Seminar MAPEKI XXIX di UGM membahas kayu rekayasa, bambu, dan bioekonomi. MAPEKI–AAKRI teken MoU, peneliti Untan paparkan belasan riset. (Dok. HO/TNP)
Para peneliti kayu dari berbagai daerah seluruh Indonesia berkumpul di Yogyakarta untuk membahas pemanfaatan kayu dan bambu sebagai bahan bangunan modern serta kaitannya dengan ekonomi berbasis hayati (bioekonomi). Pembahasan berlangsung dalam Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XXIX di Ballroom Bulaksumur, University Club Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat, (9/10).
Dalam seminar itu, MAPEKI dan Asosiasi Ahli Kayu Rekayasa Indonesia (AAKRI) menandatangani nota kesepahaman. Peneliti Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan) juga memaparkan belasan hasil penelitian, mulai dari tengkawang hingga gambut.
Seminar mengangkat tema integrasi teknologi, kearifan lokal, dan transformasi pemanfaatan hutan untuk mendukung bioekonomi dan target FOLU Net Sink 2030.
Ketua MAPEKI sekaligus Dekan Fakultas Kehutanan Untan, Prof. Farah Diba menjelaskan tujuan kegiatan ini.
“Seminar ini diikuti kurang lebih 90 peserta, kami harapkan menjadi ruang temu bagi peneliti, akademisi, praktisi, pemerintah, dan industri, agar hasil riset dapat menjadi manfaat nyata bagi bioekonomi dan pencapaian FOLU Net Sink 2030,” kata Prof. Farah Diba.
Salah satu topik utama adalah kayu rekayasa (engineered wood), yaitu kayu dan bambu yang diolah menjadi bahan konstruksi modern seperti GLULAM, CLT, dan LVL.
Ketua AAKRI Dr. Ir. Maryoko Hadi memaparkan penerapannya pada rumah prefabrikasi, gedung pameran, dan asrama.
“Kayu dan bambu berpeluang masuk ke bangunan modern, asalkan memenuhi persyaratan teknik dan keselamatan. Karena itu AAKRI mendorong penguatan regulasi, standar konstruksi, penelitian, dan perluasan pasar,” ujar Maryoko.
Menanggapi gagasan tersebut, guru besar Fakultas Kehutanan Untan sekaligus Ketua ICMI Kalbar Prof. Gusti Hardiansyah juga menilai bahan ini harus dibuktikan kekuatannya lewat pengujian.
“Kayu rekayasa tidak cukup hanya terlihat kuat. Ia harus terbukti kuat,” Tegas Ketua ICMI Kalbar tersebut.
Menurutnya, pengujian struktur, ketahanan api, durabilitas, akustik, dan performa termal, serta standardisasi dan sertifikasi, menjadi syarat penting sebelum bahan itu dipakai luas.
Seminar menghadirkan empat narasumber lain dengan sudut pandang berbeda.
Prof. Ganis Lukmandaru dari UGM menekankan dasar ilmiah.
“Transformasi industri hasil hutan harus berpijak pada fondasi ilmiah yang kuat. Setiap jenis kayu memiliki sifat yang perlu dipahami lebih dulu sebelum menentukan pemanfaatannya,” ujarnya.
“Penelitian hasil hutan perlu terhubung dengan persoalan sosial ekonomi masyarakat, agar perkembangan teknologi juga dirasakan masyarakat di sekitar hutan,” kata Dodi.
Dari sisi praktisi usaha, Direktur PT Mayawana PersadaIwan Budiman menyebut gagasan ilmiah harus teruji di lapangan.
“Hasil penelitian perlu dapat diterjemahkan menjadi keputusan yang bertanggung jawab, dengan memperhitungkan biaya, produktivitas, pasar, dan keberlanjutan usaha,” ujarnya.
Sementara Dr. Aris Toteles AP dari Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua mengingatkan perbedaan antardaerah.
“Kondisi ekologis, masyarakat adat, dan tantangan pembangunan berbeda-beda, sehingga teknologi yang berhasil di satu tempat belum tentu cocok di tempat lain,” kata Aris.
