Di balik kepulan kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti wilayah Kalimantan Selatan dalam beberapa pekan terakhir, tersimpan cerita pilu dari sebuah keluarga di pinggiran Kota Banjarmasin, Kamis, (8/10/2026).
Lisnani (29), seorang guru honorer yang mengabdi selama tiga tahun di SDN Tanjung Pagar 3, Kecamatan Banjarmasin Selatan, mengembuskan napas terakhirnya usai penyakit asma yang dideritanya kambuh berulang kali setelah beraktivitas menembus paparan udara yang tercemar.
Setiap hari kerja, perempuan muda ini harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari rumahnya menuju sekolah. Jalur yang dilaluinya terbentang di perbatasan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar, kawasan yang kerap terkepung kabut pekat.
Pihak sekolah membenarkan kondisi kesehatan Lisnani yang kian menurun seiring menebalnya kabut di sekitar lingkungan belajar. Kebijakan izin mengajar dipaparkan oleh Kepala SD Tanjung Pagar 3 Banjarmasin, Zainal Abidin Asmari.
Baca Juga Gangguan Asap Karhutla Mulai Melandai, 180 Penerbangan di Kalimantan Terdampak
“Guru yang bersangkutan sudah minta izin sekitar seminggu karena mengeluhkan asmanya kambuh. Kami izinkan untuk tidak turun ke sekolah apabila kondisinya tidak memungkinkan,” kata Zainal Abidin Asmari, Selasa, (29/9/2026).
Lokasi sekolah yang berada di wilayah pinggiran membuat udara di ruang kelas dan halaman dipenuhi partikel residu pembakaran lahan. Kondisi paparan polutan di lingkungan sekolah dijelaskan dalam keterangannya.
“Di lingkungan sekitar sekolah cukup pekat. Karena wilayah sekolah berada di perbatasan, jadi cukup terimbas,” tuturnya.
Kondisi fisik Lisnani sempat tampak membaik pada sore hari sebelum serangan sesak napas akut tiba-tiba datang menjelang tengah malam. Penurunan kondisi mendadak korban dipaparkan oleh kepala sekolah.
Baca Juga Pontianak Diguyur Hujan Lebat Malam Hari Ini, Kualitas Udara Masih di Kategori Tidak Sehat
“Di sore hari kondisinya masih sehat, kemudian malamnya meninggal dunia. Kami berharap kondisi kabut asap yang terjadi saat ini menjadi perhatian, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga para guru, khususnya mereka yang memiliki gangguan pernapasan,” tegas Zainal Abidin Asmari.
Bagi keluarga, hari-hari terakhir Lisnani diisi dengan perjuangan menahan nyeri di dada. Tas kerjanya tak pernah luput dari obat hirup dan penawar sesak. Detik-detik kritis di rumah duka diceritakan langsung oleh ibunda Lisnani, Marhamah. Rintihan rasa sakit di dada diuraikan dalam penuturannya.
“Setelah Isya langsung sesak. Dia bilang, ‘Mak, tolong obati. Dada ulun (saya) sakit, napas ulun sesak’,” tutur Marhamah, Selasa, (6/10/2026).
Berbagai upaya pertolongan darurat dan obat-obatan yang diberikan keluarga tak mampu meredakan serangan pernapasan tersebut. Peningkatan frekuensi kambuhnya asma korban selama musim asap dipaparkan oleh Marhamah.
“Memang ada asma. Mungkin karena kabut ini memicu. Asmanya kambuh setiap hari,” katanya.
Tingkat keparahan polusi asap tahun ini dinilai jauh lebih menekan paru-paru dibanding musim-musim sebelumnya. Kondisi udara yang dirasakan korban dijabarkan dalam penjelasannya.
Baca Juga Cegah Kebakaran Berulang, RSJ Sambang Lihum Bangun Kanal dan Sumur Bor
“Asapnya tahun ini tidak separah dulu, maksudnya sekarang lebih parah,” ujarnya.
Meskipun pihak sekolah memberikan toleransi saat kondisi kesehatannya memburuk, kewajiban kedinasan di sekolah tetap menuntut kehadiran guru di saat para murid menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Tuntutan perjalanan menembus rute berasap digambarkan dalam keterangannya.
“Sekolah mengerti. Kalau asmanya kambuh, diizinkan tidak turun. Digantikan guru yang lain untuk mengajar anak-anaknya,” tutur Marhamah.
Kekhawatiran keselamatan para pendidik yang memiliki riwayat penyakit bawaan disuarakan oleh keluarga korban. Perlindungan kesehatan bagi tenaga pengajar dipaparkan dalam harapannya.
“Mulai dari depan rumah sampai ke sekolah, asap saja yang dilewati,” katanya.
Evaluasi terhadap kebijakan belajar daring di tengah polusi udara disoroti oleh ibunda korban. Kebijakan yang ramah bagi guru rentan dirumuskan dalam harapannya.
Baca Juga Anggota DPRD Kalsel Ajak Pelajar dan Mahasiswa Terlibat Kritis dalam Kebijakan Daerah
“Mudah-mudahan pemerintah bijaksana menanggapi ini. Jangan anak muridnya saja yang disuruh PJJ. Guru-gurunya juga bisa dijaga kesehatannya,” ucapnya.
Di saat napasnya kian tersengal sebelum berpulang, Lisnani sempat memeluk erat ibunya dan menitipkan pesan terakhir untuk putri kecilnya yang kini berusia lima tahun dan baru duduk di bangku taman kanak-kanak. Wasiat terakhir sang putri diungkapkan oleh Marhamah dengan suara bergetar.
“Ma bilang sama ayah dan kakak tolong jagakan anak saya,” katanya.
Bocah berusia lima tahun itu kini perlahan mulai mengerti bahwa sang ibu telah tiada setelah diajak berziarah ke pusara. Proses pemahaman sang anak atas kepergian ibunya diuraikan oleh sang nenek.
“Kalau ke makam, dia mulai paham mamanya sudah tidak ada. Sekarang tidak terlalu mencari lagi,” katanya.
Kepergian Lisnani meninggalkan duka mendalam sekaligus catatan penting bagi perlindungan keselamatan tenaga pendidik yang tetap harus menjalankan tugas di bawah kepungan udara beracun.
(Tony)