Sab, 18/07/26 · 02.54.51
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Dari Meja Tongkrongan ke Panggung Tawa: Mengintip Subkultur Unik Komunitas Stand-Up Indo Pontianak

Hendrawan
Hendrawan
Selasa, 2 Juni 2026 · 22:574 menit baca
Dari Meja Tongkrongan ke Panggung Tawa: Mengintip Subkultur Unik Komunitas Stand-Up Indo Pontianak
Mengintip geliat subkultur Stand Up Indo Pontianak. Menolak vakum, para komika lokal sukses hidupkan ekosistem komedi tunggal lewat panggung kreatif warung kopi. (Dok. Hendrawan)

Fenomena stand-up comedy di Indonesia mulai ramai sejak tahun 2011, saat kompetisi komedi tunggal ini tayang di televisi nasional. Sejak itu, industrinya berkembang cepat di kota-kota besar. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fokusnya mulai bergeser. Tidak lagi hanya berpusat pada panggung besar di Jakarta, tetapi mulai tumbuh kuat lewat komunitas-komunitas di daerah.

Era digital juga membuka peluang baru. Lewat media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok, penyebaran konten komedi jadi lebih luas dan bisa langsung sampai ke penonton tanpa batasan jarak.

Di Pontianak, fenomena ini tumbuh mandiri secara alami. Para komika memanfaatkan warung kopi lokal yang banyak tersebar di kota ini sebagai tempat latihan (open mic) mingguan. Lewat materi yang memakai bahasa sehari-hari dan mengangkat masalah sosial di Kalimantan Barat, komedi tunggal di Pontianak tidak cuma jadi hiburan penghilang stres. Tempat ini juga jadi ruang alternatif bagi anak muda untuk menyampaikan kritik dan keresahan mereka.

Gerakan ini sebenarnya sudah dimulai sejak akhir tahun 2011 lewat dibentuknya komunitas Stand Up Indo Pontianak pada bulan Desember. Perjalanannya tentu punya cerita jatuh bangun. Komunitas ini sempat mengalami masa pasang surut, bahkan sempat vakum total karena pembatasan tempat umum selama pandemi Covid-19.

Audiensi dengan Pertamina, Bupati Ketapang Fokuskan Pemenuhan BBM untuk Sektor Perikanan dan Kawasan 3T
Baca Juga

Audiensi dengan Pertamina, Bupati Ketapang Fokuskan Pemenuhan BBM untuk Sektor Perikanan dan Kawasan 3T

Namun, komunitas ini berhasil bangkit lagi berkat kerja sama antaranggota dari berbagai generasi. Sekarang, mereka sudah memiliki 33 komika aktif. Lewat acara bersama seperti Nova Ignis, pertunjukan tahunan Stand-Up Nite (SUN), hingga panggung terbaru bernama Tumbuh Kembang Komik, ekosistem komedi lokal akhirnya hidup kembali.

Salah satu anggota yang aktif di Stand Up Indo Pontianak adalah Muhammad Fahmi Hanif (21). Ia menceritakan pengalamannya merasakan suka duka di dunia komedi ini sejak masih duduk di bangku SMA. Bagi Hanif, menjadi komika di Pontianak menciptakan gaya hidup unik yang selalu penuh dengan candaan. Di dalam komunitas, suasananya jarang sekali terasa kaku atau serius karena batas antara nongkrong santai dan mencari ide materi komedi sangatlah tipis.

Kebiasaan saling melempar candaan sehari-hari menjadi cara alami mereka untuk melatih kelucuan. Dari obrolan santai di warung kopi itulah, berbagai masalah di masyarakat Pontianak dibahas, lalu disusun menjadi materi komedi yang siap dibawakan di atas panggung.

“Kalau itu mungkin hari-hari kita diisi dan dipenuhi dengan bercanda kali. Gak susah atau jarang kita menemui anak-anak komunitas yang serius. Seriusnya anak komunitas adalah ketika kita bikin materi. Udah sisanya ya guyon-guyon aja sih. Paling kalau ditanya lifestyle, gaya hidup, malam kita aktif, pagi kita tidur,” ujar Hanif saat di Lokale pada Senin, (1/6/2026).