Riset Untan: dari tengkawang hingga gambut
Peserta dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan) berfoto sambil membawa tas kain bermotif batik di depan latar panggung Seminar Nasional MAPEKI XXIX, Yogyakarta, Jumat (9/10/2026). (Dok. HO/TNP)
Selain sesi utama, makalah dan poster dipresentasikan di tiga ruang paralel yang membahas kimia hasil hutan, karakteristik kayu dan material, serta kehutanan umum. Peneliti Fakultas Kehutanan Untan membawa topik khas Kalimantan Barat.
Sebagian riset berfokus pada tengkawang: Prof. Farah Diba membahas bioprospeksi lemak tengkawang, Fathul Yusro meneliti potensi kulit kayu tengkawang terhadap jamur Candida albicans, dan Emi Roslinda menelusuri rantai pasar tengkawang dari hutan adat.
“Penelitian tengkawang kami arahkan agar nilai bahan alam Kalimantan Barat dapat dipahami secara ilmiah, mulai dari kandungannya sampai rantai pasarnya,” kata Emi Roslinda.
Riset lain menyasar pemanfaatan limbah dan bahan alam. Nurhaida meneliti papan partikel dari limbah kulit durian sebagai penyerap suara.
“Limbah kulit durian kami uji sebagai bahan papan partikel penyerap suara, supaya bahan yang selama ini terbuang punya peluang dimanfaatkan,” ujar Nurhaida.
Di bidang lahan basah, Wiwik Ekyastuti meneliti makrofauna tanah sebagai penanda kesehatan gambut, sedangkan Dwi Astiani mengkaji pertumbuhan mangrove.
“Makrofauna tanah dapat menjadi petunjuk kondisi gambut, sehingga kesehatan gambut bisa dibaca dari makhluk hidup di dalamnya,” kata Wiwik.
Topik lain dari fakultas kehutanan Untan mencakup anatomi kayu nyirih labu dari Kubu Raya, pengetahuan lokal pemanenan bambu, asap cair dari kayu laban, bioaktivitas antirayap ekstrak buah mangrove, dan pewarna alami dari daun ketapang.
Teknologi itu, menurut dia, membantu pengenalan gejala secara lebih sistematis, tetapi tidak menggantikan ahli lapangan.
“Komputer boleh pintar membaca gambar, tetapi manusia tetap harus pintar membaca keadaan,” kata Prof. Gusti.
Bambu mendapat perhatian khusus dari Prof. Gusti, ia menyebut pengembangannya melibatkan banyak tahap, dari pembibitan, budidaya, dan pengolahan hingga pembiayaan dan pasar, sehingga tidak bisa diselesaikan satu lembaga saja.
Soal target FOLU Net Sink 2030, ia mengingatkan agar keberhasilan tidak diukur dari jumlah bibit semata.
“Menanam pohon memang penting. Tetapi menghitung keberhasilannya tidak cukup dari jumlah bibit yang ditanam atau banyaknya foto kegiatan,” ujar Prof. Gusti.
Ia menyebut perlunya memahami perubahan tutupan lahan, emisi, serapan karbon, umur pakai produk, dan keberlanjutan bahan baku.
Kerja sama MAPEKI dan AAKRI
Penandatanganan nota kesepahaman antara Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) dan Asosiasi Ahli Kayu Rekayasa Indonesia (AAKRI) dalam rangkaian Seminar Nasional MAPEKI XXIX, Yogyakarta, Jumat (9/10/2026). (Dok. HO/TNP)
Penandatanganan nota kesepahaman MAPEKI dan AAKRI menjadi salah satu agenda seminar. Prof. Gusti menilai kerja sama itu dapat membuka jalan bagi pengembangan standar, penelitian bersama, pengujian produk, dan pemanfaatan hasil riset oleh industri.
“MoU yang baik bukan hanya yang tersimpan rapi di lemari, tetapi yang menghasilkan pekerjaan nyata setelah para penandatangan pulang,” ujarnya.
Menjelang penutupan, panitia mengumumkan presenter makalah dan poster terbaik pada tiap sesi paralel.
Pada penghujung acara, Prof. Gusti menilai tantangan kehutanan bukan pada jumlah peneliti, melainkan pada keterhubungan riset dengan kebijakan, industri, dan masyarakat.
“Indonesia tidak kekurangan peneliti yang cerdas. Tantangannya adalah mempertemukan kecerdasan itu dengan keberanian mengambil keputusan, kemampuan industri, kebutuhan masyarakat, dan keberlanjutan hutan,” tutup Prof. Gusti.