Sel, 07/07/26 · 12.07.22
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nusantara

Sebut IKN Dikelilingi Tambang Batu Bara, Presiden OURF Ingatkan Risiko Kota Hijau Jangan Cuma Jargon

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Selasa, 7 Juli 2026 · 18:112 menit baca
Sebut IKN Dikelilingi Tambang Batu Bara, Presiden OURF Ingatkan Risiko Kota Hijau Jangan Cuma Jargon
President OURF Gary Shapiro menyoroti ancaman tata ruang IKN yang berisiko merambah hutan jika ekspansi bisnis tak terkendali. Ia mendesak komitmen kota hijau jangka panjang. (Dok. Dayank/Nusantara Post)

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur menuntut komitmen tata ruang yang sangat ketat agar lonjakan populasi dan investasi bisnis di masa depan tidak memicu perluasan wilayah perkotaan (urban sprawl) yang merambah kawasan hutan penyangga.

Peringatan tersebut dilontarkan oleh President Orang Utan Republik Foundation (OURF), Gary Shapiro, saat memaparkan kerentanan ekologis dalam Presentasi Program Orangutan Caring Scholarship (OCS), Senin (6/7/2026). Ia menyoroti masifnya industri ekstraktif seperti tambang batu bara di Kalimantan Timur yang kini beririsan langsung dengan megaproyek ibu kota baru.

Menurutnya, komitmen konsep “kota hijau” yang diusung pemerintah tidak boleh sebatas jargon jangka pendek, melainkan harus teruji hingga puluhan tahun ke depan untuk membendung arus urbanisasi yang destruktif terhadap habitat flora dan fauna.

“Kalau kita mau bangun ibu kota baru, mereka memang harus sangat serius dengan kota hijau. Tidak hanya untuk tahun ini atau tahun depan, tapi untuk 30 tahun kemudian. Karena nanti banyak orang akan datang mencari peluang bisnis. Jika tidak dikendalikan area perkembangannya, nanti bisa terjadi sprawl (perluasan kota tak terencana) yang masuk ke dalam hutan,” ujar Gary Shapiro.

Dampak IKN, Ekonomi Penajam Paser Utara Melesat 19,9 Persen
Baca Juga

Dampak IKN, Ekonomi Penajam Paser Utara Melesat 19,9 Persen

Tinggalkan Paradigma Konservasi “Bisnis seperti Biasa”
Dalam kacamata pelestarian global, otoritas konservasi ini mengkritik tajam paradigma business as usual (bisnis seperti biasa) yang masih dipertahankan oleh banyak pihak. Pola pikir tersebut dinilai menjadi biang keladi kegagalan manusia menahan laju emisi karbon dan perubahan iklim global.

Gary bahkan secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap dinamika politik iklim di negara asalnya, Amerika Serikat, yang dilaporkan mundur dari Kesepakatan Iklim Paris (Paris Climate Accord).

“Tantangan paling besar di seluruh dunia saat ini adalah kita masih berpikir bisnis seperti biasa. Kalau tidak diubah, nanti lebih banyak karbon yang menguap dan kita tidak bisa menghentikan perubahan iklim global. Di negara saya, Amerika, sekarang mundur dari Paris Climate Accord. Saya tidak bangga ini terjadi, karena kita semua harus bergotong royong demi cucu kita,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa bumi tidak hanya diperuntukkan bagi manusia yang mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan juga bagi seluruh rakyat dan satwa yang hidupannya sangat bergantung pada kelestarian hutan.

Menkeu Purbaya Coret IKN dari Daftar Kandidat Pusat Finansial: “Terlalu Sepi”
Baca Juga

Menkeu Purbaya Coret IKN dari Daftar Kandidat Pusat Finansial: “Terlalu Sepi”

Solusi Spesifik untuk Konflik Ruang Satwa dan Manusia
Menyikapi kompleksitas lanskap di Indonesia, Gary menekankan bahwa pemerintah dan lembaga swadaya tidak bisa menggunakan satu solusi tunggal untuk mengatasi seluruh masalah lingkungan. Setiap daerah dan desa dinilai memiliki karakteristik masalah pertanian (agro) dan sosiokultural yang berbeda.

Fokus penanganan mitigasi saat ini harus diarahkan pada titik temu (interface) antara permukiman warga dan jalur jelajah satwa liar, terutama di luar kawasan konservasi yang rentan gesekan.

“Tidak ada satu solusi untuk seluruh Indonesia. Semua daerah punya isu masing-masing. Kita harus fokus pada interaksi antara masyarakat dan satwa liar, seperti di batas taman nasional, atau justru di ekosistem luar seperti zona penyangga (buffer zone). Kita harus bekerja sama dan memonitor warga yang punya lahan di situ,” pungkas Gary membagikan pengamatannya terkait mitigasi konflik di Sumatra dan Kalimantan.

(Dayank Ana Sebalu)