Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat koordinasi terpadu lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah guna mengoptimalkan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, Jumat, (11/9/2026).
Langkah penguatan operasi darurat tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Wakil Presiden Gibran Rakabuming kepada Kepala BNPB, Suharyanto, saat meninjau Posko Penanganan Darurat Karhutla di Guntung Damar, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Dalam pengarahannya, Wapres menekankan perlunya perlindungan ekstra bagi kelompok masyarakat rentan yang terpapar kabut asap serta percepatan pemadaman titik api di sekitar fasilitas pendidikan.
Fokus mitigasi dampak kesehatan bagi warga rentan disampaikan oleh Wakil Presiden, Gibran Rakabuming.
“Kami meminta Bapak Kepala BNPB agar memberikan atensi penuh penanganan darurat karhutla, khususnya kelompok rentan yang terdampak asap karhutla,” jelas Gibran Rakabuming, Kamis, (10/9/2026).
Prioritas pemadaman di sekitar lingkungan belajar mengajar kembali ditegaskan dalam instruksi lanjutannya.
“Untuk daerah yang dekat dengan sekolah, tolong menjadi prioritas pemadaman,” kata Wapres Gibran.

Keputusan terkait pembukaan kembali kegiatan persekolahan tatap muka juga diminta untuk mempertimbangkan masukan para orang tua murid. Pertimbangan keselamatan peserta didik di Kalimantan Selatan disampaikan dalam arahannya.
“Untuk wilayah Kalsel, saya memberikan instruksi agar sebelum membuka kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat dikoordinasikan dengan pihak keluarga,” imbuhnya.
Dampak buruk paparan asap karhutla tecermin dari data di Kalimantan Barat per 8 September 2026, dengan capaian Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) PM 2,5 pada kategori Berbahaya, jarak pandang di bawah 1 kilometer, timbulan 1.337 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta perpanjangan masa belajar dari rumah hingga 11 September 2026.
Merespons kondisi tersebut, BNPB mengerahkan 15.091 personel satgas darat gabungan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dunia usaha, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk memadamkan 31 titik api prioritas di wilayah Kubu Raya, Mempawah, Ketapang, dan Singkawang, dengan capaian pemadaman 155,96 hektare dari total 691,74 hektare lahan terbakar.
Pada jalur udara, BNPB menyiagakan 2 helikopter patroli dan 9 helikopter pengebom air (water bombing), termasuk penjatuhan 520.000 liter air lewat 84 kali penyiraman helikopter Sikorsky EH-60A dan Mi-17-IV di Desa Sungai Pelang, Negeri Baru, dan Sungai Besar, Kabupaten Ketapang.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut dipacu menggunakan 1 pesawat Cassa NC-2121 TNI AU dan 2 armada Cessna Grand Caravan untuk menyemai garam NaCl di langit Sanggau, Sekadau, Sintang, Kubu Raya, Melawi, Ketapang, hingga Kayong Utara. Kesiapan posko penyemaian awan hujan dijelaskan oleh Kepala BNPB, Suharyanto.
“Kami sudah punya posko OMC dan setiap hari berkoordinasi dengan BMKG. Sejalan dengan arahan bapak Presiden dan Wakil Presiden, sekecil apapun ada peluang pertumbuhan awan maka laksanakan OMC, termasuk di daerah di sekitar Kalimantan dan Sumatra tidak ada karhutlanya untuk membasahi lahan agar api tidak meluas,” ungkap Suharyanto.
BNPB memastikan mobilisasi logistik darurat, pemenuhan alat pelindung diri personel darat, serta penyelarasan strategi pemadaman terpadu terus diperketat demi menjamin keselamatan masyarakat dari ancaman asap karhutla.
(Rudi)