Ketimpangan akses pendidikan masih menjadi hambatan besar bagi kemajuan Kalimantan Barat. Dalam Seminar Nasional Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-40 di Rumah Radakng, Pontianak, Selasa (19/5/2026), Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, memaparkan data mengenai tingginya angka putus sekolah di wilayah tersebut.

Merujuk pada Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024, tercatat sebanyak 82.471 anak usia 16 hingga 18 tahun atau setara usia SMA di Kalimantan Barat berstatus tidak bersekolah atau belum pernah mengenyam pendidikan.
“Sekarang saya ingin melihat Kalimantan Barat, Kalimantan Barat itu anak-anak yang usia 16 sampai 18 tahun yang belum sekolah dan tidak sekolah lagi itu ada 82.471. Ini adalah PR bagi kita,” ungkap Fauzan saat menyampaikan presentasi ilmiahnya selaku pembicara kunci.
Buka Pekan Gawai Dayak ke-40, Ria Norsan Sebut PGD Milik Seluruh Masyarakat Kalbar
Pemerintah pusat menilai intervensi terhadap ketertinggalan di level daerah bersifat mendesak. Pasalnya, angka partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia saat ini baru mencapai 32,89 persen, masih di bawah rata-rata dunia yang sudah menyentuh angka 40 persen.

Menanggapi paparan tersebut, Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, memberikan refleksi kritis mengenai masa depan masyarakat lokal. Ia menegaskan bahwa masalah putus sekolah berkaitan erat dengan risiko masyarakat adat untuk terpinggirkan di tengah arus globalisasi.
“Saya tidak ingin warga Dayak menjadi pemeran figuran, tetapi saya ingin Dayak menjadi pemeran utama dalam sebuah sinetron yang saya sebut judulnya Kalimantan Barat,” ujar Krisantus Kurniawan.
APBD Terbebani Gaji PPPK, Wagub Krisantus Tuntut DBH Adil ke Banggar DPR RI
Ia menambahkan bahwa instrumen utama untuk mengubah kondisi tersebut adalah melalui rekonstruksi pola pikir (mindset) lewat jalur pendidikan serta pengembangan kompetensi SDM yang mumpuni.
“Warga Dayak bisa berhasil guna. Berdaya guna dan berhasil guna, tentu kuncinya tidak lain dan tidak bukan adalah bagaimana mindset pola pikir lewat pendidikan, lewat sumber daya manusia, pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang mumpuni, yang mampu menyesuaikan dengan kemajuan teknologi saat ini,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Fauzan selaku Wamen Dikti mengungkapkan rencana strategis kementerian untuk membentuk konsorsium perguruan tinggi di Kalimantan Barat. Ekosistem ini diharapkan dapat memperkuat pembangunan dan menyiapkan masyarakat daerah dalam menghadapi dinamika regional.
“Saya sudah tadi menyampaikan ke Pak Wagub, tentu ini juga harus direspon dengan konkret, dengan cara apa, yaitu membentuk semacam konsorsium perguruan tinggi yang ada di Kalimantan Barat. Jadi ada konsorsium perguruan tinggi, nanti akan kita buat satu ekosistem dalam rangka untuk memperkuat pembangunan di Provinsi Kalimantan Barat,” pungkas Fauzan.
(Hendrawan)
