Sab, 27/06/26 · 08.19.16
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Dugaan Intimidasi Berujung Duka, Dokter Muda di NTT Wafat Usai Ketegangan dengan Anggota DPRD

Hendrawan
Hendrawan
Sabtu, 27 Juni 2026 · 13:022 menit baca
Dugaan Intimidasi Berujung Duka, Dokter Muda di NTT Wafat Usai Ketegangan dengan Anggota DPRD
Dokter muda Eliza Princila wafat usai diduga mengalami tekanan psikologis berat akibat bentakan dua anggota DPRD TTU di IGD RS Leona Kefamenanu. (Dok. Chaaaww/via X)

Kabar duka menyelimuti dunia medis Nusa Tenggara Timur setelah seorang dokter muda, Eliza Princila Utami Pakaenoni, dilaporkan meninggal dunia pada Jumat (26/6/2026). Wafatnya dokter yang akrab disapa Icha ini memicu sorotan tajam publik menyusul dugaan tekanan psikologis berat yang dialaminya pasca-insiden ketegangan saat ia bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Pihak keluarga dan rekan sejawat mengungkapkan bahwa almarhumah sempat mengalami ketakutan hebat setelah mendapat perlakuan kasar dari oknum pejabat legislatif daerah setempat.

Kronologi Bentakan di Ruang IGD
Peristiwa tersebut bermula ketika Eliza sedang bertugas menangani seorang pasien anak korban gigitan ular hijau yang dirujuk dari RSUD Kefamenanu karena keterbatasan fasilitas dan ketiadaan serum antibisa. Menurut keterangan Victor, paman korban, Eliza telah menjalankan seluruh prosedur penanganan sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit dan arahan dokter spesialis anak.

Namun, situasi memanas ketika pihak keluarga pasien mendesak pemberian jenis vaksin tertentu yang secara pertimbangan medis belum direkomendasikan. Tak lama kemudian, dua anggota DPRD Kabupaten TTU, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, mendatangi ruang perawatan.

Gara-gara Whoosh, Duit KAI ‘Menguap’ Rp4,4 Triliun dalam 2 Tahun
Baca Juga

Gara-gara Whoosh, Duit KAI ‘Menguap’ Rp4,4 Triliun dalam 2 Tahun

Alih-alih mendukung kerja tenaga medis di situasi kritis, kedua legislator tersebut menyampaikan protes dengan nada tinggi. Salah seorang di antaranya bahkan dilaporkan sempat menunjuk wajah Eliza di depan umum.

Akibat bentakan dan tekanan di tempat kerja tersebut, Eliza dilaporkan mengalami guncangan psikis yang mendalam hingga menangis saat masih menjalankan tugasnya.

“Eliza mengaku masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya,” ujar Victor.

Kondisi kesehatan Eliza terus memburuk hingga ia ditemukan dalam keadaan lemah di kediamannya. Ia sempat dilarikan untuk mendapat perawatan medis darurat, namun nyawanya tidak tertolong. Jenazah Eliza dimakamkan di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, pada Jumat malam dengan dihadiri ratusan pelayat yang berduka.

Kemarau Meluas, BNPB Laporkan Krisis Air Bersih di Jawa dan NTB Mendominasi Bencana Nasional
Baca Juga

Kemarau Meluas, BNPB Laporkan Krisis Air Bersih di Jawa dan NTB Mendominasi Bencana Nasional

Pembelaan dan Dalih Panik Anggota Dewan
Merespons gelombang kritik publik, dua anggota DPRD TTU yang terlibat dalam insiden tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi secara sengaja terhadap tenaga kesehatan.

“Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi,” klaim Therensius saat dikonfirmasi.

Therensius berdalih bahwa tindakan mereka dipicu oleh kepanikan luar biasa karena kondisi keponakannya yang terus memburuk akibat bisa ular, sementara mereka merasa belum mendapatkan penjelasan medis yang memadai dari pihak rumah sakit.

“Kami akui dalam situasi itu nada bicara memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan,” tandasnya.

Meskipun melayangkan bantahan terkait tuduhan intimidasi, pihak anggota DPRD tersebut dilaporkan telah menyampaikan permintaan maaf kepada pihak rumah sakit dan tenaga kesehatan yang bertugas atas kegaduhan dengan nada keras yang sempat terjadi di area steril IGD.

(Hendrawan)