Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan permohonan maaf terbuka setelah unggahan peringatan Hari Lahir Pancasila di media sosial menuai kritik tajam dari warganet. Sorotan publik muncul karena ilustrasi lambang negara Garuda Pancasila yang digunakan dalam konten tersebut diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan dinilai menyimpang dari kaidah resmi.
Permintaan maaf tersebut dirilis melalui akun resmi BRIN Indonesia di platform X setelah unggahan gambar tersebut ramai diperbincangkan. Lembaga riset negara ini mengakui adanya kesalahan dalam tayangan visual yang telah dipublikasikan kepada masyarakat.
“BRIN Indonesia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dalam tayangan konten peringatan Hari Lahir Pancasila yang telah kami bagikan,” tulis manajemen BRIN melalui akun X resmi @brin_Indonesia pada Selasa, (2/6/2026).
Helai Bulu Menyimpang dari Simbol Proklamasi
Kejanggalan pada grafis Garuda Pancasila milik BRIN pertama kali diendus oleh pengguna media sosial yang melihat ketidaksesuaian anatomi lambang negara. Visual garuda tersebut diduga kuat hasil dari generator AI karena helai bulu pada kedua sayapnya hanya berjumlah 15 dan 16 helai.
Hari Lahir Pancasila: Pemprov Kalbar Tekankan Pentingnya Tindakan Nyata Dibanding Perdebatan Ideologis
Selain itu, helai bulu ekor hanya berjumlah 7, serta terdapat kecacatan bentuk pada simbol pohon beringin dan kepala banteng di dalam perisai.
Padahal, berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, konfigurasi jumlah bulu Garuda Pancasila bersifat baku karena melambangkan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Aturan resmi menetapkan:
-
Bulu pada masing-masing sayap wajib berjumlah 17 helai.
-
Bulu pada ekor wajib berjumlah 8 helai.
-
Bulu di bawah perisai atau pangkal ekor wajib berjumlah 19 helai.
-
Bulu pada leher wajib berjumlah 45 helai.
Hari Lahir Pancasila: Pemkot Pontianak Soroti Pentingnya Pengamalan Nilai Kebangsaan Generasi Muda
Menjadi Bahan Evaluasi Konten Internal
Pihak BRIN menyatakan bahwa insiden ini menjadi bahan evaluasi internal yang krusial. Lembaga tersebut berjanji akan memperketat proses pengawasan, produksi, hingga distribusi konten agar berjalan lebih cermat di masa mendatang.
“Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih teliti, cermat, dan berhati-hati dalam proses pembuatan serta penyebaran konten di masa mendatang,” lanjut pernyataan tersebut.
Saat ini, konten visual yang sempat dipersoalkan telah ditarik dan diperbaiki oleh tim terkait. BRIN juga menyampaikan apresiasi atas fungsi kontrol dan kritik yang dilayangkan oleh masyarakat luas demi menjaga marwah lambang negara.
(Dayank Ana)
