Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla bersama Forkopimda Kalbar di Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (6/8/2026). BNPB menambah helikopter water bombing untuk atasi lonjakan karhutla. (Dok. BNPB)
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pemantauan terkini situasi bencana hidrometeorologi kering di seluruh Indonesia periode 6 hingga 7 Agustus 2026. Hasil rangkuman Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) menunjukkan bahwa kejadian bencana nasional masih didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
Aktivitas karhutla dilaporkan melanda sejumlah wilayah pulau di Indonesia. Di Pulau Sumatra, karhutla menghanguskan 13 hektare lahan di Kabupaten Belitung Timur. Sementara di Pulau Jawa, area terdampak berada di Kabupaten Wonogiri seluas 2,5 hektare. Penanganan di kedua wilayah tersebut berjalan lancar dan titik api berhasil dipadamkan oleh tim gabungan.
Kejadian karhutla juga marak terjadi di Pulau Sulawesi. Kabupaten Bolaang Mongondow mencatat lahan terbakar seluas 3,5 hektare, sedangkan di Kabupaten Kolaka Timur lahan terdampak mencapai 6 hektare.
Penanganan paling intensif dilakukan di Kabupaten Tana Toraja dengan estimasi area terbakar menembus 55 hektare di tiga kecamatan sebelum akhirnya dapat dikendalikan.
Petugas gabungan melakukan pemadaman karhutla di daerah rawan terbakar. (Dok. BNPB)
Wilayah Indonesia timur turut mengalami lonjakan titik api, khususnya di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Lahan seluas 10 hektare di kawasan permukiman serta 5 hektare area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sempat terbakar sebelum berhasil dipadamkan.
Di samping karhutla, krisis air bersih melanda Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sebanyak 7.980 kepala keluarga atau sekitar 25.830 jiwa terdampak kekeringan sejak akhir Juli. BPBD setempat telah menyalurkan sedikitnya 148.000 liter air bersih guna memenuhi kebutuhan pokok warga.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan bahwa BNPB terus mendampingi provinsi prioritas karhutla, termasuk Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, dan Jatim melalui pengerahan operasi darat, helikopter, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Berdasarkan prakiraan BMKG, dominasi cuaca cerah berawan masih berpotensi memicu timbulnya titik api baru di berbagai daerah.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah bersama BPBD agar terus meningkatkan patroli terpadu di wilayah rawan karhutla, memperkuat deteksi dini terhadap titik panas, serta memastikan kesiapan personel dan sarana pemadaman,” ujar Abdul Muhari.