Kam, 04/06/26 · 12.45.43
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Pelajari Pengelolaan Kerukunan, Toraja Utara Lakukan Studi Tiru Toleransi ke Pontianak

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Kamis, 4 Juni 2026 · 18:362 menit baca
Pelajari Pengelolaan Kerukunan, Toraja Utara Lakukan Studi Tiru Toleransi ke Pontianak
Bupati dan FKUB Toraja Utara melakukan studi tiru ke Pontianak untuk mempelajari strategi merawat toleransi, manajemen konflik, hingga filosofi budaya ngopi. (Dok. Prokopim)

Bupati bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Toraja Utara melaksanakan studi tiru ke Kota Pontianak untuk mempelajari strategi pengelolaan kerukunan umat beragama serta penanganan potensi konflik horizontal. Kota Pontianak dipilih sebagai lokus studi karena dinilai berhasil menjaga stabilitas dan keharmonisan di tengah keberagaman suku yang kompleks.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menjelaskan bahwa sebagai ibu kota provinsi yang heterogen, tantangan menjaga kerukunan di Pontianak sangat beragam. Secara historis, potensi gesekan di Kalimantan Barat lebih sering dipicu oleh sentimen kesukuan ketimbang agama.

Untuk meredam potensi konflik tersebut, Pemerintah Kota Pontianak mengandalkan komunikasi intensif melalui peran majelis adat dan wadah Perkumpulan Merah Putih.

“Kalau ada kejadian, tokoh-tokohnya kita undang, kita rembuk. Kalau berkaitan dengan hukum, kita serahkan ke aparat untuk diproses. Biasanya persoalan selesai dan tidak berkembang,” ungkap Edi saat menerima kunjungan di Ruang Rapat Wali Kota Pontianak, Kamis (4/6/2026).

Realisasi Pendapatan 99,56 Persen, Pemkot Pontianak Catat SiLPA Rp138,87 Miliar pada APBD 2025
Baca Juga

Realisasi Pendapatan 99,56 Persen, Pemkot Pontianak Catat SiLPA Rp138,87 Miliar pada APBD 2025

Budaya Ngopi Jadi Perekat Sosial

Salah satu fenomena unik yang menarik perhatian Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong, selama berada di Pontianak adalah masifnya keberadaan warung kopi. Di Kota Khatulistiwa, warung kopi tidak sekadar menjadi tempat singgah ekonomi, melainkan ruang publik inklusif yang mempertemukan warga lintas usia, suku, dan agama.

Meskipun Toraja Utara merupakan salah satu daerah penghasil kopi berkualitas tinggi, Frederik mengakui kultur meminum kopi di daerahnya lebih sering dilakukan di dalam rumah, sehingga jumlah warung kopi tidak sebanyak di Pontianak.

“Filosofi warung kopi itu luar biasa, ada pahit dan manisnya hidup dalam setiap gelas kopi,” kata Frederik. Ia pun berencana mengadopsi konsep ruang publik berbasis warung kopi ini sekembalinya ke Toraja Utara.

Hari Lahir Pancasila: Pemkot Pontianak Soroti Pentingnya Pengamalan Nilai Kebangsaan Generasi Muda
Baca Juga

Hari Lahir Pancasila: Pemkot Pontianak Soroti Pentingnya Pengamalan Nilai Kebangsaan Generasi Muda

Optimalisasi Ruang Terbuka Hijau untuk Interaksi Warga

Selain ruang informal seperti warung kopi, Wali Kota Edi Rusdi Kamtono memaparkan bahwa visi Pemkot Pontianak dalam merawat toleransi dilakukan dengan memperbanyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang nyaman. Ketersediaan ruang publik yang inklusif dinilai efektif mendorong interaksi sehari-hari antarwarga guna mengurangi prasangka sosial.

Meski demikian, Edi mengakui menjaga harmoni di kota pelabuhan dengan mobilitas penduduk yang tinggi bukanlah hal mudah. Masalah perkotaan seperti ketertiban umum, anak jalanan, hingga peredaran narkoba tetap menjadi tantangan dinamis.

Oleh sebab itu, kolaborasi dan komunikasi berkala antara pemerintah, aparat, tokoh masyarakat, serta organisasi adat menjadi kunci utama kelangsungan stabilitas kota.

“Yang paling penting adalah komunikasi. Kalau ada masalah, kita mediasi, kita carikan solusi. Dengan saling mengenal dan berinteraksi, warga bisa lebih toleran dan menerima perbedaan,” pungkas Edi.

(Dayank Ana)