Sab, 18/07/26 · 12.48.27
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Perspektif

An-Nāzi‘āt: Ketika Kekuasaan, Nafsu, dan Masa Depan Dipertanggungjawabkan

Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Prof. Dr. Gusti Hardiansyah
Sabtu, 18 Juli 2026 · 17:533 menit baca
An-Nāzi‘āt: Ketika Kekuasaan, Nafsu, dan Masa Depan Dipertanggungjawabkan
Ilustrasi – Analisis teologis dan sosial Gusti Hardiansyah (Ketua ICMI Kalbar) tentang Surah An-Nazi’at. Refleksi kritis atas tata kelola kekuasaan, ekologi, dan disrupsi algoritma digital. (Dok. Roska/Nusantara Post)

Surah An-Nāzi‘āt tidak membuka pesannya dengan kelembutan. Ia dimulai dengan gambaran malaikat yang mencabut nyawa, sebagian dengan keras, sebagian dengan lembut.

وَالنّٰzِعٰتِ غَرْقًا، وَالنّٰشِطٰتِ نَشْطًا. Wan-nāzi‘āti gharqā, wan-nāsyithāti nasythā, “Demi malaikat yang mencabut nyawa dengan keras dan yang mencabutnya dengan lembut.” Pembukaan ini menghentakkan kesadaran manusia: hidup tidak berada dalam genggaman kita. Jabatan, kekayaan, pengaruh, popularitas, dan seluruh atribut duniawi akan berhenti pada satu titik yang tidak dapat ditunda. Karena itu, kekuasaan seharusnya tidak melahirkan kesombongan, tetapi tanggung jawab.

Surah ke-79 ini turun di Makkah ketika kaum musyrik menolak kebangkitan dan mempertanyakan hari Kiamat. Tidak ditemukan riwayat sahih yang menunjukkan satu peristiwa khusus sebagai sebab turunnya seluruh surah. Konteks utamanya ialah penolakan terhadap kehidupan sesudah mati, keraguan terhadap pertanggungjawaban, serta pertanyaan bernada mengejek tentang kapan Kiamat terjadi.

Pada ayat 6–14, Al-Qur’an menggambarkan guncangan besar dan kebangkitan manusia dari kuburnya. Orang yang dahulu meremehkan akhirat tiba-tiba berdiri dengan pandangan tertunduk. Pesannya tegas: sejarah manusia tidak berakhir di dunia. Setiap keputusan, termasuk keputusan politik, akan memasuki ruang pertanggungjawaban yang tidak dapat dimanipulasi.

Al-A‘lā: Menurunkan Ego Kekuasaan, Meninggikan Martabat Kepemimpinan
Baca Juga

Al-A‘lā: Menurunkan Ego Kekuasaan, Meninggikan Martabat Kepemimpinan

Bagi gubernur, bupati, dan wali kota, kesadaran ini penting. Tidak semua penyalahgunaan kekuasaan terungkap oleh auditor. Tidak semua ketidakadilan masuk ke pengadilan. Tidak semua kerusakan lingkungan tercatat dalam laporan kinerja. Namun, ketidakterlihatan suatu pelanggaran bukan berarti pelanggaran itu hilang.

Surah ini kemudian menghadirkan kisah Musa dan Fir‘aun. Allah berfirman, اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰى. Idzhab ilā Fir‘auna innahū thaghā, “Pergilah kepada Fir‘aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.” Kata thaghā menunjukkan tindakan melewati batas moral, hukum, dan kemanusiaan. Fir‘aun bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah simbol kekuasaan yang tidak mau dikoreksi. Puncaknya muncul dalam pernyataan, اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰى. Ana rabbukumul-a‘lā, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”

Pemimpin hari ini tentu tidak mengucapkan kalimat itu. Namun, watak Fir‘aun dapat muncul ketika kebijakan dianggap tidak boleh diuji, kritik diperlakukan sebagai permusuhan, aparatur digunakan untuk menjaga citra, dan kepentingan pribadi disamakan dengan kepentingan rakyat.

