Rab, 05/08/26 · 16.50.16
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Karhutla, Kekeringan, dan KLB DBD Melanda Berbagai Daerah di Indonesia

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Rabu, 5 Agustus 2026 · 21:513 menit baca
Karhutla, Kekeringan, dan KLB DBD Melanda Berbagai Daerah di Indonesia
BNPB merangkum eskalasi bencana karhutla, banjir, kekeringan, hingga KLB DBD yang melanda berbagai wilayah di Indonesia. (Dok. BNPB)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat eskalasi kejadian bencana hidrometeorologi kering berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, hingga bencana non-alam di sejumlah wilayah Indonesia selama periode 4–5 Agustus 2026.

Di kawasan Hutan Lindung Gunung Soputan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, karhutla dilaporkan terus meluas akibat tiupan angin kencang.

“BPBD Kabupaten Minahasa Tenggara mencatat luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 300 hektare. BPBD Kabupaten Minahasa Tenggara bersama unsur gabungan terus melakukan pemadaman serta asesmen di lokasi kejadian,” rilis BNPB, Rabu, (5/8/2026).

Kebakaran lahan juga terdeteksi meluas di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dengan luasan terdampak mencapai 10 hektare vegetasi savana dan cemara gunung.

Karhutla Dominasi Kejadian Bencana di Sejumlah Wilayah Selama Musim Kemarau
Baca Juga

Karhutla Dominasi Kejadian Bencana di Sejumlah Wilayah Selama Musim Kemarau

Rentetan karhutla turut melanda tiga wilayah di Kalimantan Timur, yakni Kabupaten Berau seluas 2 hektare, Kota Bontang seluas 3,31 hektare, serta Kabupaten Paser yang menghanguskan 13 hektare semak belukar.

Di Pulau Jawa, insiden karhutla dipicu oleh faktor teknis maupun kelalaian manusia di beberapa titik lokasi.

Di TPA Desa Malabar, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, akumulasi gas metana memicu kebakaran area sampah seluas 2 hektare, sementara pembakaran sampah yang tidak terkonfirmasi di Kabupaten Klaten menghanguskan 6,8 hektare lahan pertanian.

Kebakaran vegetasi akibat rembetan pembakaran sampah juga terjadi di Kabupaten Sukoharjo seluas 13 hektare serta Kabupaten Kudus seluas 1 hektare tebu yang sempat mengancam area SPBU.

Lonjakan Titik Panas, BNPB Kembali Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Sumsel
Baca Juga

Lonjakan Titik Panas, BNPB Kembali Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Sumsel

Ancaman bencana hidrometeorologi basah berupa angin kencang merusak 11 rumah di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, serta banjir di Kabupaten Nias Barat.

Luapan sungai di Nias Barat tersebut berdampak pada lahan pertanian dan jalan provinsi.

“Warga meninggal dunia setelah tertimpa pohon kelapa di Desa Sisobambowo, Kecamatan Mandrehe. Di sisi lain, lahan persawahan dengan luas lima hektare dan satu ruas jalan provinsi terdampak kejadian ini,” terang laporan BNPB.

Banjir akibat luapan Sungai Batang Patai di Nagari Tambangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, merendam 17 rumah warga sebelum akhirnya dilaporkan surut total.

Dampak kemarau berupa krisis air bersih dilaporkan semakin meluas di Provinsi Jawa Tengah.

BNPB Gelar Pelatihan Pemasaran UMKM Pascabencana di Lombok Utara
Baca Juga

BNPB Gelar Pelatihan Pemasaran UMKM Pascabencana di Lombok Utara

Di Kabupaten Jepara, penurunan debit air berdampak pada 1.260 kepala keluarga di tiga kecamatan, sedangkan di Kabupaten Semarang sebanyak 646 kepala keluarga di lima kecamatan membutuhkan pasokan air darurat.

“Penanganan kekeringan ini mengacu pada Keputusan Bupati Semarang Nomor 100.3.3.2/017/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan 2026 selama 243 hari, terhitung sejak 3 Juni 2026 hingga 31 Januari 2027,” papar pihak BNPB.

Pada sektor bencana non-alam, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, secara resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) usai mencatat akumulasi 454 kasus.

“Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah, total kasus DBD dari Januari hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 454 kasus, dengan 5 orang meninggal dunia. Penetapan status ini merujuk pada Keputusan Bupati Tapanuli Tengah Nomor 381/DINKES/2026 tanggal 27 April 2026,” urai BNPB.

Langkah pengulangan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan penggalangan gerakan 1 Rumah 1 Jumantik terus diintensifkan guna menekan laju penularan di 11 kecamatan terdampak.

Edukasi pencegahan dini terus diserukan BNPB kepada seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan potensi bencana di lingkungan masing-masing.

“Masyarakat diminta untuk tidak membakar sampah maupun lahan secara sembarangan, terutama pada musim kemarau dan saat kondisi angin kencang, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan titik api,” tutup BNPB dalam imbauannya.

(Rudi)