Ada masa ketika manusia merasa dirinya paling tinggi. Jabatan membuat langkah lebih berat, kekuasaan membuat telinga lebih tebal, dan pujian membuat hati sulit menerima koreksi. Surah Al-A‘lā datang untuk mematahkan ilusi itu sejak ayat pertama.
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى Sabbiḥisma rabbikal-a‘lā “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.” Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang benar-benar Mahatinggi. Gubernur, bupati, wali kota, pejabat, akademisi, pengusaha, bahkan tokoh agama tetaplah manusia yang menerima amanah sementara. Kekuasaan bukan milik pribadi, tetapi titipan yang kelak dipertanggungjawabkan.
Surah ke-87 ini termasuk surah Makkiyah. Tidak ditemukan riwayat sahih yang menunjukkan bahwa seluruh surah turun karena satu peristiwa khusus. Namun, konteksnya jelas. Masyarakat Quraisy saat itu mengagungkan kekayaan, kekuasaan, garis keturunan, dan status sosial. Mereka menolak kebangkitan serta kehidupan akhirat. Dalam suasana seperti itu, Al-A‘lā menata kembali ukuran kemuliaan manusia.
Allah berfirman: الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ وَالَّذِي قَدَّرَ Fَهَدَىٰ Alladzī khalaqa fasawwā, walladzī qaddara fahadā “Yang menciptakan lalu menyempurnakan, dan yang menentukan kadar lalu memberi petunjuk.”
Baca Juga An-Nāzi‘āt: Ketika Kekuasaan, Nafsu, dan Masa Depan Dipertanggungjawabkan
Di sini tersimpan pelajaran penting bagi pembangunan daerah. Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran. Maka, pembangunan juga harus mengenal batas. Hutan memiliki daya dukung. Sungai memiliki ruang. Gambut memiliki fungsi. Pantai memiliki keseimbangan. Anggaran memiliki kemampuan. Masyarakat memiliki hak.
Pemerintah daerah tidak boleh memaknai kemajuan hanya melalui panjang jalan, jumlah gedung, luas perkebunan, atau besarnya investasi. Kemajuan harus dihitung bersama kualitas lingkungan, pemerataan, pendidikan, kesehatan, keadilan sosial, dan keberlanjutan antargenerasi. Pembangunan yang melampaui daya dukung mungkin terlihat berhasil hari ini, tetapi dapat berubah menjadi bencana bagi masa depan. Karena itu, kebijakan harus diuji bukan hanya dari manfaat langsung, tetapi juga dari dampaknya terhadap kelompok rentan dan generasi berikutnya di Indonesia.
Ayat berikutnya menyebut rumput yang menghijau, lalu mengering dan menghitam. Gambaran ini mengingatkan bahwa kejayaan dunia selalu memiliki batas. Jabatan berakhir. Popularitas menurun. Kekayaan berpindah. Nama yang dielu-elukan hari ini dapat dilupakan esok hari. Yang tersisa hanyalah manfaat dan akibat dari keputusan yang pernah dibuat.
Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Nabi Muhammad SAW: سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَىٰ Sanuqri’uka falā tansā “Kami akan membacakan kepadamu sehingga engkau tidak akan lupa.” Ayat ini menunjukkan bahwa risalah dibangun di atas ilmu yang terjaga.
Baca Juga Laut untuk Siapa: Membaca Ulang Keadilan dari Perahu Nelayan Kecil
Kepemimpinan daerah juga harus dibangun di atas data yang benar, bukan intuisi politik semata. Data kemiskinan, kerusakan lingkungan, pengangguran, stunting, pendidikan, kesehatan, dan ketimpangan harus menjadi dasar kebijakan. Pemimpin yang mengabaikan data mudah terjebak pada program seremonial dan pencitraan.
Allah kemudian berfirman: وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ Wa nuyassiruka lil-yusrā “Kami akan memudahkanmu menuju jalan kemudahan.” Pesan ini sangat relevan bagi pelayanan publik. Pemerintahan harus memudahkan masyarakat, bukan memperumitnya. Administrasi harus jelas. Izin harus transparan. Bantuan sosial harus tepat sasaran. Pelayanan kesehatan dan pendidikan harus mudah dijangkau. Kemudahan bukan berarti mengabaikan aturan, tetapi membangun sistem yang adil, cepat, dan bebas pungutan liar.
Surah Al-A‘lā juga memerintahkan: فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَىٰ Fadzakkir in nafa‘atid-dzikrā “Berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat.” Pemimpin yang sehat tidak alergi terhadap kritik. Kritik dari masyarakat, akademisi, media, ulama, aktivis lingkungan, dan generasi muda harus ditempatkan sebagai alarm etis. Kekuasaan yang menolak nasihat akan kehilangan kemampuan melihat kesalahan sendiri.
Bagi Generasi Z dan Alpha, surah ini berbicara langsung tentang godaan zaman. Dunia digital membentuk ukuran keberhasilan melalui jumlah pengikut, tanda suka, penampilan, tren, dan pengakuan publik. Padahal, semua itu dapat berubah secepat rumput hijau menjadi kering.
Allah menegaskan: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ Qad aflaḥa man tazakkā “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” Keberhasilan sejati tidak hanya berbentuk prestasi akademik, teknologi, atau ekonomi. Keberhasilan juga berarti jujur, tidak melakukan plagiarisme, menolak perundungan, menjaga kehormatan, menghormati orang tua, mengendalikan nafsu, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Surah ini ditutup dengan teguran tajam: بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ Bal tu’tsirūnal-ḥayātad-dunyā, wal-ākhiratu khairun wa abqā “Namun, kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.”
Baca Juga “Membunuh” Industri Hasil Tembakau Indonesia Bukan Lab Agenda Global
Nabi Muhammad SAW sering membaca Surah Al-A‘lā dalam salat Jumat, salat Id, dan witir. Surah ini memang singkat, tetapi memuat inti pendidikan peradaban: menyucikan Allah, merendahkan ego, menjaga ilmu, menerima nasihat, menyucikan jiwa, dan memilih nilai yang lebih kekal.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kurang ialah manusia yang mampu menundukkan kepentingan pribadi di bawah amanah. Al-A‘lā mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan tentang menjadi paling tinggi, tetapi tentang semakin tunduk kepada Yang Mahatinggi.
Penulis: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
Ketua ICMI Orwil Kalbar
*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.