Sab, 18/07/26 · 02.50.10
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Diskusi Publik Selasar Nusantara Peringatkan Bahaya Adu Cepat Algoritma terhadap Kualitas Informasi Publik

Editor
Editor
Minggu, 24 Mei 2026 · 21:403 menit baca
Diskusi Publik Selasar Nusantara Peringatkan Bahaya Adu Cepat Algoritma terhadap Kualitas Informasi Publik
Suasana diskusi publik mengenai masa depan ekosistem digital di Athena Kopitiam Pontianak, Sabtu (23/5) malam. Forum terbuka yang dihadiri oleh jaringan pers mahasiswa, komunitas kreatif, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal ini membedah tantangan akurasi data, batas regulasi, serta tanggung jawab informasi antara media arus utama dan platform media sosial di Kalimantan Barat. (Dok. Hendrawan/Nusantara Post)

Pertanyaan soal arah informasi di tengah dinamika perkembangan media mainstream dan media sosial atau lebih dikenal dengan istilah new media dan homeless media menjadi topik utama diskusi publik Selasar Nusantara di Athena Kopitiam, Pontianak, Sabtu (23/5/2026).

Agenda ini merupakan rangkaian lanjutan soft launching media Nusantara Post (PT Media Ibu Kota Nusantara) yang berlangsung satu minggu sebelumnya (18/5), forum diskusi ini ini mempertemukan jurnalis, pegiat sosial, pers kampus, LSM, dan organisasi masyarakat sipil dalam satu ruang diskusi yang terbuka.

Tiga narasumber hadir dalam sesi panel, Rudi Agus Haryanto, Pemimpin Redaksi Nusantara Post, M. Hermayani Putera, Praktisi Komunikasi Publik & Pegiat Lingkungan, dan Cindy Chan, Creative Team sosial media Kalbar Keras.

Hermayani Putera menyoroti kecenderungan media baru yang bergerak mengikuti logika algoritma mengutamakan engagement dan traffic di atas kedalaman konten.

Lewat SIPEDE, Pemkot Pontianak Dorong Peran Pemuda Jadi Agen Literasi Digital
Baca Juga

Lewat SIPEDE, Pemkot Pontianak Dorong Peran Pemuda Jadi Agen Literasi Digital

“Media sosial hadir di tengah ruang algoritma yang sangat dipengaruhi oleh engagement dan traffic, dengan konten yang serba singkat. Kita yang mengharapkan kedalaman dalam sebuah berita harus melihat gambaran yang lebih utuh di media-media mainstream, namun media mainstream juga harus beradaptasi dengan perubahan tersebut untuk mejadi contoh batas-batas etika dalam penyampaian inforamsi” ujarnya dalam penyampaian materi.

Ia mendorong media baru untuk mengadopsi standar yang selama ini menjadi kekuatan media mainstream, disiplin kode etik dan prinsip cover both sides.

Foto suasana malam sekumpulan audiens muda, termasuk beberapa wanita berhijab di baris depan, yang sedang duduk di kursi lipat outdoor sambil menyimak jalannya diskusi publik di sebuah cafe di Pontianak
Audiens yang memadati area luar ruangan (outdoor) saat sesi diskusi publik di Athena Kopitiam Pontianak, Sabtu (23/5) malam. (Dok. Dery/Nusantara Post)

Rudi Agus Haryanto menelusuri perjalanan industri media dari era cetak ke web hingga kini didominasi media sosial. Setiap transisi, menurutnya, membawa tantangan baru yang menguji komitmen terhadap etika jurnalistik.

“Transisi media dari cetak ke digital dan kemudian ke media sosial bukan sekadar perubahan platform, melainkan perubahan cara publik mengonsumsi informasi. Kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi, dan viralitas tidak boleh menggantikan verifikasi,” tegasnya.

HUT Ke-80 Bhayangkara, Kapolda Kalbar Tekankan Integritas dan Pelayanan Humanis
Baca Juga

HUT Ke-80 Bhayangkara, Kapolda Kalbar Tekankan Integritas dan Pelayanan Humanis

Rudi juga menegaskan bahwa media mainstream tidak bisa lagi memunggungi kehadiran media sosial. Baginya, langkah ke depan bukan memilih salah satu, melainkan hadir di kedua ruang dengan standar yang tidak berbeda.

“Sekarang kita sebagai media mainstream tidak bisa mengesampingkan kehadiran media sosial. Ke depan ya scale up juga di ruang sosmed, namun tetap menggunakan batasan etika jurnalistik,” ujarnya.

Dari bangku peserta, diskusi ini memantik respons yang tidak kalah substantif. Rahmadani Safitri, Ketua Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Enggang Gading, mengakui secara terbuka bahwa batasan etika bermedia kerap tidak disadari di kalangan generasi muda.

Menurutnya, forum seperti ini penting justru karena berbicara langsung kepada mereka yang paling rentan terpapar arus informasi tanpa filter.

“Di kalangan Gen Z, batasan itu kadang dilewati begitu saja tanpa disadari. Kegiatan ini bagus karena membuat anak-anak muda seperti kami mengetahui batasan-batasan dalam bermedia. Kita juga harus lebih bisa menyaring berita-berita yang beredar,” ujarnya.

Syarif Falmu, Koordinator Pusat Federasi Organisasi Mahasiswa Daerah (FOMDA) Kalimantan Barat, menambahkan dimensi lain yang tak kalah mengkhawatirkan, kehadiran kecerdasan buatan yang membuat informasi palsu semakin sulit dikenali.

Empat Tahun Absen, PWNU Kalbar Pertanyakan Alokasi Hibah Bansos Pemprov
Baca Juga

Empat Tahun Absen, PWNU Kalbar Pertanyakan Alokasi Hibah Bansos Pemprov

Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya kritis terhadap berita, tetapi juga terhadap konten yang dihasilkan oleh teknologi.

“Sekarang ada AI yang bisa membuat sesuatu yang palsu atau menyesatkan tampak sangat meyakinkan. Mahasiswa harus lebih peka dan cermat memilah informasi,” katanya.

Foto dari sudut bawah (low angle) seorang basis berkacamata yang sedang fokus memainkan gitar bass elektrik berwarna putih abu-abu pada sesi musik akustik malam hari. Di latar belakang yang sedikit buram, tampak seorang gitaris lain sedang memainkan gitar elektrik berwarna biru toska di area panggung luar ruangan.
Penampilan Live Music di Athena Kopitiam Pontianak, Sabtu (23/5) malam, menutup rangkaian acara diskusi publik sekaligus ruang santai dan ramah tamah antarkomunitas dan organisasi. (Dok. Dery Triatmojo/Nusantara Post)

Diskusi sore ini kemudian dilanjutkan dengan sesi Live Music yang menampilkan band lokal hingga malam hari menutup forum dengan suasana yang lebih hangat dan informal, namun meninggalkan pertanyaan yang tidak ringan, di era ketika semua orang bisa menjadi media, siapa yang bertanggung jawab atas kebenaran?

(Hendra)