Perhelatan Konferensi Nasional Sylva Indonesia (KNSI) 2026 di Universitas Tanjungpura (Untan) bukan sekadar ajang kumpul mahasiswa biasa. Pertemuan delegasi dari 24 universitas se-Indonesia ini digadang-gadang menjadi kawah candradimuka bagi calon pemimpin nasional di sektor lingkungan.
Gusti Hardiansyah, salah satu akademisi senior di Fakultas Kehutanan Untan, menyoroti rekam jejak Wakil Menteri (Wamen) LHK saat ini sebagai bukti nyata. Ia mengingatkan bahwa pemimpin besar seringkali lahir dari forum-forum mahasiswa seperti ini.
“Pak Wamen ini sebenarnya adalah produk dari konferensi Sylva kurang lebih 10 tahun yang lalu. Dulu beliau mahasiswa, dan hari ini menjadi wakil menteri,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (18/5/2026).
Melihat kesuksesan tersebut, ia menaruh harapan tinggi bagi para peserta yang berkumpul di Pontianak tahun ini.
HUT Ke-80 Bhayangkara, Kapolda Kalbar Tekankan Integritas dan Pelayanan Humanis
“Harapannya ke depan, dari peserta yang ikut ini ada yang menjadi menteri. Barangkali itu harapan besarnya,” tambah Gusti.
Ketua Panitia KNSI 2026, Fransiskus Niki, mengakui atmosfer konferensi tahun ini terasa berbeda karena kehadiran tamu-tamu istimewa.
“Pembeda dari kegiatan sebelumnya, Bapak Wamen hadir secara langsung, kemudian Bapak Gubernur Kalbar juga hadir. Ini hal yang sangat membedakan bagi kami di Untan,” kata Niki.
Empat Tahun Absen, PWNU Kalbar Pertanyakan Alokasi Hibah Bansos Pemprov

Namun, di tengah mimpi besar menjadi pemimpin, para mahasiswa ini diingatkan untuk tetap mengakar ke bawah. Sekretaris Jenderal Sylva Indonesia, Wahyu Agung, menegaskan bahwa tugas rimbawan muda adalah mengawal hak masyarakat adat.
“Saya mengajak Sylva Indonesia dapat membersamai dan mendampingi masyarakat adat. Kita berdiskusi bagaimana memperkuat perlindungan hutan adat agar masyarakat tetap punya ruang hidup,” tegas Wahyu.
(Dayank Ana)

