Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara merespons kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) pagi.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar ini masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek perdamaian. Kondisi tersebut mendorong harga minyak tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, serta memicu arus dana keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Selain itu, kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri,” kata Destry Damayanti dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).
Tingkatkan Intensitas Intervensi Pasar
Menyikapi tekanan ini, Destry menegaskan bahwa bank sentral akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai dengan nilai fundamentalnya.
Prabowo Kumpulkan Tokoh Ekonomi Senior, Gali Pelajaran Krisis 2008 untuk Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional
“Selain itu, memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik,” tutur Destry.
Secara konkret, BI akan melakukan intervensi yang berkesinambungan dan konsisten melalui berbagai instrumen keuangan. Langkah tersebut mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,” tambah Destry.
Kurangi Ketergantungan Dolar lewat Skema LCT
Sebagai langkah jangka panjang untuk memitigasi risiko volatilitas nilai tukar, Bank Indonesia juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini efektif untuk mengurangi ketergantungan perdagangan terhadap dolar AS.
Kopi Liberika Kayong Utara Tembus Pasar Global di WOC Bangkok, Harga Capai Rp595 Ribu per Kilogram
Sejauh ini, kerja sama skema LCT telah terjalin dengan beberapa negara mitra strategis seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Diversifikasi transaksi melalui LCT ini menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, di mana pada April 2026 jumlahnya telah mencapai sekitar US$22,7 miliar, mendekati perolehan sepanjang tahun lalu yang berada di angka US$25,7 miliar.
Di akhir penjelasannya, Destry mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih sejalan dengan tren yang terjadi di tingkat regional, dengan pelemahan sebesar -7,44% secara tahun berjalan (year-to-date). BI juga memastikan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia masih kuat, ditandai dengan cadangan devisa yang tetap terjaga di level US$146,2 miliar pada akhir April 2026.
(Dayank Ana)
