Perjalanan ke PBPH PT Wana Subur Lestari atau WSL bukan sekadar agenda verifikasi lapangan. Ia menjadi ruang belajar terbuka tentang bagaimana konsesi hutan tanaman, tata kelola gambut, keselamatan kerja, teknologi pemantauan, dan tanggung jawab sosial dapat dibaca lebih dekat. Dari Pontianak, rombongan bergerak melalui Sungai Kapuas menuju Camp WSL. Perjalanan air dari Sei Durian sampai kawasan Sei Kelabau ditempuh sekitar tiga setengah jam dengan dua speedboat 200 PK. Di atas sungai, bentang Kalimantan Barat menampilkan wajahnya yang khas: air, rawa, kanal, kampung, vegetasi, dan kerja manusia yang terus beradaptasi.
Tim Universitas Tanjungpura mendampingi Kepala Dinas LHK Kalbar, Bapak Adiyani, bersama jajaran bidangnya, antara lain Hairil, Agung, dan Abang Joni. Hadir pula Pak Rudi selaku Kepala KPH Kubu Raya, Ibu Yanti dari BPPEGM, serta jajaran teknis lainnya. Dari pihak perusahaan, rombongan disambut langsung oleh salah satu direktur WSL, Pak Tendi, bersama tim lapangan. Komposisi ini penting karena pengelolaan bentang gambut tidak mungkin selesai hanya dengan mandat perusahaan. Ia membutuhkan kerja pemerintah, akademisi, KPH, lembaga teknis, dan pelaku usaha.
Kesan awal muncul sejak di dermaga. WSL menampilkan pesan kuat tentang safety first. Papan informasi, kewajiban APD, larangan merokok, sepatu boot, helm, dan penanda bahaya api memberi sinyal bahwa keselamatan kerja tidak ditempatkan sebagai pelengkap administratif. Pada kawasan berbasis gambut dan hutan tanaman, keselamatan kerja berhubungan langsung dengan keselamatan ekologis. Api kecil dapat menjadi krisis besar. Kelalaian manusia dapat menghapus capaian teknis bertahun-tahun.
WSL mempekerjakan sekitar 380 pekerja. Sekitar 80 persen berasal dari Kalimantan Barat, terutama dari Kubu Raya dan sekitarnya, sedangkan 20 persen berasal dari luar daerah. Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengelola lahan, tetapi juga membuka ruang kerja bagi masyarakat lokal. Serapan tenaga kerja perlu diterjemahkan ke dalam peningkatan keterampilan, jenjang karier, dan transfer pengetahuan. Pekerja lokal sebaiknya dapat naik menjadi operator teknologi, pengawas lapangan, teknisi hidrologi, dan pengelola data.
Baca Juga Kopi Liberika, CUAN, dan Mimpi Hijau Batu Ampar
Sebelum tiba di camp, rombongan sempat berhenti di Pasar Kecamatan Kubu. Di situ, perjalanan teknis bertemu dengan denyut ekonomi lokal. Secangkir kopi liberika, sayur, tumis kecambah, ikan kembung goreng, udang galah, tahu, dan tempe menjadi pengingat bahwa ekonomi daerah hidup di meja makan, di warung pasar, di tangan pedagang, dan di rasa yang tumbuh dari tanah serta air setempat. Pembangunan berkelanjutan harus memberi ruang bagi ekonomi kecil seperti ini.
Di nursery Sei Kelabau, aspek produksi tampak lebih jelas. WSL memiliki nursery sekitar tiga hektare dengan kapasitas produksi sekitar enam juta bibit per tahun. Target tanam mencapai hampir 2.800 hektare, dengan jenis utama Acacia crassicarpa. Dalam konteks hutan tanaman, nursery adalah jantung produktivitas. Mutu bibit akan menentukan mutu tegakan, keberhasilan tanam, efisiensi biaya, dan stabilitas pasokan bahan baku. Namun, di lahan gambut, produktivitas tidak boleh dibaca hanya sebagai volume kayu. Ia harus dibaca bersama stabilitas muka air tanah, pengendalian kebakaran, dan perlindungan fungsi hidrologis.