Dukung Swasembada, Kejati Kalbar Hadiri Panen Raya Ketahanan Pangan di Kubu Raya
Baca Juga

Dukung Swasembada, Kejati Kalbar Hadiri Panen Raya Ketahanan Pangan di Kubu Raya

Menariknya, keberagaman komunitas ini terlihat dari latar belakang anggotanya yang bermacam-macam. Hanif menjelaskan bahwa komunitas ini sangat terbuka dan menerima siapa saja yang suka stand-up comedy, tanpa memandang status sosial. Di Stand Up Indo Pontianak, profesi anggotanya sangat beragam mulai dari dokter, penjual mobil, ustaz, guru, dosen, hingga mahasiswa. Bahkan, komunitas ini juga menjadi tempat berkumpul bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan.

“Yang terlibat rata-rata ya orang-orang yang hobi stand up ya latar belakang masing-masing orang itu beda-beda kita ada yang profesinya dokter ada yang jual beli mobil, ada yang ustaz, ada yang guru, ada yang dosen, ada yang mahasiswa kayak aku, sisanya pengangguran pencari kerja,” ungkap Hanif santai.

Selain terbuka untuk berbagai profesi, Stand Up Indo Pontianak juga sangat ramah bagi para pemula. Hanif menegaskan bahwa di dalam komunitas ini tidak ada perbedaan antara senior dan junior. Setiap orang baru yang tertarik belajar komedi tunggal pasti akan disambut dengan baik.

“Nggak ada sih sebenarnya kalau di sini, nggak ada senioritas. Kita welcome-welcome aja, welcome banget malahan. Maksudnya kita pasti menyambut orang yang punya ketertarikan sama dengan kita. Kita ngajarinnya pun seneng-seneng aja gitu,” tegas Hanif.

Mengenai proses pembuatan materi, Hanif menekankan bahwa stand-up comedy adalah seni yang harus langsung dipraktikkan di panggung, bukan cuma sekadar teori. Menurutnya, paham teori dasar komedi seperti premise, set up, dan punchline tidak akan ada gunanya kalau tidak pernah dicoba langsung di depan penonton. Kenyataannya, banyak komika pemula yang justru lebih cepat pintar karena berani langsung tampil di panggung open mic.

“Udah pasti kalo jadi komik prosesnya nulis sih nulis materi ya stand up ini kan sebetulnya seni praktik maksudnya kita udah tahu nih teorinya anggaplah kita udah tahu dan paham teorinya. Itu tuh gak ada artinya kalau kita gak nyoba gitu,” ungkapnya menjelaskan proses kreatif.

Uji Laboratorium DLH: Kualitas Air Parit di Pontianak Meningkat 50 Persen Usai Diberi Eco Enzyme
Baca Juga

Uji Laboratorium DLH: Kualitas Air Parit di Pontianak Meningkat 50 Persen Usai Diberi Eco Enzyme

Soal urusan bayaran atau honor (fee), Hanif menjelaskan bahwa hal itu sangat fleksibel dan tergantung pada teknis acara. Menurutnya, besaran bayaran ditentukan lewat kesepakatan bersama yang melihat siapa penyelenggaranya, seberapa besar acaranya, ada tidaknya sponsor besar, serta durasi tampil di atas panggung.

Sebagai penutup, Hanif berharap agar industri stand-up comedy di Pontianak bisa segera terbentuk dengan baik. Saat ini, tantangan terbesar komunitas adalah masih sedikitnya penonton lokal yang paham atau tertarik dengan komedi tunggal. Kondisi ini sering membuat para komika kesulitan menyampaikan materi mereka karena penonton belum terbiasa. Ia yakin, jika industri komedi sudah berjalan lancar, apresiasi dari masyarakat akan meningkat dan pertunjukan komedi di daerah akan terus hidup.

“Harapan untuk komunitas sendiri kedepannya itu sebetulnya lebih ke semoga industri stand-up di Pontianak itu terbangun lah. Karena salah satu tantangan dari komunitas ini adalah di Pontianak sendiri belum banyak orang yang terpapar atau yang into banget sama stand-up gitu sebagai penonton. Jadi kadang kita tuh kesulitan dalam menyampaikan materi kita,” tutup Hanif.

Keinginan untuk membangun industri komedi di Pontianak tampaknya akan segera mendapat momentum besar. Pada Sabtu, (6/6/2026) mendatang, komunitas ini siap menggelar acara Standupindo Tour Pontianak yang bertempat di Hotel Ibis Pontianak City Center.

(Hendrawan)