Lewati ke konten
Indonesia New News Capital

Budaya

Wujud Syukur Pascatanam Padi, Tradisi Adat Hudoq Kawit Dayak Bahau Digelar di Kutai Barat

Roska Putra
Roska Putra
Minggu, 1 November 2026 · 15:391 menit baca
Wujud Syukur Pascatanam Padi, Tradisi Adat Hudoq Kawit Dayak Bahau Digelar di Kutai Barat
Penari Dayak Bahau mengenakan topeng hudoq dan busana helai daun pisang saat upacara adat Hudoq Kawit. (Dok. Diskominfo Kutai Barat)

Pemerintah Kabupaten Kutai Barat mengapresiasi dan mendukung penuh pelestarian tradisi kebudayaan masyarakat adat melalui gelaran puncak upacara adat Hudoq Kawit di Kampung Tering Baru, Kecamatan Tering, Sabtu (31/10/2026).

Ritual tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat etnis Dayak Bahau ini merupakan tradisi turun-temurun yang digelar setelah masa tanam padi usai.

Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta dan para leluhur, Hudoq Kawit diyakini menjadi doa agar tanaman padi bebas dari hama serta mendatangkan panen melimpah.

Mewakili Bupati Kutai Barat, Staf Ahli Rustam menegaskan pentingnya menjaga kelestarian tradisi Hudoq Kawit agar tidak tergerus arus perkembangan zaman.

Diskominfo Kaltim Dukung Penguatan Keterbukaan Informasi Publik di Kutai Barat
Baca Juga

Diskominfo Kaltim Dukung Penguatan Keterbukaan Informasi Publik di Kutai Barat

“Ritual ini mempresentasikan permohonan doa, harapan, serta rasa syukur kita kepada Sang Pencipta dan para leluhur. Tujuannya agar setiap benih yang ditanam diberikan kesuburan, dijauhkan dari segala hama penyakit, serta mendatangkan hasil panen yang melimpah,” ujar Rustam membacakan sambutan Bupati.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Barat, Kamius Junaidi, membeberkan komitmen Pemkab untuk mendorong gelaran budaya masyarakat adat kawasan pesisir Mahakam ini agar dapat masuk ke dalam agenda rutin tahunan daerah.

Ketua Panitia Pelaksana, Kanisius Haran Jaang, menambahkan bahwa karakter spiritual Hudoq Kawit merefleksikan nilai gotong royong dan kesederhanaan.

Hal senada disampaikan Petinggi Kampung Tering Baru, Yulius, yang menyebut keunikan penggunaan topeng serta ornamen khas suku Bahau menjadi identitas budaya berharga yang siap diwariskan kepada generasi muda.

(roska)