Sab, 18/07/26 · 02.52.32
Nusantara Post

Indonesia New News Capital

Nasional

Laporan Kebencanaan Nasional: Tanggul Roboh di Poso Hingga Cuaca Ekstrem Deli Serdang

Dayank Ana Sebalu
Dayank Ana Sebalu
Minggu, 31 Mei 2026 · 20:402 menit baca
Laporan Kebencanaan Nasional: Tanggul Roboh di Poso Hingga Cuaca Ekstrem Deli Serdang
BNPB melaporkan kebakaran lahan mulai melanda Barito Kuala di tengah ancaman cuaca ekstrem. Simak pemutakhiran data banjir Poso dan kerusakan rumah di Deli Serdang. (Dok. BPBD Barito Kuala)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pemutakhiran data penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia periode Sabtu, 30 Mei hingga Minggu, 31 Mei 2026. Berdasarkan laporan mutakhir, rentetan bencana berupa luapan sungai akibat tanggul jebol, kerusakan permukiman akibat angin kencang, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus terjadi di tengah fase transisi cuaca nasional.

Tanggul Jebol Picu Banjir di Kabupaten Poso

Hujan dengan intensitas tinggi memicu luapan air Sungai Betalemba dan merobohkan struktur tanggul pada Sabtu, (30/5/2026) sekitar pukul 17.00 WITA. Insiden yang terjadi di Desa Betalemba, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah ini berdampak langsung pada 25 kepala keluarga.

Selain merendam 25 unit rumah warga, banjir luapan tersebut juga merusak satu ruas jalan utama dan melumpuhkan fasilitas pembatas sungai. Kondisi air dilaporkan mulai surut pada malam harinya sekitar pukul 19.20 WITA. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyatakan bahwa lapangan saat ini sangat membutuhkan intervensi alat berat untuk membersihkan material sisa banjir serta mendesak adanya pembangunan tanggul baru guna mengantisipasi banjir susulan.

Puluhan Rumah Rusak Akibat Cuaca Ekstrem di Deli Serdang

Di Provinsi Sumatera Utara, terjangan hujan lebat disertai angin kencang melanda wilayah Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang pada Jumat, (29/5/2026) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Fenomena cuaca ekstrem ini menyasar lima desa sekaligus, yakni Desa Bulu Cina, Kota Rantang, Desa Lama, Hamparan Perak, dan Sei Baharu.

Laporan Kebencanaan Nasional: Cuaca Ekstrem dan Banjir Bandang Landa Sejumlah Daerah
Baca Juga

Laporan Kebencanaan Nasional: Cuaca Ekstrem dan Banjir Bandang Landa Sejumlah Daerah

Dampak kerusakan dilaporkan cukup masif, dengan rincian:

  • Warga Terdampak: 61 kepala keluarga atau akumulasi 231 jiwa.

  • Kerusakan Infrastruktur: 4 unit rumah mengalami rusak berat, 19 unit rumah rusak sedang, dan 37 unit rumah rusak ringan.

Hingga Sabtu, (30/5/2026), sebagian besar warga terdampak dilaporkan mulai melakukan upaya perbaikan atap dan dinding rumah mereka secara mandiri, sementara BPBD masih melakukan proses verifikasi serta pemetaan bantuan di lapangan.

Tertibkan Administrasi Nasional, PWI Pusat Sosialisasikan Lima Peraturan Organisasi Baru
Baca Juga

Tertibkan Administrasi Nasional, PWI Pusat Sosialisasikan Lima Peraturan Organisasi Baru

Kebakaran Lahan di Barito Kuala

Sementara itu, sektor hidrometeorologi kering juga mulai memperlihatkan dampak di Provinsi Kalimantan Selatan. Kebakaran hutan dan lahan melanda Desa Sungai Raya, Kecamatan Cerbon, Kabupaten Barito Kuala pada Jumat, (29/5/2026) sore. Meskipun tidak ada korban jiwa, api sempat menghanguskan sekitar 1 hektare lahan sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh tim gabungan pada Sabtu, (30/5/2026).

Peringatan Dini Cuaca BMKG Empat Hari ke Depan

Berdasarkan analisis prakiraan cuaca, BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang tidak merata di berbagai pulau besar Indonesia. Sektor timur Indonesia, khususnya wilayah Papua Pegunungan, saat ini berstatus Siaga akibat potensi hujan lebat hingga sangat lebat.

Selain itu, potensi angin kencang yang berisiko merobohkan pohon dan fasilitas umum dipetakan rawan terjadi di wilayah Aceh, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

Rekomendasi BNPB: Masyarakat di kawasan rawan banjir didesak memantau pergerakan debit air sungai secara berkala untuk melakukan evakuasi mandiri sebelum terlambat. Bagi warga di wilayah yang mulai memasuki musim kering, dilarang keras melakukan pembakaran lahan secara terbuka guna mencegah perluasan titik api.

(Dayank Ana)