Jum, 21/08/26 · 05.38.49
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Timur

Bandara Sepinggan Tetap Normal di Tengah Kabut Asap Karhutla Kalimantan

Memei
Memei
Jumat, 21 Agustus 2026 · 11:261 menit baca
Bandara Sepinggan Tetap Normal di Tengah Kabut Asap Karhutla Kalimantan
Aktivitas penerbangan di Bandara Sepinggan Balikpapan tetap berjalan normal di tengah sebaran kabut asap karhutla di Kalimantan. (Dok. Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan International Airport)

Operasional Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan dipastikan tetap berjalan normal di tengah terjangan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai mengganggu sejumlah wilayah di Kalimantan.

Meskipun demikian, gangguan jarak pandang akibat asap terpantau sempat terjadi di tiga bandara regional lainnya, yakni Bandara Supadio Pontianak, Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Sepinggan, Iwan Winaya Mahdardi, menjelaskan bahwa gangguan di bandara-bandara tetangga tersebut biasanya muncul pada pagi hari saat asap masih tebal, sebelum akhirnya kembali normal setelah pukul 09.00 waktu setempat.

“Gangguan muncul pada pagi hari ketika asap masih tebal, lalu kembali normal setelah pukul 09.00,” ujar Iwan (21/8).

Hotspot Naik 4 Kali Lipat dalam Sehari di Wilayah Penyangga IKN
Baca Juga

Hotspot Naik 4 Kali Lipat dalam Sehari di Wilayah Penyangga IKN

Meski situasi di Bandara Sepinggan terpelihara aman dengan jarak pandang berada di atas batas minimum operasional, pihak pengelola tetap mewaspadai potensi keterlambatan penerbangan lanjutan dari bandara lain yang terdampak.

Posisi geografis Bandara Sepinggan yang memiliki landasan pacu menghadap ke laut serta kawasan sekitar yang bersih dari pembukaan lahan dinilai turut membantu menjaga stabilitas jarak pandang dibandingkan bandara lain di pulau Kalimantan.

Terkait prosedur keselamatan penerbangan, batas minimum jarak pandang diatur berdasarkan metode terbang yang digunakan, di mana penerbangan visual (VFR) umumnya memerlukan jarak pandang minimum sekitar 5 kilometer, sementara penerbangan instrumen (IFR) didukung teknologi seperti Runway Visual Range (RVR) yang memungkinkan pendaratan dalam jarak pandang ratusan meter.

Sebagai langkah antisipasi jangka panjang menghadapi potensi musim kemarau dan perluasan karhutla, pihak bandara terus berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah daerah, BPBD, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Koperasi Merah Putih di Balikpapan Klaim Omzet Rp1,6 Miliar, Ditargetkan Jadi Pasok Bahan Makan Bergizi Gratis
Baca Juga

Koperasi Merah Putih di Balikpapan Klaim Omzet Rp1,6 Miliar, Ditargetkan Jadi Pasok Bahan Makan Bergizi Gratis

Salah satu opsi mitigasi yang disiapkan apabila kondisi memburuk adalah penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna memicu hujan, sementara pemantauan kualitas udara dan cuaca terus dilakukan secara berkala demi menjamin keselamatan penerbangan.

(Memei)