Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Kalimantan Selatan

Rawan Konflik dan Telan Korban Jiwa, Tim Respon Cepat Balai PK Pontianak Bentuk First Responder di Kotabaru

Roska Putra
Roska Putra
Kamis, 29 Oktober 2026 · 22:231 menit baca
Rawan Konflik dan Telan Korban Jiwa, Tim Respon Cepat Balai PK Pontianak Bentuk First Responder di Kotabaru
Tim Respon Cepat melakukan pemantauan malam atau spotting buaya di aliran sungai. (Dok. Balai PK Pontianak)

Tim Respon Cepat (RC) Balai Pengelolaan Kelautan (PK) Pontianak mengambil langkah proaktif dengan membentuk jejaring First Responder di Kantor Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Kamis (29/10/2026).

Langkah darurat ini diambil menyusul tingginya tingkat kerawanan dan ancaman serangan buaya terhadap warga di sepanjang aliran Sungai Cantung.

Sejumlah buaya liar terpantau di habitat perairan alami wilayah Kalimantan Selatan. (Dok. Balai PK Pontianak)
Sejumlah buaya liar terpantau di habitat perairan alami wilayah Kalimantan Selatan. (Dok. Balai PK Pontianak)

Berdasarkan catatan historis dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, tercatat telah terjadi lima kali insiden serangan buaya yang mengakibatkan korban jiwa serta luka-luka. Terakhir, kasus serangan menimpa seorang anak berusia 8 tahun pada Juli 2026 lalu.

Dalam rangkaian kunjungan kerja yang berlangsung pada 20 hingga 24 Oktober 2026 ini, Tim RC Balai PK Pontianak juga sempat berkoordinasi dengan Lembaga Konservasi (LK) Flora Fauna Jhonlin Lestari.

Respons Laporan Warga, Balai PK Pontianak Lakukan Pemantauan dan Mitigasi Konflik Buaya di Pemangkat
Baca Juga

Respons Laporan Warga, Balai PK Pontianak Lakukan Pemantauan dan Mitigasi Konflik Buaya di Pemangkat

Namun, rencana penitipan buaya hasil evakuasi belum dapat dilakukan akibat fasilitas penangkaran mengalami kelebihan muatan (overcapacity) serta krisis air bersih karena rendahnya curah hujan.

Selain membentuk First Responder dan memberikan edukasi mitigasi risiko kepada masyarakat, tim gabungan bersama aparat desa setempat turut melaksanakan pemantauan malam (spotting) di Desa Karang Payau.

Dalam penyisiran di sepanjang alur Sungai Cantung tersebut, petugas memantau kemunculan empat ekor buaya dalam satu jalur lintasan.

Dari hasil analisis lapangan, peningkatan frekuensi kemunculan buaya ke permukiman dipicu oleh degradasi habitat serta masifnya pencemaran lingkungan akibat tumpukan sampah rumah tangga di aliran sungai.

Tingkatkan Tata Kelola Ikan Dilindungi, Balai PK Pontianak Gelar Pertemuan Teknis Evaluasi CITES
Baca Juga

Tingkatkan Tata Kelola Ikan Dilindungi, Balai PK Pontianak Gelar Pertemuan Teknis Evaluasi CITES

Papan peringatan waspada ada buaya yang dipasang di kawasan rawan konflik perairan. (Dok. Balai PK Pontianak)
Papan peringatan waspada ada buaya yang dipasang di kawasan rawan konflik perairan. (Dok. Balai PK Pontianak)

Melalui pembentukan jaringan First Responder ini, masyarakat diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan sekaligus memahami prosedur penanganan darurat yang tetap mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare).

(Roska)