Kota Balikpapan. Dalam survei awal, satu pohon ditemukan di Pulau Kowangan sebelum beberapa individu lain ditemukan di Pantai Lango.

DPR Usulkan Kegiatan Fun Run Berkala untuk Hidupkan Sports Tourism di IKN
Baca Juga

DPR Usulkan Kegiatan Fun Run Berkala untuk Hidupkan Sports Tourism di IKN

Penelusuran lanjutan menghasilkan data sekitar 527 individu C. philippinensis di kawasan Pantai Lango didominasi 452 semaian atau anakan muda, diikuti 49 pohon dewasa dan 26 pancang.

Daun-buah-Camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-Teluk-Balikpapan
Tampilan daun dan buah mangrove langka Camptostemon philippinensis yang ditemukan tim BRIN dan UGM di kawasan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Foto: BRIN

Data ini mengindikasikan kemampuan regenerasi alami yang masih cukup baik, meski keberadaannya terbatas pada habitat yang sempit.

Penelitian ini didanai BRIN dan LPDP melalui skema Pendanaan Ekspedisi dan Eksplorasi pada 2022 serta RIIM batch II pada 2023–2024.

Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah indikasi hubungan ekologis antara mangrove langka ini dengan bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Kalimantan yang dilindungi.

Dampak IKN, Ekonomi Penajam Paser Utara Melesat 19,9 Persen
Baca Juga

Dampak IKN, Ekonomi Penajam Paser Utara Melesat 19,9 Persen

Tim menemukan bekas gigitan primata pada daun C. philippinensis, sementara nelayan setempat yang mendampingi tim melaporkan keberadaan kelompok bekantan di sekitar habitat mangrove tersebut.

Peneliti di Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Istiana Prihatini, menegaskan bahwa kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat tinggi dan membutuhkan perhatian serius dalam upaya konservasi.

“Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).

Populasi ini menghadapi ancaman berlapis: alih fungsi lahan mangrove, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, hingga pembangunan IKN.

Habitat spesies ini berada di area yang relatif sempit dan dekat dengan permukiman penduduk, sehingga kerusakan kecil sekalipun dapat memicu kepunahan lokal.

“Habitat C. philippinensis sangat terbatas. Jika terjadi kerusakan habitat, risiko kepunahan lokal spesies ini akan semakin besar,” kata Istiana.

Menkeu Purbaya Coret IKN dari Daftar Kandidat Pusat Finansial: “Terlalu Sepi”
Baca Juga

Menkeu Purbaya Coret IKN dari Daftar Kandidat Pusat Finansial: “Terlalu Sepi”

Tim peneliti merekomendasikan sejumlah langkah konservasi mendesak: perlindungan habitat alami, restorasi kawasan mangrove yang rusak, penyimpanan material genetik, serta pengembangan konservasi ex-situ melalui perbanyakan tanaman.

Penelitian lanjutan mengenai keragaman genetik dan peran ekologis spesies ini juga dinilai penting untuk mendukung strategi konservasi jangka panjang.

(Arif)