Momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah kembali menyoroti tantangan klasik penanganan ketimpangan sosial di Indonesia, yakni ketidakmerataan penyaluran daging ibadah ke daerah pedalaman.
Menjawab persoalan tersebut, lembaga filantropi Islam melalui program Tebar Faedah Kurban Dompet Ummat mengambil langkah nyata dengan menyalurkan satu ekor sapi dan dua ekor kambing ke Dusun Semangkiling, Desa Bebatung, Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Penyaluran ini menjadi peristiwa bersejarah bagi warga mualaf setempat. Sejak mendiami kawasan pedalaman tersebut, masyarakat Muslim di Dusun Semangkiling belum pernah sekalipun merasakan prosesi pemotongan dan pencacahan hewan kurban secara langsung di lingkungan tempat tinggal mereka.
Fenomena tahunan Iduladha memperlihatkan bahwa pelaksanaan ibadah ini tidak sekadar ritual keagamaan, melainkan memiliki dimensi pemerataan distribusi kurban yang luas.
Baca Juga Peringati Harganas 2026, Karyawan Aston Pontianak Dampingi Anak Dhuafa Belanja Alat Sekolah
Selama ini, pasokan hewan kurban cenderung menumpuk di kawasan perkotaan karena melimpahnya jumlah pekurban (shahibul qurban) dan kemudahan akses logistik. Akibatnya, masyarakat di daerah pinggiran dan pedalaman kerap luput dari jangkauan.
Dusun Semangkiling sendiri merupakan salah satu kantong mualaf di pelosok Kabupaten Landak. Dari total 180 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami Desa Bebatung, sekitar 100 KK di antaranya merupakan pemeluk agama Islam.
Khusus di Dusun Semangkiling, terdapat 30 KK Muslim yang aktivitas keagamaan dan sosialnya berpusat di Musolah Al-Hijrah.
Musolah Al-Hijrah merupakan satu-satunya rumah ibadah umat Muslim di wilayah tersebut, yang bangunannya baru berhasil didirikan secara permanen dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga Data Pemkot: 72 Persen Pelaku UMKM di Pontianak Didominasi Perempuan
Keterbatasan sarana ibadah ini menjadi indikator kuat bahwa komunitas Muslim di pedalaman Mandor masih membutuhkan perhatian serta dukungan program sosial keumatan yang berkelanjutan.
Kehadiran program Kurban Dompet Ummat di Semangkiling menjadi pemantik bagi perubahan model distribusi kurban agar tidak lagi berpusat di perkotaan (urban-centric).
Secara psikologis dan sosial, kehadiran daging kurban di wilayah terpencil ini menghadirkan rasa diakui dan diperhatikan bagi masyarakat yang selama ini terpinggirkan dari arus bantuan sosial.
Perwakilan tokoh masyarakat Dusun Semangkiling mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas terselenggaranya ibadah kurban pertama di wilayah mereka pada Iduladha 1447 Hijriah ini.
“Selama bertahun-tahun kami hanya mendengar cerita kemeriahan kurban dari kota. Hari ini, anak-anak di Semangkiling bisa melihat langsung hewan kurban disembelih di dekat Musolah Al-Hijrah. Ini bukan sekadar tentang makan daging, tapi tentang rasa kebersamaan bahwa kami yang di pelosok ini tidak dilupakan,” ujarnya di sela-sela prosesi pemotongan hewan kurban.
Menariknya, pelaksanaan kurban di Dusun Semangkiling juga merefleksikan potret kerukunan dan keharmonisan sosial yang kokoh di tengah keberagaman suku dan agama. Setelah proses pemotongan selesai, panitia tidak hanya membagikan daging kepada warga Muslim, melainkan juga mendistribusikannya kepada warga non-Muslim di sekitar dusun.
Baca Juga Audiensi dengan Pertamina, Bupati Ketapang Fokuskan Pemenuhan BBM untuk Sektor Perikanan dan Kawasan 3T
Langkah inklusif ini diambil sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan atas hubungan bertetangga yang sangat baik selama ini. Berdirinya Musolah Al-Hijrah secara permanen pun tidak lepas dari dukungan penuh, gotong royong, dan toleransi yang ditunjukkan oleh masyarakat non-Muslim setempat.
Melalui pendekatan ini, esensi kurban bergeser dari sekadar ibadah vertikal (hablum minallah) menjadi instrumen horizontal (hablum minannas) yang ampuh untuk mempererat solidaritas, merawat kebinekaan, dan menjaga semangat hidup berdampingan di tingkat akar rumput.
Pendistribusian hewan kurban ke daerah minim akses seperti Semangkiling mempertegas pentingnya fungsi lembaga filantropi sebagai jembatan penuntas kesenjangan sosial. Dengan peta dakwah dan data kemiskinan yang akurat, lembaga sosial mampu mengarahkan amanah para pekurban ke kantong-kantong masyarakat yang paling membutuhkan.
Kasus di pelosok Kabupaten Landak ini menjadi refleksi bersama bagi seluruh pemangku kepentingan dan lembaga amil zakat. Ketika pemerataan distribusi kurban mampu menyentuh komunitas-komunitas kecil di pedalaman, dampak yang dihasilkan melampaui pemenuhan gizi tahunan.
Program ini terbukti mampu mengukuhkan aspek sosiologis, memberikan rasa keadilan, serta menegaskan bahwa perhatian pembangunan sosial harus merata hingga ke ujung batas negeri.
(Hendra)