Sab, 18/07/26 · 04.36.43
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Dokumenter Pesta Babi: Refleksi Kerusakan Hutan Kalimantan dan Peringatan atas Rencana PLTN Bengkayang

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Rabu, 13 Mei 2026 · 03:232 menit baca
Dokumenter Pesta Babi: Refleksi Kerusakan Hutan Kalimantan dan Peringatan atas Rencana PLTN Bengkayang
Diskusi dokumenter Pesta Babi di PMKRI Pontianak mengungkap wajah warisan ketamakan melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mengancam kelestarian hutan Kalimantan. (Dok. Fatoni/Nusantara Post)

Pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” sukses terselenggara di Margasiswa PMKRI Cabang Pontianak pada Rabu (13/5/2026). Kurang lebih dua ratus orang tampak memadati ruangan untuk menyaksikan secara bersama-sama dokumenter yang disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Capry Dale tersebut.

Bagi PMKRI Pontianak, dokumenter tersebut menjadi bahan evaluasi dan ruang refleksi terutama dikaitkan dengan tutupan Hutan Kalimantan Barat semakin berkurang dan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Endro Ronianus, Komda PMKRI Kalbar sekaligus pemantik diskusi, menegaskan bahwa apa yang tersaji dalam dokumenter relevan langsung dengan kondisi yang tengah dihadapi Kalimantan Barat.

“Dari Pesta Babi ini, beberapa hal yang memang kami simpulkan bahwa bicara soal tanah dan hutan itu tidak main-main. Kalau dikaitkan dengan Kalbar, ada program pusat berkaitan dengan PLTN yang akan didirikan di Kabupaten Bengkayang. Ini tentu jadi warning bagi masyarakat Kalbar untuk tidak terkecoh ini adalah kolonialisme gaya baru. Belajar dari beberapa tempat, PLTN ini fatal sekali, baik bagi masyarakat setempat soal radiasi maupun keberlanjutan hidup ke depannya,” tegasnya.

Data Pemkot: 72 Persen Pelaku UMKM di Pontianak Didominasi Perempuan
Baca Juga

Data Pemkot: 72 Persen Pelaku UMKM di Pontianak Didominasi Perempuan

Salah seorang penonton dokumenter, yakni mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untan, Nazwa Salma, turut angkat bicara mengenai dokumenter tersebut. Ia menghubungkan teori yang didapat di bangku kuliah dengan rekaman nyata dalam dokumenter itu.

"Nazwa Salma mahasiswa Administrasi Publik Untan berikan tanggapan terkait dokumenter Pesta Babi."
Nazwa Salma mahasiswa Administrasi Publik Untan berikan tanggapan terkait dokumenter Pesta Babi.

“Melalui Pesta Babi, saya dapat melihat kepentingan perusahaan besar. Dari kacamata Administrasi Publik, teori New Public Service (NPS) yang lebih mengedepankan kenyamanan dan pelayanan kepada masyarakat tidak terwujud dalam film ini,” ujar Salma saat diwawancarai.

Proyek yang direncanakan dari satu presiden ke presiden lainnya dalam pandangan Salma cenderung sama saja, yakni terjebak dalam kerusakan akibat ketamakan.

“Hutan di Papua dan Kalimantan yang sekiranya dapat menjadi paru-paru dunia rusak karena keserakahan beberapa oknum. Proyek yang dicanangkan oleh Presiden Soeharto, SBY, Jokowi, hingga Prabowo hasilnya sama saja, mengarah pada kehancuran,” keluhnya.

Audiensi dengan Pertamina, Bupati Ketapang Fokuskan Pemenuhan BBM untuk Sektor Perikanan dan Kawasan 3T
Baca Juga

Audiensi dengan Pertamina, Bupati Ketapang Fokuskan Pemenuhan BBM untuk Sektor Perikanan dan Kawasan 3T

Salma juga menyampaikan harapannya agar hasil dokumenter ini menjadi acuan untuk berkaca dan mengembalikan segala hal pada porsi masing-masing, serta menerapkan penuh sila kelima Pancasila.

“Saya rasa film ini menjadi acuan kepada kita semua sebagai masyarakat dan akademisi untuk melihat peran masyarakat dalam membantu sesama. Mengingat sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, ini penting untuk kembali kita agungkan,” pungkasnya.

(Dayank Ana Sebalu)