Jum, 12/06/26 · 03.42.33
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

DPR Ingatkan Pemerintah Antisipasi Dampak Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi terhadap Inflasi

Hendrawan
Hendrawan
Kamis, 11 Juni 2026 · 20:252 menit baca
DPR Ingatkan Pemerintah Antisipasi Dampak Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi terhadap Inflasi
Anggota Banggar DPR RI Cornelis meminta pemerintah berhati-hati dalam mengelola kebijakan harga BBM non-subsidi agar tidak memicu inflasi dan membebani daya beli masyarakat. (Dok. Ist)

Anggota Komisi XII sekaligus Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Cornelis, mengingatkan pemerintah untuk mengalkulasi dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi agar tidak menekan daya beli masyarakat. Kebijakan sektor energi dinilai perlu mempertimbangkan rantai dampak terhadap biaya logistik dan harga kebutuhan pokok.

Cornelis menyatakan bahwa pemerintah memang berkewajiban menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional serta menyesuaikan kebijakan dengan perkembangan harga minyak dunia. Namun, setiap keputusan yang berdampak langsung pada publik harus dilakukan secara cermat.

“Kenaikan harga BBM non-subsidi bukan hanya berdampak pada pengguna kendaraan pribadi. Efeknya dapat merambat ke biaya transportasi, distribusi barang, hingga harga kebutuhan pokok masyarakat. Karena itu pemerintah harus benar-benar memperhitungkan dampaknya secara menyeluruh,” ujar Cornelis di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (10/6/2026).

Mantan Gubernur Kalimantan Barat dua periode ini meminta transparansi dari pemerintah mengenai dasar pertimbangan penyesuaian harga tersebut demi menjaga kepercayaan publik. Selain itu, pengawasan ketat terhadap indikator ekonomi makro seperti inflasi dan biaya logistik harus ditingkatkan.

Kalimantan Barat Raih Dua Penghargaan Kemendagri Terkait Pengendalian Inflasi dan Pembiayaan Kreatif
Baca Juga

Kalimantan Barat Raih Dua Penghargaan Kemendagri Terkait Pengendalian Inflasi dan Pembiayaan Kreatif

“Jangan sampai kenaikan harga BBM memicu kenaikan biaya hidup yang lebih luas. Pemerintah harus hadir untuk memastikan stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi mengenai keterkaitan penyusunan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun 2027 dengan dinamika harga BBM non-subsidi, Cornelis menjelaskan bahwa arah kebijakan fiskal ke depan mengusung tema “Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat”.

Sebagai anggota Banggar yang terlibat dalam pembahasan tersebut, ia menekankan bahwa target pembangunan harus selaras dengan kondisi riil di lapangan.

“Jangan sampai demi mengejar target-target dalam KEM-PPKF 2027, rakyat justru menanggung beban yang semakin berat. Tema “Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat” harus dimaknai sebagai komitmen untuk menghadirkan pertumbuhan yang berpihak kepada rakyat dan kesejahteraan yang dapat dirasakan masyarakat, artinya permerintah harus mencari alternatif dan melakukan diversifikasi sumber pendapatan negara yang lebih terukur, jangan terus-terusan membebani rakyat,” paparnya.

Kekeringan dan Karhutla Meluas di Jawa-Kalimantan, BNPB Imbau Langkah Mitigasi
Baca Juga

Kekeringan dan Karhutla Meluas di Jawa-Kalimantan, BNPB Imbau Langkah Mitigasi

Lebih lanjut, Cornelis berpandangan bahwa regulasi energi nasional dituntut mampu menjaga keseimbangan antara keberlanjutan pasokan, stabilitas ekonomi, dan aspek perlindungan sosial.

“Kebijakan energi harus menjaga keberlanjutan pasokan, tetapi jangan sampai masyarakat yang menanggung beban secara berlebihan. Pertumbuhan dan kesejahteraan yang menjadi tujuan pembangunan nasional harus kembali kepada rakyat sebagai penerima manfaat utama,” tutup Cornelis.

(Hendrawan)