Menariknya, Musa tidak datang dengan makian. Ia menawarkan jalan penyucian: هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰى. Hal laka ilā an tazakkā, “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri?” Kepemimpinan yang sehat selalu menyediakan ruang untuk koreksi diri. Karena itu, kritik akademisi, pers, masyarakat sipil, dan warga tidak seharusnya dimusuhi. Kritik justru mencegah seorang pemimpin terperangkap dalam pujian bawahannya sendiri.

Laut untuk Siapa: Membaca Ulang Keadilan dari Perahu Nelayan Kecil
Baca Juga

Laut untuk Siapa: Membaca Ulang Keadilan dari Perahu Nelayan Kecil

Ayat 27–33 mengajak manusia melihat langit, malam, siang, bumi, air, tumbuhan, dan gunung. Alam dihadirkan sebagai bukti kekuasaan Allah sekaligus penyangga kehidupan. مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ. Matā‘an lakum wa li-an‘āmikum, “Sebagai kesenangan dan manfaat bagimu serta bagi hewan ternakmu.”

Pesan ekologisnya jelas. Pembangunan tidak boleh hanya dihitung dari investasi, gedung, jalan, atau pertumbuhan ekonomi. Pemerintah daerah harus menilai dampaknya terhadap air, hutan, pesisir, pangan, bencana, dan keberlanjutan hidup masyarakat. Pembangunan yang merusak sistem penyangga kehidupan pada akhirnya menghancurkan manfaat pembangunan itu sendiri.

Puncak pesan moral surah ini terdapat pada ayat 37–41. فَاَمَّا mَنْ طَغٰىۙ وَآثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۙ. Fa ammā man thaghā, wa ātsaral-hayātad-dunyā, “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia.” Akar penyimpangan bukan hanya kekuasaan, tetapi orientasi hidup yang menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi.

Sebaliknya, Allah memuji orang yang mampu menahan diri: وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى. Wa nahan-nafsa ‘anil-hawā, “Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” Bagi pemimpin, pengendalian nafsu berarti menolak nepotisme, politik anggaran, pencitraan berlebihan, konflik kepentingan, dan kebijakan yang hanya menguntungkan kelompok dekat. Pemimpin yang mampu mengendalikan orang lain belum tentu kuat. Pemimpin yang mampu mengendalikan dirinya sendiri jauh lebih langka.

Bagi Generasi Z dan Alpha, hawa nafsu hadir melalui bentuk baru: kebutuhan akan validasi digital, kemarahan spontan, konsumsi tanpa batas, informasi tanpa verifikasi, dan keinginan memperoleh hasil cepat. Teknologi tidak selalu salah. Namun, ketika algoritma mengendalikan perhatian, emosi, dan pilihan hidup, manusia kehilangan kebebasan moralnya.

Surah An-Nāzi‘āt ditutup dengan pertanyaan tentang Kiamat. Al-Qur’an tidak menjawab tanggalnya. Pesannya bukan kapan dunia berakhir, tetapi bagaimana manusia mempersiapkan diri. Bagi Indonesia, pertanyaan yang mendesak bukan hanya kapan Indonesia maju, tetapi apakah kemajuan itu adil, beradab, dan berkelanjutan.

Forum TSBLP Diluncurkan, Pemprov Kalbar Integrasikan Dana CSR Korporasi demi Sektor Prioritas
Baca Juga

Forum TSBLP Diluncurkan, Pemprov Kalbar Integrasikan Dana CSR Korporasi demi Sektor Prioritas

Kekuasaan akan berakhir. Generasi akan berganti. Jejak kebijakan dan pilihan moral akan tetap dipertanggungjawabkan.

Penulis: Gusti Hardiansyah

Guru Besar Universitas Tanjungpura
Ketua ICMI Orwil Kalbar.

*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.