Orangutan yang berhasil ditranslokasi langsung menunjukkan perilaku liar saat dilepaskan di kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat, Kamis (23/4/2026). (Dok. Heribertus/YIARI)
Nusantarapost.news, Kalimantan Barat – Tim gabungan yang terdiri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), unsur TNI-Polri, dan masyarakat setempat berhasil melakukan translokasi satu individu orangutan dari Dusun Pemangkat Jaya, Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan ini berawal dari laporan masyarakat terkait kemunculan orangutan di area perkebunan. Sejak akhir tahun lalu, orangutan tersebut diketahui melintasi kebun kelapa dan karet milik warga.
Namun sepekan terakhir, individu ini mulai menetap di kebun kelapa sehingga menimbulkan kerugian dan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama karena ukuran tubuhnya yang relatif besar.
Muhadi, Asisten Manager Orangutan Protection Unit YIARI, menegaskan bahwa translokasi merupakan langkah terakhir yang ditempuh setelah berbagai opsi penanganan lain dipertimbangkan secara matang.
“Langkah ini dilakukan untuk menjamin keselamatan orangutan sekaligus mengurangi potensi konflik dengan manusia. Berdasarkan hasil asesmen serta melihat kondisi lanskap yang ada, keberadaan orangutan ini berisiko menimbulkan kerugian ekonomi serta rasa takut, yang dapat berujung pada tindakan yang membahayakan baik bagi satwa maupun manusia,” jelasnya.
Tim gabungan bergerak ke lokasi sejak pagi hari dan tiba sekitar pukul 07.00 WIB. Proses penanganan dilakukan menggunakan senapan bius oleh tim YIARI guna meminimalkan risiko.
Dosis anestesi dihitung secara cermat oleh dokter hewan berdasarkan estimasi berat badan satwa dan hanya dilakukan oleh petugas berizin resmi.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya luka alami pada bagian wajah dan lengan kiri, serta fraktur pada gigi. Dokter hewan YIARI, drh. Rachel, menjelaskan kondisi tersebut tidak menghalangi proses translokasi.
“Luka tersebut kemungkinan disebabkan oleh lingkungan sekitar, seperti semak bambu, mengingat orangutan ini banyak beraktivitas di kebun dan hutan bambu. Luka ini sudah sembuh dan secara umum, kondisi satwa dinyatakan sehat dan layak untuk ditranslokasikan,” ujarnya.
Dokter hewan YIARI drh. Rachel melakukan pemeriksaan medis terhadap orangutan sebelum proses translokasi ke Taman Nasional Gunung Palung, Kayong Utara, Kamis (23/4/2026). (Dok. Heribertus/YIARI)
Setelah pemeriksaan, orangutan segera ditranslokasikan ke kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang merupakan habitat asalnya. Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ditempuh sekitar dua jam menggunakan kombinasi transportasi darat dan air.
Setibanya di kawasan, proses pelepasliaran dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat yang turut membantu membawa orangutan lebih jauh ke dalam hutan.
Saat dilepaskan, orangutan menunjukkan respons yang baik dengan segera bergerak menjauh dan memperlihatkan perilaku liar indikator kuat kesiapannya untuk kembali hidup secara mandiri di habitat alami.
Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane, mengapresiasi peran semua pihak yang terlibat dalam keberhasilan translokasi ini.
“Translokasi ini merupakan salah satu langkah dalam upaya penyelamatan orangutan sekaligus mengurangi potensi konflik antara satwa liar dengan manusia. Kami mengapresiasi peran serta masyarakat dan seluruh pihak yang telah mendukung proses ini sehingga dapat berjalan dengan baik. Ke depan, sinergi dan kesadaran bersama sangat penting agar upaya pelestarian orangutan dapat berjalan seiring dengan aktivitas masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung PalungPrawono Meruanto, juga menegaskan komitmen pihaknya dalam menjaga kawasan konservasi.
“Tugas kami selalu menjaga Taman Nasional Gunung Palung agar tetap menjadi rumah yang nyaman dan aman bagi orangutan dan satwa liar lainnya. Bersama jaga alam, jaga TaNaGuPa untuk kehidupan yang berkelanjutan,” katanya.
Ketua Umum YIARISilverius Oscar Unggul menekankan bahwa perubahan tata guna lahan yang berlangsung cepat dan tidak terencana menjadi tantangan utama dalam mitigasi konflik manusia dan satwa liar.
“Perubahan yang berlangsung cepat dan tidak terencana menyulitkan orangutan untuk beradaptasi, sekaligus menghambat penyusunan strategi mitigasi yang efektif. Kami berharap para pemangku kepentingan, khususnya pemerintah dan sektor swasta, dapat mendorong perencanaan tata guna lahan yang lebih pasti dan terintegrasi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan yang menggetarkan tentang perspektif kehadiran orangutan di tanah yang kini menjadi perkebunan.
“Orangutan bukanlah pendatang di areal ini. Mereka sudah berada di sini jauh sebelum konversi lahan terjadi. Kini, orangutan semakin sulit menemukan ruang hidupnya. Kita perlu belajar untuk hidup berdampingan dengan mereka, karena sesungguhnya kitalah yang menempati rumah mereka,” tutup Silverius.