Pemerintah Kota Pontianak menetapkan dua langkah darurat guna merespons dampak kemarau panjang serta peningkatan kadar salinitas air baku akibat intrusi air laut, yakni penyaluran massal air tawar bersih serta pemberian potongan tarif tagihan pelanggan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa, Senin, (14/9/2026).
Pemerintah kota menginstruksikan seluruh kantor kelurahan dan kecamatan menyiapkan tandon penampungan air berkapasitas 4.000 hingga 5.000 liter sebagai pos suplai air bagi warga di 29 kelurahan, kawasan fasilitas umum, hingga masjid yang memiliki bak penampungan.
Kelaikan konsumsi air bersih hasil olahan Instalasi Pengolahan Air (IPA) 3 di stasiun pompa penguat (booster) Imam Bonjol tersebut diterangkan oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono.
“Layak diminum, tapi sebaiknya dimasak dulu,” jelasnya, Senin, (14/9/2026).
Fasilitas pengolahan tersebut memproduksi sekitar 1.000 ton air tawar bersih setiap hari untuk didistribusikan ke kantong-kantong permukiman yang mengalami kelangkaan air layak pakai. Pembaruan data lokasi titik distribusi air bagi masyarakat dipaparkan lebih lanjut dalam keterangannya.
“Ini akan terus kita update selalu,” ujarnya.
Pada kebijakan kedua, pemerintah memberikan insentif berupa diskon tarif sebesar 30 persen bagi kelompok pelanggan rumah tangga selama dua bulan, terhitung mulai periode rekening September 2026. Skema penghitungan dan teknis pemotongan tagihan bulanan tersebut diuraikan oleh orang nomor satu di Pontianak itu.
“Nanti akan kita hitung di akhir bulan. Untuk bulan September, dihitung pada Oktober,” jelasnya.
Guna menjaga keandalan suplai bahan baku, pasokan air tawar tambahan didatangkan dari kawasan Terentang, Kabupaten Kubu Raya, menggunakan tiga unit kapal tongkang menuju sejumlah instalasi pengolahan. Rute pasokan air tongkang dari wilayah hulu tersebut dirinci dalam penjelasannya.
“Di sana ada sumber air tawar yang akan kita bawa terutama ke IPA Nipah Kuning, IPA Parit Mayor dan Selat Panjang. Nantinya akan didistribusikan di wilayah tersebut,” jelasnya.
Pada penanganan jangka menengah, percepatan perbaikan instalasi pipa transmisi Penepat–Pontianak, rumah pompa, serta pintu air terus dikoordinasikan bersama instansi teknis pengelola sumber daya air. Instruksi koordinasi antarlembaga daerah dengan instansi vertikal ditekankan dalam keterangannya.
“Saya sudah memerintahkan Dinas PU dan PDAM terus berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kapuas yang bertanggung jawab terhadap air baku,” katanya.
Adapun pada skema jangka panjang, pemerintah daerah mendorong pembangunan bendung karet di Selat Parit Penepat serta perpanjangan jaringan pipa intake hingga ke kawasan Biyung guna membentengi Pontianak dari intrusi air asin saat debit Sungai Kapuas menyusut drastis. Kajian teknis bendung penahan intrusi laut dipaparkan dalam rincian keterangannya.
“Jangka panjangnya kita minta dikaji bendung karet di Selat Parit Penepat. Kalau terjadi kemarau sangat panjang, bisa ditutup atau dibendung, tetapi tetap memperhatikan lalu lintas angkutan sungai,” jelasnya.
Rangkaian intervensi tanggap darurat dan rencana infrastruktur jangka panjang ini dirancang untuk menjamin ketahanan pasokan air bersih warga di tengah fenomena iklim ekstrem. Tujuan pelayanan publik dalam menghadapi dampak kemarau ditegaskan kembali sebagai penutup penjelasannya.
“Ini bagian dari komitmen Pemerintah Kota Pontianak untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya.
(Hendrawan)