Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terpaksa melakukan penataan ulang skala prioritas terhadap alokasi pembiayaan sektor olahraga domestik akibat keterbatasan instrumen anggaran daerah. Kebijakan rasionalisasi fiskal ini berdampak pada durasi pelaksanaan program pemusatan latihan atlet National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kalimantan Selatan yang semula dijadwalkan berakhir pada Agustus 2026.
Langkah taktis penentuan prioritas cabang olahraga prestasi tersebut mengemuka saat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Muhammad Syarifuddin meninjau fasilitas pembinaan di Mini Sport Center NPCI Kalsel, Banjarbaru, Kamis, 9 Juli 2026.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kalsel Pebriadin Hapiz memaparkan bahwa kondisi keuangan daerah menuntut eksekutif bergerak lebih selektif. Anggaran negara akan difokuskan secara rigid pada klaster cabang olahraga dan nama atlet yang memiliki indikator peluang medali tertinggi di level nasional maupun internasional.
“Pemerintah provinsi tentu tidak akan tinggal diam melihat perkembangan dan semangat para atlet dalam berlatih. Kami akan terus berupaya menyusun kembali skala prioritas agar pembinaan atlet tetap berjalan. Kami berharap pembinaan atlet NPCI tidak terputus, sehingga mereka tetap memiliki kesempatan mempersiapkan diri menghadapi berbagai kejuaraan yang akan datang,” ujar Pebriadin Hapiz, Kamis (9/7/2026).
Respons terhadap keterbatasan pembiayaan publik tersebut ditanggapi langsung oleh Sekretaris Daerah Muhammad Syarifuddin. Pihaknya memastikan usulan perpanjangan masa kontrak latihan hingga Desember 2026 akan ditinjau secara formal melalui koordinasi teknis bersama Dispora dengan menyesuaikan kapasitas ruang fiskal yang tersedia.
“Kami dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sangat mengapresiasi NPCI yang secara mandiri mampu membangun kompleks pembinaan ini. Di dalamnya tersedia mess atlet, tempat latihan, dan berbagai fasilitas lainnya. Ini merupakan bentuk komitmen luar biasa dalam membina atlet disabilitas. Kami bersyukur atlet-atlet NPCI Kalimantan Selatan mampu mengharumkan nama daerah hingga ke tingkat internasional. Mudah-mudahan atlet yang mewakili Indonesia nanti dapat meraih prestasi terbaik dan mengharumkan nama bangsa. Insya Allah apa yang telah disampaikan Ketua NPCI tadi sudah kami koordinasikan dengan Kepala Dispora dan akan kami tindak lanjuti sesuai kemampuan pemerintah daerah,” kata Muhammad Syarifuddin.

Mandiri Bangun Fasilitas Lewat Potongan Insentif Internal Organisasi
Defisit cakupan dana hibah dari pemerintah daerah selama ini memaksa pengurus organisasi olahraga disabilitas memutar otak. NPCI Kalsel menerapkan kebijakan pemotongan dana kontribusi internal yang dihimpun secara kolektif dari pelatih, atlet, dan asisten pelatih guna mendanai pembangunan infrastruktur secara mandiri di atas lahan seluas satu hektare.
Saat ini, kompleks tersebut mengoordinasikan program latihan intensif untuk 16 cabang olahraga, antara lain boccia, menembak, angkat berat, panahan, voli duduk, renang, tenis meja tunanetra, atletik balap kursi roda, catur, judo tunanetra, bulu tangkis, atletik nomor lempar, tenis meja, esport, atletik nomor lari dan lompat, serta sepak bola cerebral palsy (CP).
Ketua NPCI Kalimantan Selatan Sumansyah mengonfirmasi bahwa alokasi mandiri dari internal tersebut digunakan untuk menutup beban belanja modal yang belum terakomodasi oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Kami bersyukur dan berterima kasih karena Pak Sekda begitu antusias serta peduli terhadap atlet-atlet disabilitas. Kami berharap perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus meningkat demi kemajuan pembinaan atlet NPCI. Dana kontribusi tersebut kami gunakan untuk menutupi kebutuhan pembinaan yang belum terakomodasi melalui dana hibah pemerintah. Alhamdulillah hasilnya sekarang kami memiliki lapangan latihan, gedung, mess atlet, hingga lahan sekitar satu hektare yang nantinya akan dikembangkan untuk fasilitas kolam renang dan mini soccer bagi cabang olahraga disabilitas,” urai Sumansyah.
Sumansyah menegaskan perlunya kepastian perpanjangan waktu pemusatan latihan di Mini Sport Center guna mencegah penurunan performa fisik para atlet disabilitas sebelum masuk ke kalender kejuaraan utama pada akhir tahun.
“Kami berharap pembinaan tidak berhenti pada Agustus, tetapi dapat dilanjutkan hingga Desember agar proses latihan atlet tetap berkesinambungan. Alhamdulillah, Pak Sekda dan Pak Kadispora menyampaikan akan mengupayakan hal tersebut,” pungkasnya.
(Dayank Ana)