Min, 09/08/26 · 06.57.20
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Terancam Karhutla, Orangutan Jantan di Ketapang Dievakuasi Tim Gabungan

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Minggu, 9 Agustus 2026 · 12:123 menit baca
Terancam Karhutla, Orangutan Jantan di Ketapang Dievakuasi Tim Gabungan
Tim gabungan BKSDA Kalbar dan YIARI evakuasi orangutan jantan yang terjebak karhutla dan perkebunan warga di Kuala Tolak, Ketapang. (Dok. YIARI)

Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, YIARI, dan PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha) mengevakuasi satu individu orangutan jantan dari area perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kamis, (6/8/2026).

Evakuasi terhadap satwa yang diberi nama Wak tersebut digelar untuk memitigasi potensi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mencegah konflik satwa dengan masyarakat.

Sebelum dievakuasi, kehadiran orangutan tersebut pertama kali ditemukan oleh warga di perkebunan buah pada Juli 2026.

Polresta Pontianak Pikirkan Penyelundupan 593 Kg Sisik dan Kuku Trenggiling
Baca Juga

Polresta Pontianak Pikirkan Penyelundupan 593 Kg Sisik dan Kuku Trenggiling

Lahan hutan yang terbakar dan terfragmentasi di sekitar kawasan pemukiman disinyalir mendorong satwa liar keluar untuk mencari ruang aman dan pakan.

Kejadian konflik satwa di kawasan perbatasan desa tersebut dilaporkan bukan pertama kali terjadi, menyusul rekam jejak kasus penyelamatan serupa pada kurun waktu 2015 dan 2019.

“Orangutan keluar ini juga masalahnya habitatnya ini terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia ini cari tempat yang aman untuk cari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi,” kata warga Desa Kuala Tolak Morsali, Kamis, (6/8/2026).

Siklus karhutla yang merusak habitat dinilai berdampak langsung terhadap kerugian ekonomi masyarakat akibat kerusakan tanaman perkebunan.

Karhutla 29 Hektar Teror Pusat Orangutan YIARI Ketapang, Satgas Karhutla Lakukan Operasi Pemadaman Udara
Baca Juga

Karhutla 29 Hektar Teror Pusat Orangutan YIARI Ketapang, Satgas Karhutla Lakukan Operasi Pemadaman Udara

Dampak bencana asap dan pembakaran hutan yang tidak terkendali juga disebut telah mengancam keselamatan jiwa manusia di wilayah setempat.

“Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga. Di sisi lain, masyarakat mengalami kerugian ekonomi karena tanaman rusak dan rasa takut meningkat. Artinya, orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama. Situasi ini juga menimbulkan beban besar bagi negara, baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat,” ujar Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul, Kamis, (6/8/2026).

Peningkatan eskalasi kejahatan lingkungan serta pembakaran kawasan dinilai telah menggeser isu lingkungan menjadi krisis keselamatan publik.

“Yang lebih memprihatinkan, kebakaran di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga krisis keselamatan manusia, satwa liar, dan masa depan bentang alam kita,” tambah Silverius.

Usai menjalani pemeriksaan teknis pasca-evakuasi, orangutan jantan tersebut langsung dipindahkan dan dilepasliarkan kembali ke areal konsesi hutan gambut PT Mopakha.

Lokasi pemulangan dipilih berdasarkan pertimbangan ketersediaan pakan, ketebalan tutupan tajuk, serta jangkauan bentang hutan yang aman.

Ditemukan di Arboretum Sylva Untan, Trenggiling Jantan Dievakuasi ke BKSDA Kalbar
Baca Juga

Ditemukan di Arboretum Sylva Untan, Trenggiling Jantan Dievakuasi ke BKSDA Kalbar

“Di tengah upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan, PT Mohairson Pawan Khatulistiwa turut merespons cepat informasi mengenai satu individu orangutan jantan yang terjebak di area perkebunan masyarakat di Tanjung Jorong, Desa Kuala Tolak. Bersama BKSDA, YIARI, dan tim biodiversity perusahaan, proses penyelamatan dilakukan sejak pagi hingga orangutan berhasil dilepasliarkan kembali pada sore hari di area utara konsesi perusahaan. Lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian teknis yang menunjukkan kondisi habitat masih baik, memiliki tutupan tajuk yang memadai, serta ketersediaan pakan yang cukup. Perusahaan berkomitmen mendukung pemantauan lanjutan agar orangutan tersebut dapat beradaptasi dengan baik di habitat alaminya,” kata General Manager PT Mopakha Wendi Tamariska.

Langkah translokasi satwa liar diposisikan sebagai skema mitigasi darurat dalam menekan kerugian di kedua belah pihak.

Otoritas konservasi menekankan bahwa pengawasan dan penegakan hukum atas aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar wajib diperketat.

“Penanganan ini menunjukkan pentingnya kerja bersama antara pemerintah, lembaga konservasi, perusahaan, dan masyarakat. Translokasi dilakukan bukan semata-mata untuk memindahkan satwa, tetapi sebagai langkah mitigasi konflik agar keselamatan orangutan dan warga sama-sama terjaga. Kita ketahui bersama bahwa habitat satwa liar khususnya orangutan semakin terdesak akibat fragmentasi habitat ditambah lagi dengan adanya kebakaran hutan dan lahan. Untuk itu diperlukan komitmen semua pihak dalam menjaga kekayaan alam kita untuk mendukung kualitas kehidupan semua makhluk,” jelas Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane.

(Dayank Ana)