Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menyoroti munculnya tantangan baru dalam ekosistem digital berupa Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI) atau manipulasi dan intervensi informasi asing. Fenomena ini dinilai mengancam jurnalisme dan ruang publik karena operasinya dilakukan secara sistematis tanpa harus menunggu momentum politik seperti pemilu.
Dalam diskusi bertajuk “Melawan Disinformasi dan FIMI melalui Cek Fakta serta Literasi Digital” di Jakarta pada Rabu (10/6/2026), Wakil Ketua AMSI, Suwarjono, menyatakan bahwa disinformasi, misinformasi, dan hoaks kini telah membanjiri ruang publik secara instan akibat perkembangan teknologi digital yang belum diimbangi regulasi memadai.
“Dulu kami menemukan puncak persoalan ini saat pemilu. Tetapi sekarang disinformasi, misinformasi, dan hoaks membanjiri ruang publik tanpa menunggu momentum politik,” kata Suwarjono.
Senior Project Officer Asia Internews, Vino Lucero, menjelaskan kolaborasi bersama AMSI dilakukan untuk mendorong eksperimen konten cek fakta berbasis video di media sosial, sekaligus memperkenalkan isu FIMI yang relatif baru bagi publik Indonesia.
“Kami mencoba mendorong batas-batas yang ada dalam produksi konten cek fakta. Kami juga memikirkan bagaimana kolaborasi ini bisa dimanfaatkan lebih jauh, termasuk untuk memperkenalkan isu FIMI yang masih relatif baru,” ujar Vino.

Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, Fransiscus Xaverius Lilik Dwi Mardjianto, memaparkan bahwa istilah FIMI diperkenalkan oleh Uni Eropa pada 2021 untuk menggambarkan aktivitas manipulatif terkoordinasi oleh aktor asing guna memengaruhi persepsi publik. Ketika media kredibel mencoba bertahan dari banjir informasi palsu tersebut, mereka kerap menjadi sasaran serangan lanjutan.
“Ketika media kredibel tetap bertahan, mereka akan menjadi target berikutnya. Mulai dari serangan digital, doxxing, hingga ancaman fisik,” kata Lilik, seraya menambahkan bahwa tujuan akhir dari praktik ini adalah mengikis kepercayaan publik terhadap media.
Dampak dari pola gerakan ini dikonfirmasi oleh Co-founder dan Chief Editor Konde.co, Luviana Ariyanti. Ia membagikan pengalaman medianya yang mendapatkan serangan narasi sebagai “antek asing” pada 2025 setelah menerima dukungan pendanaan dari Media Development Investment Fund (MDIF). Serangan serupa juga menyasar media independen lain seperti Project Multatuli, Tempo, dan Remotivi.
“Kami melihat ada pola narasi yang terus berulang mengenai operasi asing. Belakangan kami memahami bahwa pola seperti itu bisa dibaca dalam kerangka FIMI,” kata Luviana.
Tantangan teknis di tingkat redaksi diakui oleh para peserta fellowship AMSI. Editor Dialeksis, Alfi Nora, menyatakan kesulitan terbesar adalah mengemas fenomena baru ini agar relevan secara domestik.
“Ketika kami mempublikasikan konten tentang FIMI, banyak pembaca yang bertanya, siapa sebenarnya aktornya di Indonesia?” kata Alfi.
Sementara itu, ilustrator Mojok.co, Dena Isni Pasha, menggarisbawahi rumitnya memisahkan FIMI dengan disinformasi biasa di lapangan, terutama pada platform seperti TikTok dan Facebook.
“Bahkan bagi media sendiri, mengategorikan suatu kasus sebagai FIMI atau bukan itu tidak sederhana. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjelaskannya kepada audiens,” kata Dena.
(Dayank Ana)