Hari ketiga dimulai setelah sarapan pagi di Mom’s Cafe. Dari sana, kami melanjutkan visitasi ke kawasan Serian, Batu 12. Pengurus Evergreen Eco Plantation menyambut kami bukan dengan cerita keberhasilan yang berhenti pada angka produksi, melainkan dengan paparan tentang bagaimana kebun, benih, teknologi budidaya, pengemasan, dan pasar harus dirancang sebagai satu sistem. Mohd Razuan Ayob, Plantation Advisor perusahaan tersebut, menjelaskan praktik yang sedang mereka bangun. Bagi Kalimantan Barat, khususnya Kubu Raya, kunjungan ini penting karena memperlihatkan bahwa tanah gambut bukan alasan untuk menerima produktivitas rendah, tetapi juga bukan ruang yang boleh dikelola tanpa kehati-hatian.
Evergreen mengembangkan beberapa varietas nanas, antara lain MD2, Golden Diamond, dan Sarawak Gold SG1. Perusahaan juga memproduksi bahan tanaman yang telah melalui proses pengesahan. Pesannya tegas: kualitas kebun dimulai dari identitas benih. Petani yang tidak mengetahui asal, varietas, dan mutu bahan tanam akan sulit menyeragamkan pertumbuhan, memprediksi panen, serta memenuhi standar pembeli. Di Kubu Raya, pembagian benih semata tidak akan membentuk industri nanas. Pemerintah dan pelaku usaha perlu membangun sistem pembibitan, sertifikasi, pencatatan asal benih, serta pendampingan budidaya yang dapat diperiksa.
Pelajaran kedua menyangkut tanah. Mohd Razuan menjelaskan bahwa nanas dapat tumbuh pada tanah mineral maupun gambut. Namun, kesamaan kemampuan tumbuh tidak berarti hasilnya otomatis sama. Rasa buah dan kebutuhan pupuk dapat berbeda, sedangkan pengelolaan air menentukan kesehatan tanaman. Evergreen mengendalikan gulma, menata drainase, dan menyesuaikan formula pemupukan. Mereka juga menghindari pembakaran ketika membuka lahan. Prinsip ini relevan bagi Kubu Raya: ekspansi produksi harus tunduk pada tata air gambut, pencegahan kebakaran, dan perlindungan fungsi ekologis. Keuntungan jangka pendek tidak layak dibayar dengan subsidensi, kekeringan gambut, atau asap yang biayanya ditanggung masyarakat.
Pelajaran ketiga ialah disiplin mengatur panen. Setelah tanaman mencapai ukuran dan bobot tertentu, perlakuan hormon digunakan untuk menyeragamkan pembungaan. Sekitar empat bulan kemudian, buah memasuki masa matang. Dengan pengaturan petak dan waktu aplikasi, perusahaan dapat memperkirakan kapan serta berapa banyak buah tersedia. Teknologi ini bukan sekadar urusan agronomi. Ia menghubungkan kebun dengan kontrak penjualan, tenaga panen, kendaraan, ruang dingin, dan jadwal pengiriman. Kubu Raya memerlukan kalender produksi bersama agar panen tidak menumpuk pada satu waktu dan harga tidak jatuh karena kelebihan pasokan lokal.
Baca Juga Dari Gula Apong, Nanas Gambut hingga Pandan Wangi: Belajar Nilai Tambah dari Samarahan

Paparan berikutnya bergerak ke hilirisasi. Produk yang diperlihatkan bukan hanya buah utuh, tetapi juga Sarawak Gold SG1 Pineapple Chunks, nanas yang telah dikupas, dipotong, dikemas, dan siap dimakan. Menurut penjelasan pengurus, bentuk praktis itu justru diminati konsumen Kuching. Fakta tersebut mengubah cara membaca nilai tambah. Konsumen perkotaan tidak hanya membeli rasa; mereka membayar kebersihan, kemudahan, ukuran porsi, keamanan pangan, dan waktu yang dihemat. Sentra nanas Kubu Raya karena itu membutuhkan rumah kemas, fasilitas pencucian dan pemotongan, rantai dingin, pengujian mutu, serta desain kemasan yang memenuhi aturan pangan.
Ambisi Evergreen juga terukur. Perusahaan menargetkan pengembangan hingga 1.000 hektare dalam lima tahun dan merencanakan pabrik serta pusat pengemasan. Satu kontainer 20 kaki disebut memerlukan sekitar delapan ton buah. Target tersebut memaksa pengelola menghitung dari belakang: berapa luas tanam, berapa buah layak ekspor, kapan panen, dan siapa pembelinya. Inilah perbedaan antara menanam komoditas dan membangun usaha. Luas lahan tidak boleh menjadi indikator utama bila produktivitas, tingkat penolakan buah, biaya logistik, dan kepastian pasar belum dihitung.
Evergreen juga menyiapkan alur rumah kemas satu arah untuk memenuhi persyaratan ekspor, termasuk kebutuhan pasar Tiongkok, serta mengikuti promosi di Singapura. Pasar luar negeri tidak menerima buah hanya karena rasanya manis. Pembeli meminta konsistensi, ketertelusuran, sanitasi, label, volume, dan ketepatan waktu. Kubu Raya perlu memulai dari pasar yang nyata, kemudian menentukan varietas dan skala produksi. Membangun pabrik sebelum pasokan dan pembeli tersedia hanya akan menciptakan aset menganggur; memperluas kebun tanpa fasilitas pascapanen akan memperbesar kehilangan hasil.
Baca Juga Paulownia vs Acacia Crassicarpa: Pohon Cepat Tumbuh, Siapa yang Menikmati?
Refleksi dari Batu 12 akhirnya bukan ajakan menyalin Sarawak. Kondisi kelembagaan, infrastruktur, dan pasar Kalimantan Barat berbeda. Namun, logika usahanya dapat diadaptasi. Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dapat memulai klaster percontohan yang mempertemukan petani, penangkar benih, perguruan tinggi, pelaku logistik, pengolah, dan pembeli. Universitas perlu menguji varietas, formula pupuk, tata air, kualitas buah, dan emisi gambut berdasarkan data lapangan, bukan asumsi.
Kunci keberhasilan bukan tujuh juta buah atau seribu hektare semata. Ukurannya ialah pendapatan bersih petani, mutu gambut yang tetap terjaga, kontinuitas pasokan, proporsi buah yang terserap pasar, dan tumbuhnya produk olahan lokal. Dari meja sarapan Mom’s Cafe menuju kebun dan ruang presentasi Evergreen, kami belajar bahwa hilirisasi dimulai jauh sebelum pabrik berdiri. Ia dimulai ketika benih dipastikan, air diatur, panen dijadwalkan, mutu dicatat, dan pembeli dilibatkan.
Langkah konkret berikutnya bagi Kubu Raya ialah menyusun studi kelayakan klaster nanas gambut berbasis hamparan, lengkap dengan neraca air, analisis pasar, serta pembagian nilai yang adil bagi petani. Kajian itu perlu dilanjutkan melalui demplot beberapa varietas pada kedalaman gambut berbeda, pencatatan biaya transparan, dan kontrak pembelian bersyarat. Tanpa pengujian tersebut, perluasan areal berisiko mengulang pola lama: produksi dibesarkan, tetapi petani menanggung ketidakpastian harga dan kegagalan pasar.
Penulis: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
Ketua ICMI Orwil Kalbar
*Artikel ini merupakan ruang opini publik. Seluruh isi materi, sudut pandang, dan kebenaran data dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis serta tidak mencerminkan sikap, posisi, maupun opini resmi dari redaksi.