Sab, 18/07/26 · 04.31.43
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Prabowo Kumpulkan Tokoh Ekonomi Senior, Gali Pelajaran Krisis 2008 untuk Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Hendrawan
Hendrawan
Minggu, 24 Mei 2026 · 19:122 menit baca
Prabowo Kumpulkan Tokoh Ekonomi Senior, Gali Pelajaran Krisis 2008 untuk Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional
Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan dengan sejumlah tokoh ekonomi nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (22/5/2026). Pertemuan membahas pengalaman penanganan krisis ekonomi dan langkah antisipatif menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan nasional di tengah dinamika global. (Dok. BPMI Setpres/Muchlis Jr)

Di tengah tekanan nilai tukar dan gejolak ekonomi global yang belum mereda, Presiden Prabowo Subianto memilih langkah yang tidak biasa, mengundang para mantan menteri dan eks Gubernur Bank Indonesia ke Istana Merdeka untuk berbagi pengalaman menghadapi krisis. Pertemuan berlangsung Jumat (22/5/2026), dihadiri antara lain Burhanuddin Abdullah, Paskah Suzetta, dan Lukita Dinarsyah Tuwo.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang mendampingi Presiden bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa diskusi berfokus pada pengalaman nyata menghadapi tekanan ekonomi global khususnya krisis 2008 dan lonjakan harga minyak 2005.

Para tokoh senior menyampaikan sejumlah catatan penting dari pengalaman mereka menghadapi tekanan ekonomi global mulai dari lonjakan harga minyak, tekanan inflasi, hingga gejolak nilai tukar yang pernah menghantam Indonesia.

“Di tahun 2005 ada krisis minyak di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dolar AS per barel,” ungkap Airlangga, menggambarkan betapa beratnya tekanan yang pernah dihadapi Indonesia di masa lalu.

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Bank Indonesia Ambil Langkah Intervensi Berlapis
Baca Juga

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Bank Indonesia Ambil Langkah Intervensi Berlapis

Namun Airlangga menegaskan bahwa kondisi makro ekonomi Indonesia saat ini relatif lebih baik dibanding episode-episode krisis sebelumnya.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat. Dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” ungkapnya.

Dari pertemuan ini, Presiden Prabowo mengambil sejumlah pembelajaran konkret dan langsung meminta jajaran terkait bergerak. Ia secara khusus meminta Menteri Keuangan untuk terus memantau regulasi yang dapat memperkuat stabilitas sektor keuangan dan menjaga prinsip kehati-hatian perbankan.

“Bapak Presiden meminta kami, Menteri Keuangan, untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita,” ujar Airlangga.

Pramono Sambut Putusan MK: Jakarta Tetap Ibu Kota Selama Keputusan Presiden Belum Terbit
Baca Juga

Pramono Sambut Putusan MK: Jakarta Tetap Ibu Kota Selama Keputusan Presiden Belum Terbit

Pemerintah juga menilai perlu dilakukan kajian terhadap penguatan permodalan perbankan. Mengingat jumlah bank di Indonesia yang cukup banyak, langkah konsolidasi permodalan dinilai penting sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan sistem keuangan nasional dalam menghadapi dinamika global yang terus bergerak.

Pertemuan ini mencerminkan pendekatan kepemimpinan Prabowo yang mengedepankan kombinasi pengalaman, kewaspadaan, dan penguatan fundamental bukan sekadar reaksi terhadap tekanan sesaat, melainkan persiapan sistematis menghadapi berbagai kemungkinan ke depan.

(Hendra)