Bangkai kendaraan lajuran yang dibakar OPM diperiksa prajurit TNI di Nduga. (Dok Facebook/Joshua Tabuni)
Seorang pengemudi angkutan umum atau lajuran bernama Aris Sanda tewas usai dihadang dan ditembak oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di tanjakan Gunung Boy, jalur Wamena menuju Mbua, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Selasa (15/9/2026).
Selain membunuh korban, pelaku juga membakar kendaraan angkutan logistik tersebut.
Peristiwa tragis itu bermula saat korban mengangkut sembilan penumpang warga lokal dari Wamena menuju Mbua.
Di tengah perjalanan, kendaraan korban dihadang oleh kelompok OPM Kodap III Ndugama Derakma pimpinan Egianus Kogoya.
Para penumpang warga lokal diintimidasi dan dipaksa turun menuju Napua, sementara korban yang merupakan pendatang asal Toraja ditahan.
Sebelum dieksekusi dan kendaraannya dibakar, korban sempat dipaksa untuk menyatakan dukungan kepada OPM.
Kelompok OPM pimpinan Egianus Kogoya membawa senjata dan bendera di jalan raya. (Dok. Facebook/IK2S)
Koops TNI Habema menemukan kendaraan dalam kondisi hangus terbakar beserta jenazah korban pada Rabu (16/9/2026).
Temuan ini mengonfirmasi aksi kekerasan terhadap pengemudi yang selama ini melayani kebutuhan transportasi dan logistik masyarakat di wilayah pedalaman.
Panglima Koops TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya warga sipil tersebut dan segera memerintahkan evakuasi jenazah serta peningkatan pengamanan jalur logistik.
“Saya sangat prihatin dan berduka atas kejadian ini. Korban bukan sedang membawa ancaman. Ia sedang bekerja, membawa logistik dan melayani transportasi masyarakat Papua. Orang-orang seperti inilah yang selama ini membantu kehidupan masyarakat di pedalaman. Kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan, dan para pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku,” tegas Brigjen TNI Riyanto.
Brigjen TNI Riyanto menginstruksikan seluruh jajaran untuk memperketat pengamanan di area rawan serta melakukan pencarian terhadap para pelaku secara terukur guna mendukung proses penegakan hukum.
Penembakan ini dinilai sangat merugikan warga lokal karena mengganggu rantai distribusi bahan pokok dan layanan publik.
Kondisi pengemudi lajuran Aris Sanda di dalam kabin mobil merah usai ditembak OPM. (Dok. Facebook/IK2S)
“Penekanan ini tidak hanya berlaku di lokasi kejadian. Di wilayah lainnya pun saya perintahkan seluruh jajaran meningkatkan kewaspadaan dan perlindungan masyarakat. Jangan berikan ruang bagi kekerasan yang mengancam warga sipil, pengemudi, guru, tenaga kesehatan, pekerja, maupun siapa pun yang sedang melayani masyarakat. Setiap gangguan harus ditangani secara profesional, terukur, dan sesuai hukum,” tambah Brigjen TNI Riyanto.
Koops TNI Habema menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, tokoh adat, serta tokoh agama demi menjaga kestabilan keamanan dan memastikan akses transportasi masyarakat tetap berjalan aman.