Sel, 07/07/26 · 10.27.25
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Tujuh Hari Terbakar, 45 Persen Lahan TPA Jatiwaringin Tangerang Berhasil Dipadamkan

Rudi Agus Haryanto
Rudi Agus Haryanto
Selasa, 7 Juli 2026 · 16:122 menit baca
Tujuh Hari Terbakar, 45 Persen Lahan TPA Jatiwaringin Tangerang Berhasil Dipadamkan
Kebakaran lahan TPA Jatiwaringin Sepatan Tangerang memasuki hari ke-7. Baru 45% dari 14 hektare lahan sampah yang padam meski 3 helikopter dikerahkan. (Dok. BNPB)

Penanganan darurat bencana kebakaran yang melanda Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, memasuki hari ketujuh, Senin (6/7/2026). Otoritas penanggulangan bencana melaporkan progres pemadaman kumulatif baru mencapai 45 persen dari total luas lahan terbakar yang membentang hingga 14 hektare.

Guna mempercepat proses lokalisasi bara api, sebanyak 300 personel gabungan dari unsur darat dan udara dikerahkan ke titik pembuangan akhir sampah domestik tersebut. Karakteristik tumpukan material yang terbakar membutuhkan penanganan khusus karena menyerupai perilaku kebakaran lahan gambut, di mana bara api bersembunyi di bawah permukaan dan memicu kepulan asap pekat.

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Djohan Darmawan, menjelaskan bahwa metode pemadaman konvensional dari permukaan tidak cukup untuk memutus siklus api.

“Upaya pemadaman kebakaran lahan TPA ini membutuhkan penanganan khusus karena jenis lahan menyerupai lahan gambut dimana api tidak berada di permukaan namun membara di dalam tumpukan sampah. Upaya pemadaman dilakukan dengan berbagai metode. Satgas darat melakukan penyemprotan untuk api di permukaan juga injeksi untuk api di bawah permukaan. Satgas udara water bombing menjangkau dari atas,” ujar Djohan Darmawan rincinya.

Kemarau Meluas, BNPB Laporkan Krisis Air Bersih di Jawa dan NTB Mendominasi Bencana Nasional
Baca Juga

Kemarau Meluas, BNPB Laporkan Krisis Air Bersih di Jawa dan NTB Mendominasi Bencana Nasional

Pembagian Sektor Pemadaman dan Dukungan Alat Berat
Untuk mengoptimalkan taktis di lapangan, area pemadaman kini dibagi secara berjenjang ke dalam tiga sektor utama, yakni sektor utara, tengah, dan selatan. Langkah taktis ini didukung dengan pengerahan 19 unit mobil pemadam kebakaran, 4 unit mobil tangki air, 8 unit ekskavator, serta 8 unit buldozer. Ekskavator dikerahkan khusus untuk mengurai tumpukan sampah yang tebal agar air bisa meresap ke titik dalam.

Sementara itu, satgas udara mengerahkan 3 unit helikopter water bombing dan 2 unit drone pemantau. Pasokan air untuk kebutuhan armada udara diuntungkan oleh keberadaan embung alam di sekitar lokasi kejadian, sehingga memotong waktu pengisian air (scooping).

Cuaca Ekstrem Ganda, BNPB Laporkan Kekeringan di Jawa dan Banjir di Sumatra
Baca Juga

Cuaca Ekstrem Ganda, BNPB Laporkan Kekeringan di Jawa dan Banjir di Sumatra

Perpanjangan Jam Operasional dan Metode Injeksi Air
Mulai Senin, otoritas darat memutuskan untuk memperpanjang jam operasional pemadaman hingga pukul 22.00 WIB guna mengejar sisa target luasan lahan. Tim pemadam gabungan dan Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan mulai menerapkan sistem injeksi menggunakan mesin pompa bertekanan tinggi guna memaksa air masuk ke rongga-rongga terdalam tumpukan sampah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa kasus di Jatiwaringin harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah lain di Indonesia untuk memperketat mitigasi struktural di wilayah penampungan sampah, terutama dalam menghadapi puncak musim kemarau 2026. Kelalaian dalam manajemen pembasahan lahan TPA berkala dinilai memicu kerentanan tinggi terhadap munculnya pemompaan gas metana yang mudah terbakar.

Pihak berwenang juga meminta masyarakat di sekitar zona terdampak untuk menghentikan aktivitas pembakaran sampah rumah tangga secara mandiri guna mencegah perluasan titik api sekunder.

(Rudi)