Dominasi Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, sebagai produsen utama kratom nasional kini menghadapi tantangan serius dari Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Kukar mulai agresif melakukan hilirisasi industri dengan kapasitas ekspor mencapai 200 hingga 300 ton daun kering per bulan ke pasar internasional, termasuk Amerika Serikat, India, Thailand, hingga Republik Ceko.
Berbeda dengan model perdagangan di Kalimantan Barat yang masih didominasi penjualan daun mentah atau remahan kering dengan infrastruktur terbatas, Kukar telah melangkah ke tahap pengolahan ekstrak di sentra produksi Kecamatan Tenggarong Seberang. Langkah hilirisasi yang didukung laboratorium dan mesin pengolahan ini diprediksi akan mengubah peta persaingan dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi pemain industri kelas dunia.
Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara, Sunggono, menyatakan bahwa pemerintah daerah berkomitmen menjadikan kratom sebagai motor ekonomi kerakyatan baru di luar sektor migas.
“Pemkab Kukar terus mendorong pengembangan kratom sebagai salah satu komoditas unggulan daerah yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya bagi para petani,” ujar Sunggono sebagaimana dilansir dari Prokal, Selasa (19/5/2026).
Progres Logistik Tersendat, Disdikbud Kaltim Izinkan Siswa Baru Pakai Baju Bebas
Potensi ekonomi dari hilirisasi ini dinilai sangat signifikan. Jika daun mentah hanya bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah per hektare, produk hasil olahan ekstrak berkadar tinggi atau bahan farmasi dapat meningkatkan nilai komoditas hingga miliaran rupiah per hektare.
“Permintaan kratom di pasar internasional terus meningkat. Ini merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan dengan meningkatkan kualitas dan produktivitas,” tambah Sunggono.
Terkait tantangan regulasi dan stigma negatif yang sempat menghambat, Sunggono mengakui situasi mulai membaik seiring dengan keterlibatan pemerintah pusat dalam penataan tata kelola untuk kepentingan ekspor.
“Perdagangan kratom sempat menghadapi kendala serius, baik di Kukar maupun secara nasional, namun kemudian pemerintah pusat mulai mengarahkan penelitian serta penataan tata kelola,” jelasnya.
Buka Akses Perbatasan, Pemkab Mahulu Kebut Pembangunan Bandara Ujoh Bilang
Pesatnya perkembangan di Kukar menjadikan wilayah ini sebagai rujukan daerah lain, termasuk Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara yang telah melakukan studi banding ke Tenggarong. Kini, persaingan industri kratom di Kalimantan tidak lagi hanya soal siapa penghasil terbesar, melainkan daerah mana yang mampu bergerak lebih cepat dalam riset dan industri ekstrak.
(Dayank Ana)
