Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) pada triwulan II tahun 2026 melesat hingga 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Capaian ini menempatkan Kalbar sebagai provinsi dengan laju pertumbuhan ekonomi tertinggi di seluruh kawasan Pulau Kalimantan, disokong oleh anomali melonjaknya konsumsi listrik akibat tren penggunaan mobil listrik (electric vehicle) serta gelontoran bantuan sosial pemerintah, Jumat (7/8/26).
Capaian ekonomi sebesar 5,61 persen tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada angka 5,29 persen. Meski angka ini melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang sempat menyentuh 6,14 persen, BPS menegaskan hal tersebut bukan bentuk kemerosotan ekonomi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat, Much Saichudin, menjelaskan bahwa perlambatan tersebut murni disebabkan oleh efek basis perbandingan (base effect) dari tingginya lonjakan proyek pemerintah pada awal tahun.
“Ini bukan turun, istilahnya melambat. Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen ini masih positif dan termasuk tinggi untuk Kalimantan Barat,” tegas Saichudin.
Tren Mobil Listrik Dongkrak Sektor Energi
Pendorong utama pertumbuhan ekonomi Kalbar triwulan ini berasal dari sektor pengadaan listrik dan gas. BPS mencatat produksi listrik PLN di Kalbar mengalami lonjakan pesat hingga berkisar 20 persen.
Saichudin menyoroti bahwa kenaikan drastis konsumsi listrik rumah tangga ini dipicu oleh mulai masifnya adopsi mobil listrik oleh masyarakat perkotaan di Kalbar.
“Salah satunya dipicu oleh mobil listrik yang sudah mulai banyak di Kalimantan Barat. Mobil listrik itu harus menyediakan daya minimal 5.000 watt. Itu berarti sama dengan konsumsi enam rumah tangga biasa yang masing-masing menggunakan daya 900 watt,” jelasnya.
Selain pengadaan energi, pertumbuhan ekonomi juga disokong oleh sektor akomodasi serta makanan dan minuman yang tumbuh 11,11 persen seiring meningkatnya tingkat hunian hotel dan kunjungan wisatawan.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah mencatatkan lonjakan signifikan hingga 37 persen berkat realisasi berbagai program bantuan sosial.
Secara struktur, sektor pertanian dan perkebunan masih mendominasi PDRB Kalbar dengan porsi 20,96 persen. Sementara sektor industri pengolahan memberi andil pertumbuhan 1,36 persen, didorong oleh aktivitas pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) smelter bauksit menjadi alumina di Ketapang dan Mempawah.
Meski laju pertumbuhannya mengungguli provinsi lain seperti Kalimantan Selatan (5,28 persen), pangsa pasar dan perputaran ekonomi terbesar di Pulau Kalimantan masih dipegang oleh Kalimantan Timur sebesar 46,70 persen, diikuti Kalbar di posisi kedua dengan kontribusi 17,06 persen.
Sensus BPS Terhalang Benteng Perumahan Elite
Di balik catatan positif indikator makroekonomi tersebut, BPS Kalbar kini harus berjuang keras merampungkan pendataan Sensus Ekonomi yang progresnya baru mencapai 68,62 persen. Setelah pendataan di kawasan perdesaan selesai, BPS mulai menyisir wilayah perkotaan.
Namun, proses pendataan di daerah perkotaan justru memicu hambatan yang jauh lebih rumit dibandingkan wilayah perdesaan maupun kawasan Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Petugas BPS kerap tertahan akibat tertutupnya akses di kompleks-kompleks perumahan elite serta tingginya resistensi warga.
Saichudin mengonfirmasi bahwa kurangnya penetrasi sosialisasi dan tingginya privasi masyarakat kelas atas menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas di lapangan.
“Di daerah perkotaan memang lebih sulit untuk dilakukan pendataan daripada daerah 3T. Ada kendala kurangnya sosialisasi dari pihak kelurahan ataupun rw serta mungkin sedang tidak berada dirumah. Memang beberapa kawasan elite yang lebih sulit diakses petugas. Namun, BPS sudah mengusahakan berbagai cara dan pendekatan strategis untuk menembus hal tersebut agar data tetap akurat,” pungkasnya.
BPS Kalbar menargetkan rincian penghitungan pertumbuhan ekonomi hingga tingkat kabupaten dan kota di seluruh Kalbar akan selesai dan dirilis ke publik secara resmi sebelum peringatan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus 2026 mendatang.
(Hendrawan)