Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta paparan kabut asap dan kemarau panjang yang melanda Kalimantan Barat mulai menekan perputaran ekonomi serta memicu fluktuasi harga bahan pokok dan komoditas sayuran di Pasar Flamboyan, Pontianak, pada Sabtu (17/10/2026).
Situasi cuaca ekstrem tersebut tidak hanya memicu lonjakan harga komoditas rentan seperti cabai dan olahan tepung, tetapi juga menurunkan daya beli masyarakat akibat warga enggan beraktivitas di luar rumah.
Pedagang cabai di Pasar Flamboyan, Ibu Ana, mengungkapkan bahwa minimnya pasokan akibat cuaca kemarau sempat membuat harga cabai merah melambung sangat tinggi hingga menyentuh angka Rp140.000 per kilogram.
“Malah kemarin ada yang 100 lebih. Pernah 140. Pasokannya kurang. Dampak sekali, Dek,” tutur Ibu Ana.
Baca Juga Karhutla Masih Marak di Kalteng, Dinkes Palangka Raya Siagakan 11 Puskesmas dan Pasokan Oksigen
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai, melainkan merembet ke komoditas lain seperti tomat, disusul sepinya pembeli akibat kabut asap.
“Rata-rata barang naik semua. Pembeli juga sepi,,” lanjutnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada konsumen. Ibu Desi, seorang pembeli di Pasar Flamboyan, mengaku terpaksa memangkas porsi belanjanya demi menghemat pengeluaran.
“Agak mahal sih. Iya, jadi belinya tuh agak diirit-irit sedikitlah. Mau tak mau beli sikit jelah, asal bisa cukup ja,” keluh Ibu Desi.
Baca Juga 93 Perusahaan Terindikasi Karhutla Terafiliasi Grup Asal Singapura dan Malaysia
Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi normal biasanya membeli setengah kilogram cabai seharga Rp50.000, namun kini terpaksa menyiasatinya dengan membeli serba sedikit.
Dampak pekatnya kabut asap turut dirasakan oleh pedagang daging ayam potong, Aspan, yang melaporkan penurunan omset dan volume penjualan akibat lesunya kunjungan masyarakat ke pasar.
“Sangat-sangat berdampak, buat pedagang, khususnya di Pasar Flamboyan lah. Biasanya kan kita stoknya banyak, ini udah para agen juga udah nggak berani banyak nyetok ayamnya, Bang. Karena itu, orang-orang kan pada takut keluar rumah,” papar Aspan.
Ia menyebutkan bahwa pendapatan pedagang mengalami penurunan berkisar 20 hingga 30 persen dibanding hari biasa.
Di sisi lain, pedagang sembako, Koko Tomi, menjelaskan bahwa dampak karhutla dan musim kemarau tidak terlalu memengaruhi komoditas utama seperti beras, minyak goreng, dan telur.
Namun, komoditas olahan seperti tepung gandum dan tapioka mengalami kenaikan harga modal dari distributor, yang berdampak pada produk turunan seperti kerupuk.
Baca Juga Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya, Disdik Palangka Raya Perpanjang PJJ Hingga 17 Oktober
“Stok sih aman, cuma tepung naik banyak. Dari modal Rp10.000 naik jadi Rp11.000 tepung gandum. Tapioka naik, otomatis kerupuk naik. Kerupuk sekilo naik sampai Rp3.000 sampai Rp5.000 per kilonya,” ujar Koko Tomi.
Koko Tomi menambahkan, untuk komoditas sayuran seperti timun dan kangkung kini mulai berangsur normal setelah sempat melonjak saat puncak kemarau.
“Sayur sudah normal sih. Bulan lalu kan gara-gara kemarau, timun biasanya Rp8.000 jadi Rp30.000, sekarang sudah normal sih. Kangkung sudah Rp5.000 sekilo,” terangnya.
Sementara itu, untuk komoditas bumbu dapur, Ramadi (52), pedagang bawang di Pasar Flamboyan, menyampaikan bahwa harga bawang merah dan bawang putih masih bertahan stabil di angka Rp30.000 per kilogram dalam dua bulan terakhir.
Meski demikian, ia menerima informasi adanya potensi kenaikan harga bawang merah dalam waktu dekat.
“Bawang putih sama bawang merah sekarang harganya masih normal sih, Rp30.000 per kilonya. Kalau dari Jawa sih infonya udah naik harganya, tapi belum sampai Pontianak,” kata Ramadi.
Ramadi juga membeberkan bahwa penurunan jumlah pembeli saat puncak kabut asap sangat memukul aktivitas perdagangan di pasar.
Baca Juga Tarif Parkir Roda Empat Bandara Supadio Resmi Naik, Manajemen Tingkatkan Fasilitas dan Teknologi
“Kalau bulan-bulan yang kemarin itu yang musim kabut tu kan, itu memang sepi, memang benar-benar sepi itu,” pungkasnya.
Menanggapi kondisi ini, para pelaku pasar berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dan memprioritaskan pemulihan kebutuhan dasar masyarakat guna menjaga stabilitas pasokan serta memulihkan daya beli pasar.
(Hendra)