Musim kurban Iduladha 1447 Hijriah kali ini tampaknya tidak hanya sibuk dengan urusan fikih dan pembagian daging, tetapi juga menjelma menjadi panggung komedi politik yang melintasi batas negara. Entah karena kebetulan atau kekuatan algoritma media sosial, perhatian publik tiba-tiba terbelah antara seekor kerbau albino di Bangladesh dan ribuan sapi premium di Indonesia.
Di Dhaka, seekor kerbau albino berbobot 700 kilogram mendadak lolos dari pisau jagal setelah intervensi menit-menit terakhir dari Kementerian Dalam Negeri setempat. Alasannya unik: hewan itu memiliki jambul pirang eksentrik sehingga dijuluki “Donald Trump” oleh pemiliknya. Karena dianggap sebagai aset pariwisata dadakan dan memicu kerumunan massa, pemerintah Bangladesh memutuskan menyelamatkannya dari takdir sebagai hewan kurban.
Namun, jika di Bangladesh ada kerbau yang selamat karena menyerupai sosok mantan Presiden AS, di Indonesia situasinya justru terbalik. Di sini, perhatian publik tidak tertuju pada kemiripan fisik hewan, melainkan pada rombongan “Sapi Prabowo” yang jumlahnya fantastis: 1.098 ekor.

Tertibkan Administrasi Nasional, PWI Pusat Sosialisasikan Lima Peraturan Organisasi Baru
Saat “Kerbau Politik” Kalah Pamor dari Anggaran Istana
Secara satir, andai saja kerbau albino bernama “Donald Trump” itu bertamu ke Indonesia, ia mungkin akan minder melihat koleksi sapi kurban milik Presiden Prabowo Subianto. Jika sang kerbau di Bangladesh diselamatkan demi keamanan negara dan minat publik, sapi-sapi di Indonesia justru “dikorbankan” dengan sokongan dana yang membuat dahi mengernyit: Rp100 miliar.
Di sinilah letak ironi tertingginya. Kerbau di Dhaka viral karena nama dan penampilannya yang menyeret simbol politik global. Sementara di tanah air, nama “Prabowo” yang melekat pada ribuan sapi kurban justru memicu “kegaduhan kecil” di internal kabinetnya sendiri.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan kedapatan melontarkan jawaban spontan khas pejabat yang enggan pusing usai salat Id dilaksanakan di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
“Saya nggak tahu masalah itu. Saya cek, saya nggak tahu,” ujar Purbaya dengan santai saat ditemui awak media.
Resmi Terima Surat Kuasa, Hotman Paris Resmi Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Dalam Dugaan Korupsi
Sebuah respons yang memicu tawa getir, mengingat dana 100 miliar bukanlah jumlah yang kecil untuk luput dari dompet seorang bendahara negara. Menkeu bahkan melemparkan urusan penjelasan anggaran ini agar ditanyakan langsung ke Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg).
“Tanya Mensesneg. Saya rasa si uang mereka sendiri,” terang Purbaya, seolah menegaskan ada batas tegas antara dompet kementerian dan anggaran gaib yang mendadak muncul di musim liburan.
Metafora Dua Sisi Musim Kurban
Dinamika ini seolah menyajikan sebuah fabel modern bagi kita semua. Di satu belahan bumi, nama seorang politikus (Trump) berhasil menyelamatkan seekor kerbau dari kematian di hari raya. Di belahan bumi yang lain, nama seorang kepala negara (Prabowo) dipakai untuk melegitimasi penyaluran bantuan kurban raksasa, yang alokasi anggarannya sempat membuat bingung menteri keuangannya sendiri.
Pada akhirnya, baik kerbau “Donald Trump” di kebun binatang Dhaka maupun ribuan “Sapi Prabowo” yang tersebar di pelosok nusantara, keduanya membuktikan satu hal: di era digital, urusan ibadah kurban pun tidak bisa benar-benar lepas dari aroma panggung politik dan birokrasi yang jenaka.
