Sab, 18/07/26 · 02.51.53
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Kalimantan Barat

Pesisir Kuala Karang: Perempuan yang Menopang Kehidupan dari Laut hingga Hutan

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Selasa, 5 Mei 2026 · 16:372 menit baca
Pesisir Kuala Karang: Perempuan yang Menopang Kehidupan dari Laut hingga Hutan
Dua perempuan warga pesisir Kuala Karang duduk di teras rumah mereka. Di balik keseharian yang tampak tenang, mereka adalah tulang punggung kedua yang menjaga dapur keluarga tetap mengepul. (Dok. Fatoni/Nusantara Post)

Sebelum matahari benar-benar naik, Kuala Karang sudah bergerak. Suara ayam jantan memecah keheningan, para nelayan bergegas ke laut, dan di daratan perempuan-perempuan pesisir memulai hari mereka dengan cara yang tidak kalah keras.

Di desa yang terletak di Kabupaten Kubu Raya ini, laut bukan hanya urusan para suami. Perempuannya pun punya peran yang tak bisa dianggap kecil.

Henderi, Kasi Kesejahteraan Desa Kuala Karang, menggambarkan keseharian perempuan di sana dengan lugas. Sebagian besar adalah ibu rumah tangga tapi di balik label itu, ada kerja panjang yang dimulai dari pinggir pantai.

“Mulai dari proses ikannya dibelah, dikasih garam, dijemur, hingga dipacking,” ceritanya saat ditemui Minggu (26/4/2026).

Dukung Swasembada, Kejati Kalbar Hadiri Panen Raya Ketahanan Pangan di Kubu Raya
Baca Juga

Dukung Swasembada, Kejati Kalbar Hadiri Panen Raya Ketahanan Pangan di Kubu Raya

Ikan asin yang sedang dijemur di pesisir Kuala Karang hasil olahan tangan perempuan desa yang membelah, menggarami, hingga menjemur ikan sebelum dijual ke pasar.

Tangan-tangan yang sama itu juga tidak berhenti di hasil laut. Ketika musim atau kondisi memungkinkan, sebagian perempuan beralih ke kerajinan tangan mengolah hasil hutan menjadi sapu lidi yang kemudian dijual ke pasar.

Ada satu rutinitas lain yang hanya bisa dilakukan saat laut sedang berbaik hati ketika air surut, perempuan-perempuan ini turun ke tepian pantai.

Tangan mereka mahir mengeruk lumpur untuk mencari tengkuyung, kijing, dan kerang. Bukan untuk dijual, tapi untuk meja makan keluarga.

Henderi tidak menutup mata soal kondisi mereka. Ia menyebut perempuan di desa ini masih jauh dari kata sejahtera — tapi semangatnya, kata dia, luar biasa.

Hari Jadi Ke-19 Kubu Raya, Kejati Kalbar Soroti Aspek Akuntabilitas Pemkab
Baca Juga

Hari Jadi Ke-19 Kubu Raya, Kejati Kalbar Soroti Aspek Akuntabilitas Pemkab

Henderi, Kasi Kesejahteraan Desa Kuala Karang, saat ditemui di pesisir Kuala Karang, Kabupaten Kubu Raya, Minggu (26/4/2026). (Dok. Fatoni/Nusantara Post)

“Kondisinya masih terbatas, tapi ibu di sini luar biasa kalau dari sisi semangat untuk berjuang hidup,” ujarnya.

Desa Kuala Karang sebenarnya sudah berupaya merangkul perempuan melalui pengajian, karang taruna, dan posyandu. Tapi Henderi tahu, itu belum cukup. Ia menaruh harapan besar pada pihak luar khususnya kalangan akademisi.

“Kiranya ada program untuk pemberdayaan perempuan yang ada di Desa Kuala Karang. Boleh kita lakukan kolaborasi dalam hal meningkatkan kapasitas pemberdayaan manusia yang ada di desa ini,” harapnya.

Di pesisir Kuala Karang, laut memang menjadi pondasi kehidupan. Tapi yang menjaga pondasi itu tetap kokoh, sebagian besar adalah perempuan yang bekerja dalam diam, dari fajar hingga senja.

(Dayank Ana)