Nusantarapost.news, NASIONAL – Indonesia mengambil langkah baru dalam menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit nasional dengan melepas tiga spesies serangga penyerbuk asal Tanzania di Insektarium Pusat Penelitian Kelapa Sawit Unit Marihat, Simalungun, Sumatera Utara, Rabu, (9/4/2026).
Ketiga spesies yang dilepas adalah Elaeidobius subvitatus, Elaeidobius kamerunicus, dan Elaeidobius plagiatus. Pelepasan ini menjadi tonggak penting setelah Indonesia bergantung pada satu jenis serangga penyerbuk selama lebih dari 40 tahun.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Moh. Alfansyah, yang hadir langsung dalam kegiatan ini menyatakan bahwa upaya introduksi serangga penyerbuk baru merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat fondasi biologis industri sawit nasional.
Sejak diperkenalkan dari Afrika melalui Malaysia pada 1982, kumbang Elaeidobius kamerunicus menjadi tulang punggung penyerbukan kelapa sawit di Indonesia. Namun, lebih dari empat dekade berlalu, efektivitasnya mulai menurun.
Baca Juga Investasi Capai Rp11 Triliun, Kaltara Proyeksikan Jalur Kereta Api Logistik Antarnegara
Permasalahannya terletak pada perkembangan varietas tanaman sawit terkini yang menghasilkan tandan lebih banyak dan lebih padat.
Kondisi ini membuat struktur bunga semakin sempit sehingga kumbang E. kamerunicus kesulitan menjangkau bagian bunga yang berada di posisi lebih dalam. Akibatnya, proses penyerbukan tidak optimal dan berimbas pada rendahnya fruit set angka pembentukan buah dari proses penyerbukan.
Sebelum dilepas ke lingkungan perkebunan, ketiga spesies serangga ini telah melalui serangkaian pengujian ketat bersama Badan Karantina Indonesia, meliputi uji kemurnian, keefektifan, serta keamanan hayati yang mencakup preferensi inang dan kompetisi antarspesies.
“Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketiga spesies ini bukan termasuk spesies invasif, sehingga aman untuk dikembangkan lebih lanjut dalam ekosistem perkebunan kelapa sawit Indonesia,” demikian keterangan resmi yang disampaikan oleh tim pelaksana kegiatan.
Baca Juga Melemah di Tengah Pekan, Harga Emas Perhiasan 999 di Martapura Turun Rp 20 Ribu per Gram
Kegiatan eksplorasi serangga penyerbuk di Afrika ini sebagian besar didanai oleh BPDP melalui skema riset inisiatif Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian.
Pelaksanaannya melibatkan R&D GAPKI, PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), serta konsorsium PIPPSI (Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Perbenihan Sawit Indonesia).
Dengan kehadiran spesies penyerbuk baru ini, para peneliti berharap proses penyerbukan kelapa sawit ke depan dapat kembali berlangsung secara alami seperti yang terjadi pada 25 tahun pertama pasca introduksi E. kamerunicus pada 1982 tanpa intervensi manusia dan tanpa permasalahan fruit set rendah yang selama ini menghantui produktivitas perkebunan.
Langkah ini sekaligus menjadi simbol kesinambungan inovasi industri kelapa sawit Indonesia yang terus beradaptasi menghadapi tantangan biologis dan agronomi di era baru.
(Fit/BPDP)