Bada subuh di mess utama camp PBPH Wana Subur Lestari (WSL), suasana masih hening. Kabut tipis menyelimuti kawasan rawa gambut di sekitar Sei Kelabau. Sambil menyeruput secangkir kopi hangat dan menunggu syuruq, saya membuka Surah ke-67, Al-Mulk. Surah yang terdiri atas 30 ayat ini terasa begitu dekat dengan kehidupan manusia dan kondisi Indonesia saat ini. Bukan sekadar tentang kekuasaan Allah, tetapi juga tentang amanah, ilmu, lingkungan, dan masa depan peradaban.
Paling tidak, terdapat sepuluh makna substansi penting yang dapat kita renungkan bersama.
Makna pertama adalah bahwa kekuasaan sejati hanya milik Allah. Allah berfirman:
Tabārakalladzī biyadihil mulku wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr
Baca Juga Kopi Liberika, CUAN, dan Mimpi Hijau Batu Ampar
“Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 1).
Ayat ini mengingatkan bahwa jabatan, kekayaan, dan kekuasaan hanyalah titipan. Tidak ada pemimpin yang kekal. Karena itu, kekuasaan harus dipahami sebagai amanah, bukan hak istimewa.
Makna kedua, hidup adalah ujian kualitas amal. Allah berfirman:
Alladzī khalaqal mauta wal hayāta liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala
Baca Juga WSL, Gambut, dan Pelajaran Pembangunan yang Bernapas
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2).
Allah tidak menyebut siapa yang paling banyak amalnya, tetapi siapa yang paling baik amalnya. Ukuran keberhasilan ternyata bukan kuantitas, melainkan kualitas, keikhlasan, dan manfaat bagi sesama.
Makna ketiga, alam semesta diciptakan dengan keseimbangan. Kerusakan lingkungan yang terjadi sesungguhnya merupakan akibat dari ulah manusia sendiri. Hutan ditebang, sungai tercemar, gambut terbakar, dan pesisir kehilangan mangrove. Padahal keseimbangan ekosistem merupakan fondasi keberlanjutan kehidupan.
Makna keempat, akal dan ilmu adalah anugerah besar. Penghuni neraka kelak menyesali sikap mereka.
Lau kunnâ nasma’u au na’qilu mâ kunnâ fî ashâbis sa’îr
“Sekiranya dahulu kami mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka.” (QS. Al-Mulk: 10).
Baca Juga Dari Pesisir Kalbar untuk Dunia: Kisah Benteng Hijau di Tengah Krisis Iklim Global
Ayat ini menegaskan pentingnya mendengar, belajar, dan menggunakan akal sehat. Bangsa yang mengabaikan ilmu akan tertinggal.
Makna kelima, Allah mengetahui segala yang tampak maupun tersembunyi. Tidak ada korupsi, manipulasi, dan pengkhianatan amanah yang luput dari pengawasan-Nya.
Makna keenam, manusia diperintahkan bekerja dan menjelajahi bumi.
Famsyû fî manākibihā wa kulû mir rizqih
“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15).
Islam tidak mengajarkan kemalasan. Produktivitas, inovasi, dan kerja keras merupakan bagian dari ibadah.
Makna ketujuh, kesombongan manusia dapat runtuh dalam sekejap. Bencana alam, banjir, kekeringan, dan perubahan iklim mengingatkan bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak bumi.
Baca Juga Menutup Kebocoran Devisa, Jangan Membocorkan Kesejahteraan Petani
Makna kedelapan, alam merupakan laboratorium ilmu pengetahuan. Burung yang terbang, langit yang bertingkat, dan keseimbangan alam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang mendorong manusia mengembangkan sains dan teknologi.
Makna kesembilan, harta dan kekuatan tidak menjamin keselamatan. Ketika manusia terlalu bergantung pada kekuasaan dan materi, mereka sering melupakan nilai moral dan spiritual.
Makna kesepuluh, yang terasa sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, adalah air merupakan amanah besar.
Allah berfirman:
Qul ara’aitum in ashbaha mâukum ghauran faman ya’tîkum bimâ’in ma’în
“Katakanlah, bagaimana pendapatmu jika sumber airmu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (QS. Al-Mulk: 30).
Ayat penutup Surah Al-Mulk ini seakan menjadi peringatan bagi seluruh bangsa. Selama ini kita sering menganggap air sebagai sesuatu yang selalu tersedia. Padahal banyak negara telah mengalami krisis air bersih. Konflik di masa depan bahkan diperkirakan lebih banyak dipicu oleh perebutan sumber daya air daripada energi.
Karena itu, Indonesia harus menjaga hutan, daerah aliran sungai, gambut, mangrove, dan mata air. Semua itu merupakan infrastruktur alami yang menjaga siklus hidrologi dan menopang kehidupan masyarakat.
Baca Juga Sigandul View: Dari Petani Tembakau ke Ekowisata Harapan Iduladha di Wonosobo
Dalam konteks kehutanan, keberadaan PBPH seperti WSL sesungguhnya memiliki tanggung jawab besar. Bukan sekadar memproduksi kayu, tetapi juga menjaga fungsi ekologis bentang alam. Hutan yang sehat berarti air yang terjaga. Air yang terjaga berarti keberlanjutan kehidupan bagi generasi mendatang.
Menunggu syuruq pagi itu di tengah hamparan hutan dan gambut Kalimantan Barat, Surah Al-Mulk mengingatkan saya bahwa sesungguhnya ukuran kemajuan bangsa bukan hanya pertumbuhan ekonomi atau tingginya gedung pencakar langit. Ukuran sesungguhnya adalah sejauh mana manusia mampu menjaga amanah yang dipercayakan Allah kepadanya.
Dan mungkin, di antara seluruh amanah itu, air adalah salah satu yang paling menentukan masa depan peradaban manusia.
Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
Ketua ICMI Orwil Kalbar
*Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan redaksi. Segala pendapat, analisis, dan penilaian sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.