Rangkaian Kongres Nasional Sylva Indonesia diisi dengan pemutaran dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Aula Meranti Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Selasa (19/5/2026) malam. Agenda ini menjadi wadah bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk membedah isu lingkungan serta energi di Indonesia.
Antusiasme begitu terasa saat aula Meranti dipenuhi orang-orang yang menanti untuk mengajukan pertanyaan, tak hanya keanggotaan Sylva Indonesia yang hadir namun pesta kali ini terbuka untuk umum sehingga tak sedikit mahasiswa dan masyarakat turut serta menyaksikan.

Sekretaris Jenderal Sylva Indonesia, Wahyu Agung, menyatakan bahwa inisiatif nonton bareng ini dilakukan sebagai respons atas ramainya pembahasan film tersebut serta pentingnya pemahaman isu lingkungan bagi rimbawan.
Audiensi dengan Pertamina, Bupati Ketapang Fokuskan Pemenuhan BBM untuk Sektor Perikanan dan Kawasan 3T
“Sebenarnya ini dadakan baru terpikirkan empat hari lalu, karena kalau berbicara tentang kehutanan tidak lengkap rasanya kalau tidak memahami isu lingkungan. Kebetulan juga film dokumenter Pesta Babi lagi ramai, jadi biar sekalian saja saat teman-teman Sylva berkumpul,” ujar Wahyu.
Hadir sebagai pemateri, jurnalis senior Farid Gaban yang juga terlibat dalam tim penulis buku Reset Indonesia dan Ekspedisi Indonesia Baru. Dalam diskusi tersebut, Farid menjelaskan bahwa karya dokumenter ini merupakan bagian dari proyek riset yang mendalam mengenai kondisi sosial-ekologi Indonesia.

“Terkait buku Reset Indonesia merupakan karya yang lahir dan terhubung dengan dokumenter yang ada oleh tim Ekspedisi Indonesia Baru,” jelas Farid Gaban.
Dukung Swasembada, Kejati Kalbar Hadiri Panen Raya Ketahanan Pangan di Kubu Raya
Selain membahas film, diskusi berkembang ke isu rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pantai Gosong, Kalimantan Barat. Berkaca pada tragedi PLTN Fukushima Daiichi tahun 2011, Farid memberikan pandangannya mengenai ambisi pemenuhan energi di Kalimantan melalui nuklir.
“Sebenarnya banyak sumber pembangkit listrik, tapi menurut saya sebaiknya tidak untuk PLTN, jadikan saja itu pilihan terakhir di Kalimantan,” tegasnya menjawab pertanyaan moderator.
(Dayank Ana Sebalu)