Uji petik lapangan dilakukan pada beberapa titik penaatan. Pada MC5000, pengukuran 150 meter dari kanal menunjukkan kedalaman gambut 184 cm dan TMAT 22 cm. Pada jarak 300 meter dari kanal, kedalaman gambut 158 cm and TMAT 27 cm. Pada BC7003, titik 2.500 meter dari main canal menunjukkan kedalaman gambut 173 cm dan TMAT 31 cm. Titik 2.000 meter menunjukkan kedalaman 138 cm dan TMAT 26 cm, sedangkan titik 500 meter menunjukkan kedalaman 172 cm dan TMAT 20 cm. Data ini memberi pesan sederhana tetapi mendasar: gambut harus dikelola dengan angka, bukan dugaan.
Rombongan juga meninjau peat dam, spillway, serta teknologi pemantauan muka air tanah. Pada titik centroid Comp E071, sekitar 200 meter dari branch canal, sistem pemantauan real time menunjukkan bagaimana teknologi membantu memperpendek jarak antara data dan keputusan. Sensor mengambil data setiap jam, mencakup TMAT, kelembapan tanah, dan curah hujan. Data dari stasiun anak dikirim ke stasiun utama melalui gelombang radio, lalu diteruskan melalui satelit ke cloud, server, web, dan perangkat HP atau komputer. Data juga terhubung ke web TMAT KLH melalui API key.
Baca Juga Dari Pesisir Kalbar untuk Dunia: Kisah Benteng Hijau di Tengah Krisis Iklim Global
Inovasi lain yang menarik ialah Water Control Adjustment. Aplikasi sederhana ini membantu tim water management menentukan kapan pintu air perlu dibuka, ditutup, atau dibiarkan normal. Keputusan itu didasarkan pada kumulatif curah hujan lima hari, evapotranspirasi, level air saat pemantauan, serta sifat gambut yang memengaruhi respons aliran drainase. Aplikasi dapat digunakan secara offline, lalu data dan foto lapangan dapat dikirim melalui WhatsApp yang terintegrasi. Inovasi tidak harus rumit. Yang penting, ia menjawab kebutuhan lapangan dan memperbaiki kualitas keputusan.
Hari Jumat memberi jeda spiritual. Rombongan mengikuti salat Jumat bersama jemaah masjid perusahaan, lalu makan siang di mes utama. Dalam perjalanan lapangan seperti ini, ruang ibadah, ruang makan, dan ruang diskusi sering menjadi tempat lahirnya pemahaman yang lebih utuh. Verifikasi tidak hanya melihat angka, kanal, dan peta. Ia juga melihat manusia yang bekerja, beribadah, beristirahat, dan menjaga ritme hidup di tengah kawasan produksi.
Sore hari, agenda bergeser ke bekantan watching menyusuri cabang Sungai Kelabau dengan dua speedboat 25 PK bersama tim wildlife WSL. Bekantan sempat terjejak, meski suara mesin membuatnya segera menjauh. Sebagai gantinya, rombongan banyak menjumpai monyet ekor panjang. Momen ini memberi catatan penting. Kawasan PBPH bukan ruang kosong ekologis. Ia tetap menjadi habitat satwa, koridor kehidupan, dan penanda bahwa kegiatan produksi harus memiliki kepekaan biodiversitas.
Kunjungan ini meninggalkan satu refleksi utama. Pengelolaan hutan tanaman di atas gambut akan dinilai bukan hanya dari luas tanam dan jumlah bibit. Ia akan dinilai dari kemampuan menjaga air, mencegah api, menggunakan teknologi, menyerap tenaga lokal, menghormati biodiversitas, dan membuka ruang akuntabilitas. WSL telah menunjukkan beberapa fondasi penting. Tugas berikutnya ialah menjaga konsistensi, memperkuat transparansi data, memperluas pelibatan masyarakat, dan memastikan bahwa setiap kanal, bibit, sensor, serta pekerja bergerak dalam satu arah: produksi yang taat ekologi.
Kalimantan Barat membutuhkan model pengelolaan seperti ini untuk terus diperbaiki, bukan untuk dipuji berlebihan. Lapangan selalu memberi pelajaran yang lebih jujur daripada laporan. Di WSL, kita belajar bahwa keberlanjutan bukan slogan. Ia adalah pekerjaan harian, pengukuran berulang, keputusan kecil yang tepat waktu, dan kesediaan banyak pihak untuk duduk bersama di atas satu peta yang sama.
Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Untan dan Tim RPPEM Kalbar
*Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan redaksi. Segala pendapat, analisis, dan penilaian sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.