Mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan) melakukan ekskursi lapangan mendalam di Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakedai, pada 16-17 Mei 2026. Kegiatan ini mengungkap fakta mengkhawatirkan mengenai kerentanan wilayah pesisir terluar Kabupaten Kubu Raya terhadap ancaman abrasi dan perubahan iklim.
Melalui mata kuliah Perubahan Iklim dan Kebencanaan, para mahasiswa mengidentifikasi bahwa Desa Kuala Karang yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna mengalami pengikisan bibir pantai rata-rata 12 meter setiap tahunnya. Kondisi ini diperparah oleh minimnya infrastruktur mitigasi bencana di lapangan.
Dampak Nyata Abrasi Menahun
Temuan mahasiswa menunjukkan bahwa bencana pesisir ini telah melenyapkan daratan yang dulunya merupakan kawasan permukiman produktif. Seluruh daratan di RT 07 tercatat hilang pada tahun 2021, disusul oleh RT 06 pada tahun 2023. Bahkan, gedung SDN 12 Kuala Karang turut hancur diterjang abrasi pada 2024 lalu.

Audiensi dengan Pertamina, Bupati Ketapang Fokuskan Pemenuhan BBM untuk Sektor Perikanan dan Kawasan 3T
Ketua Lembaga Desa Pengelola Hutan (LDPH) Kuala Karang memberikan kesaksian mengenai perubahan drastis lingkungan mereka.
“Dulu tahun 1985 desa ini ramai sekali. Tapi lama-lama cuaca berubah, abrasi makin tahun makin makan daratan kita. Sekolah hancur, masjid rusak. RT 6 dan RT 7 kampung tempat orang tinggal sekarang sudah tidak ada, termakan laut,” ungkapnya.
Selain kehilangan lahan, warga juga menghadapi krisis air bersih akibat intrusi air laut yang membuat sumur menjadi payau. Hal ini berdampak langsung pada ekonomi warga karena harga kebutuhan pokok menjadi 20-30 persen lebih mahal akibat biaya angkut air bersih.
Evaluasi Kapasitas dan Mitigasi
Dari sisi kapasitas kelembagaan, tim mahasiswa menemukan celah besar dalam penanganan bencana. Desa Kuala Karang hingga kini belum memiliki:
Dukung Swasembada, Kejati Kalbar Hadiri Panen Raya Ketahanan Pangan di Kubu Raya
-
Jalur evakuasi dan titik kumpul resmi.
-
Sistem peringatan dini (Early Warning System).
-
Kelompok Desa Tangguh Bencana (DESTANA).
Program bantuan yang ada, seperti relokasi 30 unit rumah, dinilai belum optimal karena unit yang disediakan dianggap kurang memadai untuk menampung satu keluarga secara layak.

Rekomendasi Strategis Mahasiswa
Berdasarkan hasil penelitian lapangan, mahasiswa PWK Teknik Untan mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah konkret:
Uji Laboratorium DLH: Kualitas Air Parit di Pontianak Meningkat 50 Persen Usai Diberi Eco Enzyme
-
Pembentukan DESTANA: Membangun kemandirian masyarakat dalam menghadapi bencana melalui pendampingan BPBD.
-
Infrastruktur Fisik: Prioritas pembangunan pemecah ombak di titik permukiman aktif dan percepatan restorasi mangrove secara masif.
-
Relokasi Humanis: Mendesak kebijakan relokasi yang tidak hanya memindahkan rumah, tapi juga menjamin keberlangsungan mata pencaharian warga sebagai nelayan.
Ekskursi ini diharapkan menjadi dasar bagi pengambil kebijakan untuk memberikan perhatian lebih serius pada wilayah pesisir yang kini berada di ambang batas kemampuan untuk bertahan.
(Dayank Ana)
