Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis laporan komprehensif terkait perkembangan situasi dan penanganan bencana hidrometeorologi BNPB di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan data manifestasi bencana periode 5–6 Juni 2026, anomali cuaca membuat Indonesia mengalami dua status ekstrem sekaligus, yakni bencana hidrometeorologi basah (banjir dan cuaca ekstrem) di sebagian wilayah, serta ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring datangnya musim kemarau.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir bandang baru di Sumatra Utara dan Sulawesi, sementara titik api karhutla terus meluas di Sumatera bagian utara dan Sulawesi Barat.
“Kejadian baru pertama terjadi di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan banjir di beberapa wilayah dan berdampak pada 2.183 kepala keluarga atau 6.860 jiwa, serta mengakibatkan 1.992 unit rumah terdampak,” ujar Abdul Muhari dalam siaran pers resmi, Sabtu (6/6/2026).
Operasi kedaruratan di lapangan mencatat wilayah terdampak banjir Kota Medan meliputi Kelurahan Kwala Bekala (Medan Johor), Kelurahan Beringin (Medan Selayang), Kelurahan Aur dan Sei Mati (Medan Maimun), serta Kelurahan Besar (Labuhan). Tak hanya banjir luapan sungai, Kecamatan Medan Denai juga dihantam cuaca ekstrem yang merusak 13 unit rumah warga.
Baca Juga Ledakan Kapal Tanker Pertamina di Pontianak, 3 Orang Luka
Kerusakan akibat angin kencang dan hujan lebat juga meluas hingga ke Kabupaten Serdang Bedagai, di mana 20 unit rumah dilaporkan mengalami rusak berat di wilayah Kecamatan Perbaungan dan Sei Rampah.
“BPBD Kota Medan bersama unsur terkait melakukan asesmen, pemantauan kondisi lapangan, dan penanganan darurat bagi masyarakat terdampak. Hingga laporan ini disusun, banjir dilaporkan telah berangsur surut dan warga mulai melakukan pembersihan lingkungan,” jelas Muhari mengenai situasi di lapangan.
Selain di Sumatra, banjir baru juga menjerembabkan empat desa di Kecamatan Bukal, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, yang merendam 148 unit rumah dan berdampak pada 708 jiwa.
Sementara itu, penanganan banjir lama di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, yang terjadi sejak 18 Mei lalu, terpantau kembali mengalami eskalasi akibat jebolnya sejumlah tanggul.
Baca Juga Tiga Korban Erupsi Ditemukan, Jalur Pendakian Gunung Dukono Resmi Ditutup Permanen
Merespons situasi yang fluktuatif ini, otoritas pemerintah daerah setempat mengambil langkah memperpanjang masa penanganan hukum kebencanaan di wilayah terdampak.
“Pemerintah Kabupaten Luwu Utara masih menetapkan status tanggap darurat Luwu Utara hingga Selasa (16/16). Meskipun cuaca relatif cerah, hujan deras kembali menyebabkan genangan setinggi 10 hingga 40 sentimeter di sejumlah desa dengan enam titik tanggul jebol,” tambah Muhari. Sebanyak 110 jiwa dilaporkan masih tertahan di pengungsian dengan pasokan air bersih dari BBWS dan Dinas PU.
Di sisi lain, ancaman kemarau mulai memicu kebakaran hutan yang cukup masif. Di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, lahan seluas 6 hektare di Desa Sumare sempat hangus terbakar sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh tim gabungan. Namun, perhatian utama nasional saat ini tertuju pada akumulasi karhutla Provinsi Riau yang areanya terus bertambah luas.
Otoritas berwenang bahkan telah menetapkan masa siaga darurat dalam jangka waktu yang panjang untuk mempermudah mobilisasi bantuan helikopter water bombing dan personel darat.
“Berdasarkan data hingga Jumat (5/6), total luas lahan terbakar sejak 1 Januari 2026 mencapai 15.048,83 hektare. Pemerintah Provinsi Riau masih menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan yang berlaku sejak Kamis (13/2) hingga Minggu (30/11),” papar Muhari. Pada perkembangan terbaru, terdapat penambahan luas lahan terbakar sekitar 1,2 hektare yang masih diatasi tim lapangan.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, di mana total 95 hektare lahan hangus terbakar. Tim gabungan dilaporkan sukses memadamkan 88 hektare, dan saat ini sedang berjibaku melakukan proses pendinginan pada sisa titik api.
Baca Juga Tertimbun Pasir Vulkanik 50 Meter dari Kawah, Satu Korban Erupsi Gunung Dukono Ditemukan
Menyikapi dua potensi bencana yang berjalan simultan ini, BNPB meminta seluruh elemen daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan operasional.
Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, sejumlah wilayah masih berpotensi diterjang hujan lebat disertai petir, sementara wilayah lain mulai kering dan rawan terbakar.
Sinergi gerak cepat antara aparatur pemerintah, dunia usaha, dan kelompok relawan diharapkan mampu menekan potensi korban jiwa maupun kerugian material secara masif.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi maupun kebakaran hutan dan lahan. Kesiapsiagaan, deteksi dini, dan respons cepat seluruh unsur menjadi faktor penting dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana,” tutup Abdul Muhari.
(Hendra)